Senin, 11 Februari 2013

Berbincang dengan (ex) Presiden PKS

Saya berjumpa dengan Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq, pada tanggal 24 Januari, tepat seminggu lalu. Hari itu, hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW. Lutfi datang berkunjung ke Batam Pos dalam rangkaian Safari Dakwah di Batam.
Lutfi datang disertai beberapa petinggi PKS, pusat dan daerah. "Assalamualaikum ustad," sambut saya di depan pintu ruang redaksi. lutfi pun menyambut dengan senyum, "Walaiakum salam," balasnya. Suaranya berat, namun pelan.
Penampilan Lutfi saat itu sangat bersahaja. Berbaju koko putih dengan celana kain hitam, khas warna kebesaran PKS. Yang unik selain senyumnya, adalah uban yang ada di rambutnya yang bagi saya sangat khas.
Berbeda dengan uban orang kebanyakan yang tersebar merata, Uban Lutfi itu "kompak" berkumpul tepat di atas dahinya. Ini mengingatkan saya pada "uban lokal" presenter lawas Koes Hendratmo yang hanya berada di sisi kanan dan kiri kepala, tepat di atas telinga.
Seperti umumnya tamu saat berkunjung ke redaksi, saya memperkenalkan tentang apa dan siapa Batam Pos. Sejenak, Lutfi kagum melihat deretan award yang berderet rapi di ruang redaksi.
Sayapun menjelaskan satu persatu award yang berhasil di raih Batam Pos tersebut, di antaranya Adi Negoro, Muchtar Lubis Award dan Adiwarta Sampoerna. "Hanya Batam Pos koran lokal yang berhasil menyabet aneka penghargaan tertinggi di bidang jurnalistik, pak," sebut saya.
Lutfi pun mengangguk kagum. Saya lihat pupil matanya agak menajam, tanda serius menyimak. Kemudian "sang presiden" dan rombongan saya ajak ke ruang redaksi, melintasi beberapa meja bulat tim redaktur pelaksana yang juga saya terangkan satu persatu.
Tiba di ruang rapat tedaksi, Lutfi saya persilakan ambil posisi centre. Kami pun saling mengenalkan "rombongan" masing-masing. Semula saya, kemudian giliran Lutfi.
Meski badannya tegap, namun suaranya berat tapi lembut, sehingga saya perlu menajamkan telinga untuk menangkap pesan yang dia sampaikan.
Sepanjang diskusi Lutfi sangat open mind dan santun. Pengetahuannya luas, mendekati apa yang dibilang ilmuan renaissance sebagai "homo universale".
Tak pernah sekali pun dia memotong pembicaraan atau sok tahu. Bila ada pertanyaan yang kurang difahami, dia memilih diam sembari meminta agar dijelaskan.
Situasi yang mengarah kaku ini, membuat saya putar otak melontarkan homor-humor kecil agar suasana cair. Syukurlah ini berhasil. Dari sini pula saya baru tahu bahwa Lutfi juga humoris.
Pembawaannya yang tenang membuat dia mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Bahkan pertanyaan yang bernada menyerang pun, dia tanggapi dengan sangat bijak. Seperti saat saya bertanya tentang maraknya stigma negatif orang terhadap PKS saat ini.
"Ini berat bagi PKS untuk merebut posisi 3 besar di 2014 nanti," cecar saya. Lutfi hanya senyum lalu menjawab. Itu menandakan harapan masyarakat terhadap PKS sangat besar. "Mereka tak ingin kami salah. Maka itu akan jadi sensor bagi kader PKS untuk hati-hati," jelasnya.
Tentang maraknya anggota DPR yang "arisanan ke penjara" akibat mahalnya ongkos politik ke parlemen, Lutfi juga menjawab bahwa setiap kader diminta mandiri. Maju dengan biaya sendiri. Namun bila tak bisa maka akan dibantu, "urunan".
"Kalau yang lain-lain arisan masuk penjara, kalau kami arisan sebelum masuk penjara. Sehingga membuat kita bebas dari penjara. Karena kalau kita yang bermasalah, langsung minta berhenti dan digantikan yg lain. Kalau jadi beban, mundur," tegasnya.
Terkait jabatan, bagi Lutfi bukan hal yang harus diagungkan. Amanahlah yang harus dijaga lebih dari segalanya. "Kapanpun saya siap bila hari ini diminta meletakkan jabatan sebagai presiden PKS. Lha wong saya dipilih pun tanpa sepengetahuan saya kok," jelasnya.
Lutfi berkisah, kala itu dia di Turki bersiap ke Belanda. Tiba-tiba ditelepon dari Jakarta, diminta berangkat ke Jakarta. Terpaksalah dia beli tiket baru. Sesampainya di DPP PKS, Jakarta hari sudah malam, sekitar pukul 23.00.
Tahulah dia saat itu baru digelar pemilihan presiden PKS. Belum hilang kebingungannya, tiba-tiba ada yang menyalami sembari berucap, "Selamat, ente gantikan Tifatul (Tifatul Sembiring, presiden PKS terdahulu)". Demikian kisah Lutfi.
"Jadi kalau sekarang jabatan saya mau diambil, ya silakan saja. Karena bukan jabatan yang penting, tapi bagaimana selalu berjuang dan melayani rakyat," jelasnya.
Yang lucu saat saya bertanya bagaimana agar calon legislatif dari PKS. Lutfi pun tertawa terkekeh. Menurutnya, PKS memilih kader untuk di-calegkan melalui penyaringan ketat. Track record dan pengabdian ke masyarakat akan jadi pertimbangan utama. Jadi tak hanya modal beken.
Setelah duduk di DPR pun, sedikitnya gaji mereka Rp20 juta harus disumbangkan ke perjuangan PKS. Intinya, kader PKS akan sulit untuk mendapat reward financial, malah harus memberi kontribusi untuk perjuangan. "Mau jadi caleg ya? He he he," selorohnya.
Diskusi terus mengalir cair, hingga akhirnya ada seorang menyela lembut "Pak..." Katanya sambil menunjuk ke jam tangannya. "Sudah waktunya ya?" tanya Lutfi. Rupanya dia harus segera bertemu dengan kader PKS Batam yang telah menunggu.
Sayapun harus tahu diri untuk segera mengerem pertanyaan. "Nah, benar kan, perlu 1001 malam untuk membedah PKS," canda saya, yang dijawab dengan koor tawa.
Kemudian pertemuan ini ditutup dengan foto bersama sambil berbagi cindera mata. Saat itu Lutfi berujar pada saya, "Ayo foto dengan saya, biar nanti jadi anggota dewan," katanya, menebar tawa. O... Rupanya dia masih teringat pertanyaan saya tadi. ***

