Selasa, 04 Mei 2010

ibu 2

Bahkan, kini seorang wanita tak perlu repot-repot mengandung bila ingin punya anak, karena mereka bisa menyewa rahim dari seorang wanita lain. Praktik ini disebut surrogate mother.

Menurut saya, bila peran ibu yang dimaksud adalah mendidik anak, ya, saya setuju bahwa itu disebut pilihan, itu adalah gender. Karena, kaum lelaki bisa saja mengambil peran ini. Namun bila dalam konteks melahirkan, menyusui, bahkan merawat anak, saya kurang setuju. Dua domain ini adalah kodrat bagi kaum wanita, bukan pilihan.

Anda boleh mengatakan saya kolot atau apa, namun saya hanya melihat akan ada pengaruh psikologis antar anak yang dilahirkan, disusui, diasuh oleh ibu sendiri, dari pada yang tidak. Karena punya anak, bukanlah sekadar berkembang biak, melainkan juga bertanggung jawab atas kelangsungannya, tak hanya konsep lahir seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, melainkan juga konsep batin, seperti kasih sayang.

Dalam hidup ini, bagaimanapun kesejatian, tak akan bisa tergantikan oleh kepalsuan.

Dari sini saya jadi teringat dalam episode Kick Andy, Mencari Akar di Luasnya Dunia. Episode ini mengisahkan, betapa gigihnya anak manusia mencari akar dirinya.

Kisah yang menyentuh ketika Kiyati, dipertemukan dengan orang ibu kandungnya, Mulyati. Kiyati, memang sejak masih usia 14 hari sudah diadopsi oleh warga negara Jerman.

Meskipun Kiyati sejak lahir tak menerima sentuhan sang ibu kandung, namun tetap saja mentalnya belum siap untuk bertemu ibundanya. Perlu waktu hingga belasan tahun untuk menyiapkan diri.

Hingga akhirnya pertemuan itu terjadi. Kiyati pun luruh, tak kuasa membendung air mata. Anak manusia ini telah menemukan akarnya.

Dari sini, kian meyakinkan kita bahwa kasih ibu memang tak ada bandingan, sungguh tak tergantikan. Dari sini, konsep bahwa menjadi ibu itu pilihan, luruh sudah. Menjadi ibu adalah kodrat, termasuk menjalankan peran sebagai ibu.

Menjadi ibu bukanlah pilihan, atau masuk dalam konsep gender. Alasannya, Mansour Faqih dalam bukunya, Analisis Gender dan Transformasi Sosial menulis, karena gerakan transformasi gender itu lebih merupakan gerakan pembebasan perempuan dan laki-laki dari sistem yang tidak adil.

Transformasi gender adalah upaya liberasi dari segala bentuk penindasan, baik secara struktural, personal, kelas, warna kulit maupun ekonomi internasional.

Bila merujuk dari definisi ini, pertanyaannya adalah, apakah menjadi ibu adalah buah dari ketidak adilan? Apakah menjadi ibu merupakan sebuah bentuk penindasan, struktural, personal, kelas, oleh sistem patriarki?

Saya rasa tidak. Menjadi ibu adalah peran mulia. Di tangannyalah masa depan anak bangsa dibina.
Sebagaimana yang ditulis Profesor Quaraish Shihab, yang amat bagus untuk kita renungkan bersama.

“Hormati wanita, karena ibu adalah wanita. Tak seorang lelakipun yang mampu melahirkan dan tak seorang anak Adam pun yang tak beribu, walau ada yang tak berayah.” Selamat Hari Ibu....

Rabu, 28 April 2010

Buku 1

Setiap orang pasti memiliki ungkapan menarik tentang buku. Yang sangat familiar adalah ungkapan almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Saking berharganya buku, sehingga dia mengatakan, ”Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan buku, dan orang gilalah yang mau mengembalikannnya.”.




Saya juga memiliki kenangan yang manarik bila berbicara soal buku ini. Dari mulai membuka persewaan mini, hingga akhirnya harus membeli versi foto kopian, untuk menambah perbendaharaan literatur saat kuliah dulu. Selain itu, bagi saya buku adalah kenangan persahabatan.

Saat SD berebut membaca kisah 25 Nabi dan Rasul, buya HAMKA. Selang di bangku SMP, mulai larut dalam kisah-kisah petualangan, Gullver hingga Tom Sawyer.

Berganjak ke SMA, mulai antre dipersewaan komik, melalap beratus seri kisah pendekar klasik China karya Asmaraman Khopinghoo. Sesekali diselingi novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, hingga catatan Anne Frank.

Hingga mahasiswa masih antre lagi di perpustakaan, baca The Art of Philosphy, The Art of War, The Art of Loving, Psikologi Komunikasi, buku-buku ”kiri”, buku-buku ”kanan”. Majalah dan koran, sudah tak terhitung lagi.

Hingga hari ini membaca buku-buku tasawwuf moderen karya Agus Mustofa, sekaligus bersahabat dengan penulis dan distributornya. Begitulah kesan saya dan saya rasa tiap orang memiliki kesan tersendiri yang beragam akan buku.

Keasyikan membaca buku ini adalah, imajinasi masih bebas merdeka mengembara, mereka-reka gambar apa yang cocok bagi kata-kata yang tengah dibaca. Penyair Prancis, Charles Pierre Baudelaire pernah menulis, bahagialah pikiran yang terbang seperti layang-layang pagi, dan memahami ”bahasa” bunga dan benda yang tak berbunyi.

Bukan seperti televisi yang kadang membatasi ruang nalar. Gunawan Muhammad pernah menulis di twitter-nya, TV adalah media perkasa: bisa membuat kebencian jadi fasih dan preman jadi pahlawan. Inilah mengapa, di negara maju televisi disebut sebagai candu yang berbahaya bagi generasi penerus.

Berbicara menganai buku, tentunya tak lepas kaitannya dengan kertas. Sebuah buku dasar-dasar Publisistik pernah membedah, bahwa dunia sudah seharusnya berterima kasih kepada Ts’ai Lun (Cai Lun), penemu kertas berkebangsaan Tionghoa pada tahun 105 Masehi.

Sebelum era ini, perpustakaan lebih banyak dipenuhi skroll ketimbang buku. Maklumlah, saat itu tulisan masih diukir dan dipahat dalam kulit kayu, bambu, hingga daun lontar (parkamen). Setelah revolusi yang memulai peradaban buku inilah, kemudian mengubah peradaban kitab suci, dan peradaban manusia modern.

Pada akhirnya, teknik pembuatan kertas tersebut jatuh ketangan orang-orang Arab pada masa Dinasti Abbasiyah yang memerintah antara 750-1258, terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi (abad ke-8).

Hingga muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya. Kertas masuk ke Eropa lewat Islam pada abad ke-11, sedangkan industri kertas masuk ke Itali dan Jerman baru awal abad ke-15, tujuh abad setelah kaum Muslim menggunakannya.

Perkembangan kertas yang kemudian menjadi buku ini, membuat ilmu peradaban Islam saat itu kian maju. Dalam sebuah catatan, ibu kota Abbasiyah, Baghdad, merepresentasikan kota-kota modern saat ini seperti New York, Paris, atau London di dalam peradaban Barat modern.

Cendekiawan muslim, Luthfi Assyaukanie Ph.D pernah menulis, Marshal Hodgson, penulis The Venture of Islam, mengatakan, Baghdad adalah bintang terang di semua gugus kota yang ada di planet bumi saat itu.

Di Baghdad kaum Muslim mencapai kejayaannya di mana berbagai aspek kehidupan mengalami artikulasinya secara sempurna. Islam Baghdad adalah Islam yang gemilang yang menandakan pencapaian agama yang dibawa Nabi Muhammad.

Bagdad di masa kejayaannya adalah kota rujukan bagi peradaban dunia saat itu. Kota-kota Islam lain yang mereplikasi Baghdad adalah Cordova, Granada, dan Sevilla di Spanyol di bawah kekuasaan Dinasti Umayah.

Sama seperti Baghdad, ketiga kota itu merupakan mercusuar peradaban Islam di zaman pertengahan. Tanpa Baghdad dan Cordova, agama Islam tetaplah sebuah agama padang pasir yang tidak menarik.

Buku 2

Kejayaan ini tak lepas kaitannya dengan banyaknya jumlah buku yang dihasilkan, setara dengan iklim membaca masyarakatnya.



Tak heran saat itu bermunculan para filusuf, ilmuan. Puluhan perpustakaan besar (maktabah) didirikan, termasuk Perpustakaan Baghdad yang diawasi langsung oleh khalifah. Selain karya-karya asing, buku karya ilmuan muslim sendiri juga ada di Perpustakaan Baghdad ini. Koleksi buku Perpustakaan Baghdad berjumlah 400 hingga 500 ribu jilid.

Verba valent, scripta manent. Kata-kata bisa hilang, tetapi tulisan tetap abadi. Dakwah yang palng abadi tetaplah dakwah melalui tulisan. Berkah buku tidak akan pernah berkekurangan.

Meskipun orang melirik pada dunia maya dengan perkembangan ternologi, membuat berbagai macam situs untuk mengabadikan pemikirannya, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan sebuah buku. Ia bisa menjangkau pikiran manusia kapan saja, dibaca di mana saja, dan mengubah diri pembacanya seketika itu juga.

Namun dunia kemudian meratapi peristiwa ketika Abbasiyah dihancurkan pasukanMongol (1258). Mereka membakar atau membuang ke koleksi buku Perpustakaan Baghdad ke Sungai Tigris.

Konon, ini adalah pemusnahan buku paling mengerikan dalam sejarah perpustakaan Islam. Tumpukan api unggun pembakaran buku Perpustakaan Baghdad konon menyamai ketinggian menara Masjid Agung Baghdad.

Ini adalah peristiwa terburuk dalam sejarah kepustakaan dunia, setelah peritiwa terbakarnya Ptolemies, perpustakaan besar di Alexandria di era kejayaan Romawi Timur, Byzantium.

Sedangkan sejarah percetakan buku di Indonesia dimulai pada tahun 1619 ketika pemerintah kolonial belanda menjadikan Batavia sebagai pusat kekuasaannya di Hindia Belanda. Namun perkembangan percetakan di daerah itu, dimulai dengan kedatangan misionaris Inggris, Medhurst, ke Batavia pada tahun 1828.

Ketika misionaris Amerika dan Inggris pindah ke China, pada tahun 1840-an, percetakan itu ditinggalkan di Singapura dan dimanfaatkan oleh Reverend Keasberry dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Penerbitan mereka berdua menghasilkan beberapa buku dengan iluminasi dan edisi yang mewah di zamannya.