Diskusi Asyik bersama Dik Doang

Azan Maghrib usai berkumandang dari Masjid Raya Batam, saat Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denada Kusuma, sebut saja Dik Doank, bertandang ke ruang redaksi Batam Pos, lantai II Graha Pena Batam Center, Sabtu (9/2).
Mengenakan pakaian ala penyanyi hip-hop, sweater hitam, celana jins, topi sebo hitam, plus kacamata frame tebal, Dik akrab menyapa awak redaksi yang tengah sibuk “memasak” berita. Kedatangan Dik ke Batam Pos diantar Sugeng Riyadi selaku Sekretaris Umum Forum Kumunikasi Alumni ESQ Kepri, beserta Ketua Harian Gema 165 Kepri Ray Marciano, dan anggota ESQ Kepri Dewi Anggraini.
Dik ke Batam memang atas undangan FKA ESQ Kepri, dalam acara Konvoi Spiritual Asmaaul Husna 11 se Kepri yang digelar pagi ini, sekitar pukul 07.00-09.00. Konvoi ini mengambil start dari Masjid Raya dan finish di gedung Lembaga Adat Melayu, Batam Center.
Rutenya, lanjut Sugeng, mulai dari Masjid Agung Batam, menuju simpang Kabil Kepri Mall, kemudian Batuaji, Basecamp Sagulung, tembus Seiharapan, Tiban, Simpang Baloi, kemudian belok ke Batuampar, dan akhirnya menuju Gedung LAM lewat Seipanas.
Selain Dik, konvoi ini juga diikuti trainer ESQ dan dimeriahkan beberapa klub otomotif. Selanjutnya, pukul 09.00 hingga selesai, Dik dijadwalkan menjadi pembicara sebagai praktisi pendidikan anak yang diselenggarakan di gedung LAM.
“Mari silakan,” ujar Wapemred Batam Pos M Riza Fahlevi, telapak tangannya mengarah ke ruang rapat redaksi. Namun ajakan itu tak berbalas. Perhatian Dik terfokus pada rak yang memajang aneka award yang berhasil diraih Batam Pos. Riza-pun “balik kanan” menemani Dik berbincang tentang award-award itu. “Itu kami berhasil menyabet penghargaan tertinggi di bidang jurnalistik di Indonesia. Di antaranya Adinegoro, Muchtar Lubis dan Adiwarta Sampoerna,” jelas Riza.
Selanjutnya, Dik mengambil kursi, lalu duduk di meja redaktur yang saat itu sedang kosong. “Kalau begitu, sekalian saja jadi redaktur tamu,” ujar Riza, sembari menarik Dik duduk ke meja redaktur Metropolis yang saat itu sudah selesai di layout.
Dik-pun menyambut riang. Candaan-candaan segar pun meluncur dari artis yang tahun 1997 lalu tenar dengan lagu Pulang itu, sehingga suasana redaksi cair dan segar. Tiba-tiba dia berdiri, “Eh, selamat hari wartawan, ya... Hari ini kan? (Maksudnya Hari Pers Nasional, 9 Februari),” ujarnya sembari menyalami awak redaksi satu-persatu. Dan, tawa membahana.
Sebagai artis, Dik sangat dekat dengan wartawan. “Anda khalifah melalui pena. Anda bisa mengubah sejarah, Anda bisa mengubah Indonesia dengan ujung pena,” jelasnya. Namun, Dik sedikit menyentil akan bahaya gibah yang marak dipertontonkan di infotainment saat ini.
Menurutnya, orang yang membicarakan orang lain tanpa kebenaran, maka tak punya jati diri, karena sibuk ngurusin orang lain. Yang memprihatinkan, yang mengkonsumsi infotaintmen itu kaum ibu.
“Ibu-ibu itu sumber cinta yang mendidik anak. Ibu-ibu itu kerjaannya dua; mendidik anak dan mengurus suami. Tapi jam kerjanya 24 jam. Makanya saya ingin membangun perguruan tinggi untuk ibu-ibu,” ujarnya serius.
Berbicara tentang dunia pendidikan yang kini digelutinya, Dik pun berubah serius. Seperti diketahui, di tempat tinggalnya, di kawasan Jurangmangu, Ciputat, Tangerang, pria kelahiran 21 September 1968 tersebut mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak kurang mampu yang sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Sekolah bertema alam tersebut diberi nama “Kandank Jurank Doank”. Sekolah yang berawal dari keprihatinan Dik terhadap keterpurukan nasib pendidikan sebagian anak-anak Indonesia.