Sebuah buku Roeman Pergaoelan mengisahkan, buku awal yang dicetak dalam bahasa Minangkabau adalah Malayan Miscellanies 1820-1822 dan Kaba Cindur Mata pada tahun 1904.

Malayan Miscellanies ditulis Dr W Jack dan terdiri atas dua volume. Volume I adalah syair dalam bahasa Melayu yang bercerita tentang perjalanan Raffles ke Minangkabau berjudul Account of a Journey from Moco-Moco to Pangkalan Jambi, Trough Korinchi in 1818. Kedua ditulis dalam bahasa Minangkabau setebal 8 halaman yang berisi undang-undang serta keturunan raja Moko Moko Inderapura Darat.

Penerbitan ini menjadi era baru percetakan buku di Sumatera, khususnya Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Sejumlah penerbitan di Sumatera Barat dan Sumatera Utara inilah yang memberikan sumbangan berarti bagi kehidupan sosial politik pada masa-masa pra kemerdekaan.

Melalui buku inilah, fungsi jurnalistik bagi masyarakat dapat dijalankan dengan maksimal, terutama dalam hal kritik sosial dan advokasi bagi masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan.

Pada akhir 1930-an sejumlah penerbit karya sastra di berbagai daerah mulai mengelola penerbitannya secara khusus. Roman mulai diterbitkan secara periodik. Dalam mengusahakan penerbitan karya sastra itu, para penggagasnya tetap mengusahakan terwujudnya cita-cita mereka terhadap kemerdekaan.

Hal itu diperlihatkan dengan keterlibatan mereka dalam organisasi pergerakan politik dan juga pandangan ideologi para pegiat penerbitan tersebut. Semangat nasionalisme menjadi sesuatu yang mendasari penerbitan karya sastra.

Hingga saat ini, buku selalu menjadi media penting untuk mencerdaskan masyarakat. Tak heran bila di negara-negara maju, budaya membaca tumbuh dengan hebatnya. Amien Rais pernah bercerita, betapa masyarakat Amerika sangat suka membaca. Hal ini juga sama dengan yang ada di Jepang. Tiada hari tanpa buku, bahkan saat antre hingga dalam kereta-pun masih membaca.

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Budaya membaca, khususnya buku, sulit ditemukan. Mahalnya buku, kadang selalu dituding jadi penyebab. Berbeda dengan India yang sangat murah dan mudah mendapatkan buku berkualitas.

Selain itu, kemauan pemerintah untuk menyediakan perpustakaan (sebut saja rumah baca) hingga ke daerah, juga masih kurang. Sehingga, minat baca masyarakat pun berkurang. Yang terpenting, peran ibu untuk menanamkan minat baca pada anak sejak dini. Jangan malah mengarahkan anak agar menonton televisi.

Ada sebuah kisah yang manarik untuk dipetik. Dulu ada anak buta yang rajin membaca, sehingga membuat dunia buku jadi terbuka bagi kaum tuna netra. Dimulai saat Kapten Charles Barbier, seorang perwira artileri Perancis yang mengembangkan tehnik ”membaca malam” menggunakan kertas yang diberi titik-titik timbul kombinasi 12 posisi pengganti alfabet.

Sistem ini selanjutnya dipelajari seorang anak buta umur 13 tahun yang ditugaskan di Institut Tuna Netra Kerajaan Perancis. Anak ini lalu merombak dan membuat sendiri sistem ”membaca malam” yang dapat digunakan dengan lebih mudah bagi tuna netra, hingga cuma diperlukan 6 posisi titik dalam sistemnya.

Alat yang digunakan untuk menulis dan menandai dalam sistem itu adalah jarum. Namun jarum juga yang dulu membuat anak muda ini buta. Anak buta itu adalah: Louis Braille.
Hikmahnya; selagi masih ”melek”, rajinlah membaca. Selamat Hari Buku Nasional.

Kamis, 01 April 2010

Allah Menyintai Orang-orang Salah

Tak enak rasanya jika kita punya kesalahan. Ada yang mengganjal, seperti ada semut masuk ke baju, apa-apa jadi tak tenang. Rasanya harga diri hilang, kewibawaan hancur, semua kebanggaan yang selama ini melekat jadi debu. Seakan diri menjadi bodoh dan nista dalam sekejap.


Karena inilah mungkin, banyak orang yang berusaha menghindar dari pertanggung jawaban atas kesalahannya. Ada dua jalan yang lazim ditempuh, mencari kambing hitan, atau melarikan diri. Keduanya sama-sama pengecut, cuma caranya saja yang berbeda.

Mungkin kita sudah kenyang melihat situasi seperti ini, di rumah hingga di tempat kerja. Biasanya, semakin tinggi status sosial (kekayaan dan kekuasaan) seseorang, akan semakin takutlah mereka untuk mengakui kesalahannya. Makanya ada ungkapan “boss tak pernah salah.”

Seorang kawan bercerita, betapa masygulnya dia ketika berbuat salah. Apalagi yang dia hadapi orang bermental durjana yang selalu menitik beratkan masalah pada keuntungan saja, sehingga apa saja yang dia sampaikan tak digubrisnya.

Padahal harga diri sudah pun dikorbankan, masih saja kurang. Rasa bersalahnya malah dijadikan modal untuk semakin menekannya. “Ya, mau apa lagi, terpaksa semua permintaannya saya turuti, dari pada mereka memutus hubungan dengan saya,” jawabnya.