Wawasan Dik tentang dunia pendidikan ini sangat luas. Namun, Dik mampu menerangkan sistem pendidikan yang rumit menjadi sangat sederhana, penuh makna dan mudah dicerna.
Seperti bagaimana Dik menyampaikan gagasannya tentang Kurikulum Asmaul Husna (99 Nama-nama indah Allah). ”Ajari anak-anak itu pengasih (Ar-Rahman), ajari dia Al-Malik (jadi pemimpin), Al-Kuddus (yang suci), As-Salam (mensejahterakan),” jelasnya.
Selanjutnya, lanjut Dik, didik anak-anak menjadi Al-Mukmin, orang yang dimanapun berada selalu menyenangkan orang lain, karena kehadirannya tak pernah menggores perasaan orang lain, tak pernah mengambil jabatan orang lain, tak pernah mengganggu kedudukan orang lain, bahkan darah yang mengalir pun tak kotor. “Kalau dia tak ada, maka tak tergantikan,” urainya.
Kemudian, Muhaimin (Yang Maha Memelihara) serta Al Aziz (Yang Perkasa). “Kita harus kuat. Bila dihina kita mendoakan, dipuji balas memuji. Hak dipuji kan Dia (Tuhan), kok kita dikritik marah?” jelasnya. Kemudian Al-Jabbar Yang Maha Memperbaiki, tak merusak. Dilanjutkan Al-Mutakabbir Yang Maha Megah.
Dari sini kemudian Dik menyentil kurikulum pendidikan saat ini yang menurutnya tak melihat ke depan. Mestinya kita harus mendidik anak-anak kita sebagai bangsa pencipta dan penemu, bukan bangsa menjiplak dan peniru. “Kalau begini, nanti bakal ada tsunami yang lebih dahsyat dari tsunami Aceh, yakni gelombang pengangguran akibat kebodohan di mana-mana,” jelasnya.
Dik mengingatkan betapa dahsyatnya konsep pendidikan yang diajarkan Ki Hajar Dewantoro. Yang pertama Ki Hajar Dewantoro mengajarkan “cipto”. Mencipta dulu, bukan calistung (baca tulis dan hitung).
Ki Hajar pun menamakan tempat belajarnya “Taman Siswa”, bukan “sekolah siswa”. Karena orang bisa belajar di mana saja. Sedangkan sekolah, masuk kelas. Bukan hanya raga, tapi pemikiran tersekat. Jadi jangan harap anak-anak menjaga lingkungan. “Kita harus meloncat. Kalau kita mundur, itu harus dengan alasan karena kita ingin meloncat. Kalau kita melangkah harus maju,” falsafahnya.
Selain mengurai Asmaul Husna melalui kurikulum, Dik juga mengurai nama indah Allah itu melalui bola. Menurutnya, olahraga bola itu ciptaan Allah. Mengapa? ”Pemain bola ada berapa? 11. 11 itu Al-Khaaliq (Maha Menciptakan). Dalam bola harus menciptakan gol,” terangnya.
Dik melanjutkan, bila dua kesebelasan digabung maka berjumlah 22, Al-Khaafiz (Maha Merendahkan). “Semua yang jadi bintang di lapangan harus rendahkan hati. Jangan jumawa saat mencipta gol,” sarannya.
Selanjutnya, dalam bola ada 45 menit, itu merujuk pada Al-Waasi’ (Maha Luas). Bola ini tayangan paling luas, penontonnya pun paling bayak. Selanjutnya 45 ditambah 45 jadilah 90, Al-Maane (Maha Melarang). Maksudnya bila sudah ke menit 90 maka harus berakhir.
“Nah sekarang nomor berapa yang paling dicari pemain bola? Nomor 10, Al-Mutakabbir (Maha Memiliki Segala Keagungan). Kalau mainnya tak megah, maka tak bakal pakai nomor 10. Maradona pakai, Messi juga pakai,” urainya.
Yang terakhir, tentang kiper yang bernomor 1. Menurut Dik, semua di dunia ini menuju ke nomor 1, Tuhan yang esa. Demikian Dik, dia menempuh jalan sangat serius tapi dengan cara yang santai. ***