Begitu ampuhnya rasa bersalah ini menjadi senjata untuk menekan, sampai-sampai pengacara Hotman Situmpul berpesan pada Akbar Tanjung, saat dia terlilit kasus dugaan korupsi beberapa tahun lalu, agar dia tak menundukkan wajahnya saat menghadapi penyidik. Karena, menurutnya, hal itu bisa dijadikan bukti bahwa kliennya itu benar-benar salah.

Jadi teringat kisah seorang teman. Nenak moyang bangsa Israel boleh dibilang hanya bisa berpikir bila melihat senjata di sampingnya. Maksudnya begini, Anda boleh punya tambang emas, namun orang masih bisa mencurinya, Nah, dengan punya senjata, jangankan pengusir pencuri, mengambil tambang emas milik orang lain pun bisa.

Semakin besar senjatanya, semakin besar pula tambang emas yang bisa dicuri. Dengan senjata inilah, kita bisa memelihara ketakutan orang di sekelilingnya. Kalau anak Palestina melawan dengan batu, mereka bunuh. Kalau melawan dengan bom molotov, mereka rudal kampung halamannya.

Inilah kiranya gambaran bila seseorang memelihara ketakutan orang untuk dijadikan senjata menekannya.

Karena itu, agama mengajarkan bahwa orang yang mau memaafkan itu lebih mulia dari pada yang meminta maaf. Bukan malah tambah menekan orang yang mau minta maaf.

Islam juga memandang, kesalahan berbeda dengan dosa. Meski sama-sama merusak, namun kadarnya jauh lebih ringan. Kesalahan (khata) adalah pembangkangan yang lahir dari ketidak tahuan atau keterpaksaan. Sedangkan dosa adalah pembangkangan terang-terangan atas larangan Tuhan.

Dalam sebuah hadis Allah berfirman, “Wahai Daud, sampaikanlah kabar gembira pada para pelaku dosa, dan peringatkanlah pada para pelaku kesalehan.”

Daud terheran-heran mendengarnya, “Bagaimana aku menyampaikan kabar gembira pada para pelaku dosa, dan memperingatkan para pelaku kesalehen?”

Allah menjawab, “Sampaikanlah kabar gembira kepada pelaku dosa, bahwa Aku menerima tobat mereka dan peringatkanlah orang-orang saleh agar mereka tidak bersifat ujub (takabbur), karena sungguh tidak ada seorang hambapun yang akan selamat jika aku mengadili perbuatan-perbuatan mereka,”

Kisah lain menyebut, Musa as adalah satu-satunya nabi yang dikaruniai kemudahan bercakap-cakap dengan Tuhan. Suatu hari di gunung Sinai, setalah melantnkan segala puji-pujian dia menyapa, “Ya Allah, wahai Tuhan orang-orang yang beramal baik! Ya Allah, wahai Tuhan orang-orang yang beribadah! Ya Allah, wahai Tuhan orang-orang yang berilmu! Ya Allah, wahai Tuhan orang-orang yang bertaqwa!”

Di akhir setiap sapaan itu Tuhan selalu menyapa balik, “Labbaik…” Tapi saat musa menyapa Tuhan dengan menyebut, “Ya Allah, wahai Tuhan orang-orang yang berdosa,” dia mendapat tiga kali sapaan balik, “Laibbaik… Labbaik… Labbaik..!”

Heran mendengar sapaan yang banyak itu, Musa bertanya, “Ya Allah, mengapa saat aku memanggil dengan sebutan ‘Tuhan orang-orang yang berdosa,’ Engkau menjawab ku hingga tiga kali?”

Karena orang yang berdosa, kata Tuhan kepada Musa, adalah hamba yang paling lemah dan paling tidak memiliki sesuatu yang dibanggakan. Sementara orang yang beramal baik, beribadah, berilmu dan bertaqwa, semua memiliki bekal sesuatu untuk dibanggakan.

Mereka memiliki bekal yang memadai untuk menghadap-Ku. (Karenanya) Orang-orang berdosa lebih Ku perhatikan dari pada yang lain, bila meminta ampunan-Ku, lantaran mereka adalah golongan hamba Ku yang paling membutuhkan rahmat dan kasih sayang-Ku.

Tuhan mampu menyayangi orang yang berdosa, apalagi hanya memiliki kesalahan. Tentunya, asalkan mereka mau bertobat dan memperbaiki kesalahannya.

Bila Tuhan saja memperlakukan seperti itu, tentunya kita, manusia, sebagai mahluknya, harus lebih mampu lagi. Karena dalam diri manusia itu bersemayam ruh Tuhan, yang tentu saja bisa menularkan 99 nama-nama terbaikNya (asmaul husna).

Kita tahu, malaikat tunduk kepada Adam ketika Allah meniupkan ruh-Nya kepada Adam. Setelah Allah menyempurnakan kejadian Adam sebagai seorang manusia. Dari sini bisa diambil kesimpulan, bahwa ruh itulah yang menyebabkan meningkatnya kualitas manusia, sehingga menjadikan para malaikat menghormatinya.

Ketinggaian zat yang disebut ruh itu, terlihat dari bagaimana Allah mengatakannya sebagai Ruh Ku.

Penggunaan kata “Ruh Ku” ini bukan ditafsirkan sebagai ruh Allah yang masuk dalam diri, melainkan ruh milik (ciptaan) Allah, meskipun di ayat lain Allah juga mengatakan sebagian dari ruh Ku, yang menggiring pada kita bahwa Allah menularkan sebagian dari sifat-sifatnya Nya kepada manusia lewat ruh itu.

Dengan ruh itulah manusia menjadi memiliki kehendak, berilmu pengetahuan, bijaksana, penuh cinta dan kasih, serta bagian-bagian sifat ketuhanan dalam skala manusia. Tuh adalah zat yang memiliki media penyampai sifat-sifat ketuhanan dalam kehidupan manusia.

Minggu, 28 Maret 2010

Hati-hati Baca Buku

Akhir-akhir ini saya banyak diceletuki rekan-rekan sekantor. "Wah, rajin baca sekarang ya..." Mereka berkata demikian, karena sudah tiga bulan ini buku selalu tak lepas dari tangan saya.

Selama ini saya memang sangat suka membaca. Lha wong, saya wartawan kok, gimana ceritanya kalau tak suka baca? Bukan hanya baca saja, menonton siaran berita pun sangat doyan, mulai politik hingga gosip.

Cuma bedanya, selama ini yang saya baca bukan buku, melainkan situs-situs, mulai forum komunitas, hingga berita real time di internet. Koran? Pasti dong.

Baru sekitar tiga bulan inilahj saya mulai sering membaca buku. Ini dipicu, ketika kantor tempat saya bernaung, mulai punya perpustakaan kecil. Sangat kecil malah. Koleksinya kurang dari 100 buku dan ini terus bertambah.

Di samping itu, karena saya saat ini tengah membukin perpustakaan mini di ruang lantai dua rumah. Ini adalah investasi, sebuah teladan untuk anak saya kelak.

Kepada istri saya berpesan, silakan dibaca buku ini, namun ingat berhati-hatilah. Karena kadang buku ibarat ular. Indah namun memiliki bisa yang mematikan. Buku itu ibarat ikan kembung, bila diolah (dibaca) dengan baik maka akan terasa nikmat, namun bila diolah sembarangan bisa beracun yang dapat menewaskan yang melalapnya dalam sekejap.

Untuk itu, ingatlah, sebelum membaca buku kita harus memiliki konsep diri yang matang. Seperti apakah konsep diri kita, sehingga saat nanti membaca hal-hal baru, hal tersebut bisa bekerja menyaring dan mendiskusikan apakah baik atau buruk untuk kita ambil sebagai kebenaran.

Buku, apapun itu bentuknya, selalu saja memiliki efek cuci otak. Bila tak waspada, narasi-narasinya akan menggiring kita untuk memercayai sesuatu yang kadangkala belum tentu benar dan bisa diterapkan di dunia nyata.

Belum lagi, kadang buku-buku tersebut dikarang oleh orang yang kurang kompeten. Sebuah milis mengungkap, ternyata para penulis buku-buku motivator itu banyak gagal di dunia nyata. Yang ini saya juiga punya pengalaman sendiri.

Saya kenal seorang motivator bisnis, sudah banyak buku yang ditulisnya. Namun tahu tidak, dalam kenyataannya ternyata dia orang yang gagal berbisnis. Usaha donat yang dirintisnya hancur. Maka itulah, dia kini mengais rezeki dengan cara menjadi motivator.

Nah, apa jadinya bila saya membaca buku-bukunya, yang ternyata ditulis oleh orang yang gagal. Gimana saya mau berhasil bila saya menerima tips dari orang yang gagal? Secara psikologis saja sudah tak masuk.

Jadi ibarat dukun yang mengatakan punya ilmu untuk membuat kaya orang dengan minta imbalan tertentu. Sementara dia miskinnya minta ampun. Kenapa dia tak bikin kaya dia dulu, baru bikin kaya orang lain?

Contoh lain, ada seorang kutu buku yang selalu saja dalam setiap sikapnya menyandarkan diri pada teori-teori dari buku yang dibacanya. Padahal, hal tersebut sangat kurang tepat dipraktikkan dalam kondisi yang dia hadapi saat ini. Akibatnya, selalu terjadi pergolakan dan penolakan di lingkungannya.

Belum lagi sifatnya yang cenderung memaksakan opininya sebagai sebuah kebenaran. Suka memotong pendapat orang lain, sehingga proses komunikasi jadi hancur. Sementara bila diberi amsukan, marahnya minta ampun. Jadi terkesan sok pinter gitu. Hal ini bisa mengarah ke kufur.

Jadi ingat pada orang zionis Yahudi. Mereka itu, baru bisa berpikir ketika melihat senjata. Maka jadilah, mereka dengan senjatanya menebar rasa takut. Orang-orang Palestina yang berunjuk rasa, dibalas dengan mematahkan kakinya. Bila ada yang melawan di bunuh. Luar biasa.

Dari sini, saya jadi teringat nasihat ayah saya, “Biasanya orang yang suka membaca, dia tak suka mendengar. Sebaliknya, orang yang suka mendengar dia tak suka membaca. Hal yang baik adalah, saat dia membaca dia mau mendengar, di saat dia mendengar dia mau membaca,”

Nasihat inilah yang selalu saya pegang sampai saat ini. Sehingga bila saya membaca buku, saya selalu melakukan komparasi di internal dan eksternal diri saya. Dan saat saya mendengarkan sebuah pesan, saya pun membandingkan dengan apa yang terjadi di internal dan eksternal diri juga. Sehingga saya bisa memetik hikmah yang terkandung di dalamnya.

Saya ingatkan lagi, wahyu pertama Allah pada Nabi Muhammad adalah “Bacalah, dengan nama Tuhanmu!”

Artinya, segala sesuatu itu harus dikembalikan kepada Tuhan, bukan untuk menentangNya. Maka dari itu, Rasulullah sebelum perintah ini turun, telah dibekali dulu benteng iman yang kuat, meskipun dia sendiri adalah orang yang buta baca tulis.

Jumat, 26 Maret 2010

Calon Gubernur Ku...

Belum lama ini saya bertemu pasangan calon gubernur / wakil gubernur Kepulauan Riau. Sebut saja Pak A dan B, karena saya tak enak menyebut nama. Takut nanti dibilang black campaign.



Dari pertemuan ini, kian kuatlah harapan saya semoga orang ini tak terpilih nantinya. Karena saya nilai akan rawan.

Alasan saya sederhana saja, Pak A ini orangnya sudah renta, jadi wajar staminanya agak terganggu. Sedangkan calon wakilnya, Pak B masih sangat perkasa. Saya sangat mengagumi wakilnya ini, seandainya dia mencalonkan diri sebagai Gubernur, pasti saya tak ragu memilik.

Namun karena hanya wakil, saya urung. Namanya wakil, ya tetap saja wakil. Tak ada beda, antara wakil gubernur dengan wakil kenek bus kota. Tak bisa ambil keputusan juga. Tetap aja jadi bayang-bayang sang pimpinan.

Posisi wakil memang selalu serba salah. Terlalu lemah, salah, terlalu powerfull juga salah. Bisa dibilang matahari kembar-lah, akan kudeta-lah, dan ini dia, pasti akan ditekan sama pimpinannya. Payah memang. Sehingga tak salah juga bila pakar Otonomi Daerah Ryaas Rasyid mengatakan agar posisi wakil kepala daerah ini dihapus saja. Banyak tak efektif.

Kembali lagi ke Pak A. Namanya juga orang tua, bikin kesal saja. Saat berbicara, suaranya susah ditangkap. Padahal jarak saya dan dia hanya kurang dua meter saja. Giliran saya yang bicara, dia malah sering berteriak, “Apa? Bagaimana? Tak jelas saya apa maksudnya?” Membosankan.

Dan ini yang bikin kesal. Pak A ini punya sifat selalu ingin dihormati, namun sulit sekali menghargai.

Dan sebagai seorang jurnalis, saya punya catatan khusus tentang pak A ini. Tiap kali ada masalah dengan media atau wartawan, cara yang ditempuhnya sangat tak elegan. Di tiap forum tempat dia berpidato. Maklumlah, Pak A ini masih pejabat aktif, jadi sering mendapat undangan acara resmi.

Di tempat itulah, dia menjadikan ajang pembantaian nama media dan wartawan yang dirasa menyerangnya. Begiotu terus, sepanjang pidatonya dia jelek-jelekkan. Padahal, tak ada kaitan dengan materi acara. Ah, kenapa tak melakukan hak jawab saja?

Dan yang paling menyebalkan, setelah menjelek-jelekkan itu, selalu ditutup dengan “kalimah saktinya”, “Mereka tak tahu, kalau Pak (dia menyebut nama bos media tersebut) adalah kawan saya sejak masih di bangkus ekolah,” ujarnya.

Akibat kelakuan Pak A ini, rekan saya, seorang jurnalis menjadi korban. Dia diberhentikan oleh perusahaannya bekerja, karena dinilai memelintir pernyataan Pak A. Pak A itu komplein di forum-forum, hingga membuat bos kawan saya malu.

Padahal saya tahu persis, rekan saya itu sudah menulis dengan benar.

Kembali lagi ke pertemuan ini, tibalah kesempatan Pak A membacakan visi dan misinya. Adugh, yang aneh-aneh aja dibuat. Dia bicara soal potensi kelautan dan semacamnya dan akan menarik investor.

Waduh, ngapain terlalu jauh, kenapa tak membicarakan soal listrik yang byar pet dan krisis air yang bikin warga sekarat saja?

Apalagi soal investasi, alah, kan sudah jelas kuncinya di FTZ yang hingga kini aturannya belum juga ditetapkan, sehingga investor masih ragu. Mestinya, dia desak aja tuh Menko Perekonomian sehingga FTZ bisa lancar.

Belum lagi soal investasi, bukankah saat ini era otonomi daerah, di mana pemerintahan Kota dan Kabupaten, memiliki porsi mengatur investasinya sendiri? Jadi banyak ditemukan, mereka sering mengambil investasi yang basah dan gemuk, sedangkan yang kering dikelbalikan ke provinsi.

Mestinya dia betrbicara bagaimana mengatur koordinasinya, bukan malah begini. Ah, dia mungkin berpikir saya (rakyat calon pemilihnya) tak paham soal ini, sehingga bisa dikibuli.

Hingga akhirnya ada kesempatan saya bertanya, kepada Pak A. “Pak, bagaimana Anda mau memimpin daerah ini, sedangkan stamina Anda menurun? Nanti di tengahj jalan Anda bisa dikudeta sama Pak B”

Dengan gusar Pak A, menjawab, “Ya, itu semua terserah Allah lah. Tak ada yang tahu nasib kita. Bisa jadi nanti kita dipanggi olehNya usai dari sini.,” jawabnya, yang lagi-lagi tak nyambung.

“Soal kudeta ini, saya sudah lama kenal Pak B. Dia tak akan melakukan itu,” jelasnya. Pak B pun hanya tertawa, lalu berkata, “Itu hanya black campaign saja, Mas,” katanya.

Kemudian ada juga pertanyaan, tentang lemahnya lobi internasional yang dimilikinya, sehingga akan sulit untuk menggaet investor.

Dia menjawab, bahwa pemimpin itu ya bagaimana memanfaatkan fungsi manajemen, seni menempatkan manusia. “Bila nanti saya tak mampu, kan bisa bikin tim-tim kecil. Bisa jadi merekrut Anda di dalamnya. Orang Jepang saja pakai bahasanya ke mana-mana juga bisa maju,” kelitnya.

Bener juga sih. Namun, bila terlaklu banyak membentuk tim, kan terkesan kurang bisa bekerja.

Si Apa di Belakang Mereka?


Saat ini, Kepulauan Riau dimeriahkan oleh pelilihan umum kepala daerah, mulai level kabupaten hingga provinsi
.


Terus terang, saya pribadi kurang begitu tertarik untuk membedah visi dan misi para calon itu. Bukannya mengatakan bahwa hal tersebut tak penting, namun kenyataan membuktikan bahwa kadang visi dan misi hanya dibikin sebagai gugur kewajiban para calon. Kalau mau menjadi calon kepala daerah, ya minimal harus punya visi dan misi.

Parahnya, kadang visi dan misi ini bukan karya orijinal sang calon, namun buah tangan dari para staf, tim sukses, atau perusahaan pencitraan. Jadilah visi dan misi saat ini tak lebih dari bagian teknik memasarkan sang calon. Visi dan misi tak ubahnya mirip iklan obat flu atau jamu masuk angin. Cuma bedanya, visi dan misi berdurasi panjang. Namun intinya sama saja.

Pertama masyarakat diperlihatkan akan ketidakberesan yang sekarang terjadi, lalu ujungnya ditutup dengan anjuran untuk memilih sang calon, sehingga semua ketidak beresan ini akan berakhir (sembuh).

Namanya juga iklan, makanya dikemas sangat menarik. Di dalamnya dimasukkan teknik pencitraan dan semacamnya. Mirip ungkapan Mister Crabs di film kartun Spoengebob, “The money is always right.”

Maka jangan heran bila terkadang dalam perjalanan kepemimpinan kepala daerah terpilih, antara visi dan misi dengan pelaksanaan berbeda jauh. Dulu janjinya begini, setelah duduk, kok begitu?

Jangan heran, semua ini adalah bagian dari sebuah proses manajemen: seni memanfaatkan tenaga manusia. Dengan manajemen yang baik, kepemimpinan akan lebih berwibawa.

Seorang calon hebat saat ini tak lagi diukur dari sederet titel yang dimiliki, karena bila ternyata tak jeli memanfaatkan tenaga terampil di sekelilingnya, maka tak akan berarti.

Tapi meski orang biasa saja, namun mampu menempatkan orang-orang terampil sesuai keahliannya, maka dia akan menjelma menjadi pemimpin yang hebat. Soal kekurangan, bisa mereka tutupi dengan membentuk tim yang tangguh yang siap memberikan saran hingga mengkonsep piodatonya.

Kembali lagi soal visi dan misi, bedasar uraian di atas itulah, saya tak terlalu tertarik membedahnya. Saya malah lebih tertarik mencermati siapa di belakang yang menyokong dana kampanye para calon itu.

Inilah yang lebih penting, karena merekalah nantinya yang sangat perkasa untuk mempengaruhi kepemimpinan sang kepala daerah kelak.

Sudah menjadi rahasia umum, untuk bisa maju menuju kursi kepala daerah dibutuhkan modal uang yang tak sedikit.

Sebuah partai politik yang masuk 5 besar saja mematok Rp15-hingga 20 miliar, untuk mendukung seorang calon yang nota bene bukan dari kadernya. Dengan asumsi satu kursi Rp250 juta. Ini baru satu partai, kalau banyak partai, tinggal kalkulasikan saja.

Belum lagi untuk membayar perusahaan pencitraan yang saat ini sedang ngetren, seiring popularitas presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kabarnya, perusahaan pencitraan ini mematok angka Rp12 miliar untuk menggarap pencitraan calon gubernur, sedangkan untuk wali kota Rp7 miliar.

Merekalah nantinya yang akan bekerja agar sang calon tampak sempurna. Baik dari sisi penampilan, motto, hingga visi dan misinya. Mereka jugalah yang nantinya mengemas iklan-iklan di media massa, sehingga masyarakat menjadi yakin untuk memilih calon yang dimaksud.

Ini baru yang sah, yang selanjutnya disebut political cost, belum lagi yang tak sah (bila memang ada) dengan apa yang disebut money politic, tentu akan lebih besar lagi. Bisa membuat kantong bengkak hingga ratusan miliar rupiah! Kian besar daerah dan jumlah penduduk, kian banyak juga dana yang dibutuhkan. Luar biasa memang.

Karena itulah, seorang calon memerlukan penyandang dana tadi untuk memberikan sokongan finansial yang kuat. Hal ini bisa dari perorangan, biasanya konglomerat, atau dari kelompok (grup).

Namun tentu saja, tak ada yang gratis. Karena biasanya mereka memeinta kompensasi agar sang pengauasa nantinya, mau menyokong semua rencana-rencana (baca: proyek) mereka baik yang akan atau sudah berlangsung. Dan, ini yang penting, mau menjadi tameng bila pekerjaan mereka bermasalah.

Di luar negeri, hal ini juga sudah umum diketahui. Tentunya kita sudah banyak mendengar bahwa beberapa presiden Amerika dana kampanyenya disokong oleh pengusaha minyak. Sehingga sempat berkembang kabar juga, invasi atas Irak sebenarnya bukan karena negara itu memiliki senjata pemusnah massal, namun untuk meraih kontrol atas minyak dan gas alam di sana.

Salah satu kelompok yang paling terkenal adalah Bilderberg Group. Ini disebut-sebut organisasi rahasia paling berpengaruh yang mengendalikan dunia saat ini. Organisasi ini berdiri pada tahun 1954, anggotanya adalah orang-orang paling berkuasa di dunia.

Mulai dari konglomerat kelas wahid meliputi bisnis media, keuangan, consumer goods, hingga para bangsawan Eropa, kumpul di sini. Di meja pertemuan kaum imperialis inilah, nasib Anda, keluarga Anda, bahkan anak cucu Anda ditentukan.

Sebuah buku karangan Daniel Estulin mengungkap sepak terjang organisasi ini. Menurutnya, hanya sedikit orang-orang terpilih yang diundang karena para anggota Bilderberg berpikir bahwa orang itu merupakan perangkat berguna di dalam rencana globalis mereka dan kemudian dibantu untuk meraih posisi yang kuat dalam pemilu. Namun bila orang yang terpilih itu gagal, maka akan disingkirkan.

Contoh yang paling dramatis dari "rekrut berguna" ini adalah Gubernur Arkansas yang tak populer, Bill Clinton yang diundang menghadiri pertemuan rahasia Bilderberg pertamanya di Baden-Baden Jerman, 1991.

Saat itu anggota inti organisasi ini, David Rockefeller mengatakan pada Clinton mengapa North America Free Trade Agreement (NAFTA) adalah prioritas Bilderberg, untuk itu mereka membutuhkan Clinton untuk mendukungnya.

Setahun kemudian, Clinton terpilih sebagai persiden Amerika, dan dialah yang menjadi pendukung kuat NAFTA!

Sepak terjang Bilderberg Group tak hanya bermain di tataran pemimpin Amerika saja, namun juga negara kuat di Eropa, seperti Inggris, Italia, hingga Prancis. Bahkan mereka juga masuk menentukan para pemimpin pakta militer, seperti North Atlantic Treaty Organization (NATO/Pakta Pertahanan Atlantik Utara) .

Mereka lah yang diduga di balik kemenangan Tony Blair (PM Inggris/1997), Romano Prodi (Presiden Eropa/1999 kemudian menjabat PM Italia 2006), hingga George Robertson (Sekjen NATO).

Lalu apa tujuan organisasi ini? William Shannon pernah mengatakan, Bilderberg sedang mencari era pascanasionalisme: era ketika kita tidak memerlukan negara, tapi hanya wilayah-wilayah di bumi yang dikelilingi oleh nilai-nilai universal.

Itu berarti ekonomi global, pemerintahan satu dunia (yang diseleksi), bukan dipilih melalui pemilu) dan agama universal.

Untuk menyakinkan diri sendiri dalam meraih sasaran-sasaran ini, Bilderberg berfokus pada "pendekatan" teknis yang lebih besar dan kurangnya kewaspadaan sebagai wakil dari khalayak umum.

Saya sendiri kurang tahu apakah pengaruh Bilderberg Gruop ikut bermain dalam menentukan siapa calon kepala pemerintahan di sini, namun demikian praktik ala organisasi ini sudah kita ketahui bersama.

Seperti yang saya singgung di atas, bukan rahasia lagi ada kelompok dengan finansial kuat, menjadi penyandang dana kampanye calon presiden, calon gubernur, hingga bupati/wali kota di negeri ini.

Yang paling heboh, apa yang terjadi saat Wakil Gubernur Riau Wan Abubakar melakukan perang terbuka dengan Rusli Zainal, Gubernur Riau, pasangannya sendiri, di akhir masa jabatannya tahun 2008 lalu.

Dia mengungkap bahwa Rusli Zainal tak berdaya menolak keinginan beberapa pengusaha, karena mereka nota bene telah membantu dana kampanyenya hingga puluhan miliar rupiah. Praktik seperti ini (membantu dana kampanye dengan deal-deal tertentu) juga terjadi di daerah lain, cuma tak ada yang berani mengungkapkan saja.

Saya menyambut baik bahwa saat ini sudah ada peraturan bahwa calon kepala daerah harus melampirkan surat keterangan bila mereka berutang. Namun, alangkah lebih baiknya bila ada audit dulu dana kampanye mereka, khususnya siapa yang mendanainya.

Kalau ini dinilai tak keburu, para calon harus terbuka mengatakan siapa penyandang dana kampenyenya, sehingga masyarakat bisa menentukan pilihan dengan baik.

Sebab, bila di belakang mereka orang-orang "berhati mulia" tak masalah, namun bila penyandang dananya ternyata seorang konglomerat hitam, tentu akan bahaya. Yang lebih bahaya lagi, bila dana kampanye itu ternyata hasil korupsi.

Ujung-ujungnya, rakyatlah yang menjadi korban.

Yakinlah, bahwa tak akan tercipta pemerintahan yang bersih bila sumbernya sudah kotor.