Film Batam

”Uni Soviet itu runtuh oleh aksi Rambo.” Begitulah olok-olok yang dulu sempat tenar. Namun boleh jadi olok-olok ini benar adanya, karena begitu kuatnya pengaruh film dalam masyarakat. Bukan rahasia lagi bila pengaruh Amerika ikut terdongkrak oleh film-film yang mereka produksi.
Film bagi Amerika saat ini bisa juga menjadi senjata untuk propaganda, melemahkan mental musuh sebagaimana Al;exander Agung dulu lakukan dengan teknik ”getok ular”, atau Hitler dengan segala macam slogan dan film pendeknya.
Ah itu urusan politik, jangan sangkal juga bahwa film juga berperan dalam memperkenalkan nama atau budaya sebuah negara atau daerah. Sebut saja pariwisata.
Pernah mendengar nama Gunung Tongariro? Mungkin tak banyak yang tahu. Namun saat ditanya, tahu Gunung Lord of The Ring? Semua akan paham.
Ya, Gunung Tongariro di Selandia Baru ini tenar ketika menjadi latar lokasi syuting film The Lord of the Rings, hingga kemudian pemerintah setempat menamai dengan Gunung Lord of The Ring. Gara-gara film itulah, tempat ini laku dijual sebagai kawasan wisata.
Hal serupa juga dilakukan Thailand saat menjual Maya Beach, di Pulau Phi Phi atau Koh Phi Phi (‘Koh’ berarti pulau). Ya, Maya Beach ikut terkenal setelah menjadi lokasi syuting film The Beach yang dibintangi Leonardo di Caprio.
Tak usah jauh-jauh, lihatlah Belitung, khususnya Pantai Tanjung Tinggi, yang kian tenar setelah menjadi lokasi syuting film Laskar Pelangi. Batu-batu besar menghiasi pantai berpasir putih menjadi daya tarik utama. Dan masih banyak lagi. Batam bagaimana?
Sudah mulai. Adalah film True Heart yang secara gamblang memperkenalkan Batam, sekaligus ikon wisatanya, jembatan Barelang. Meski film ini masih ”kaku-kaku”, namun semangatnya layak dipuji.
Terlepas dari itu, mimpi Batam akan menjadi pusat perfilman Asia, bisa saja terbukti. Karena di sini, dari sebuah resor di salah satu sudut Pulau Batam, telah lahir puluhan film animasi yang kualitasnya tak kalah dari film produksi dari negeri Paman Sam sekalipun.
Ratusan kaum muda kreatif itu bekerja di bawah payung PT Systrans Multi Media dengan bendera Infinite Frameworks (IFW), yang pada perkembangannya juga membuat studio film raksasa yang belum ada di Asia Tenggara.
Dengan demikian, impian Batam untuk lebih dikenal lagi oleh dunia akan lebih terbuka. Asalkan, film-film yang bersetting Batam nantinya haruslah bermutu dan rasional, sehingga bisa dikenal dan dikenang. Jangan lagi membuat film yang di luar nalar, walaupun itu dengan alasan ”Ah, ini kan hanya film.” atau ”Logika film tidak sama dengan logika kita...” ***

Nuklir Teknologi Informasi

Sejak bayi anak sekarang sudah terbiasa bersentuhan dengan gadget. Bermula dari ponsel dengan fitur kamera, kemudian dilengkapi perekam suara dan visual. Hingga ketika umurnya menginjak 4 tahun, dia sudah terbiasa dengan tablet.

Sejak saat itu hubungannya dengan tablet kian erat. Tiada hari tanpa tablet. Kalau tak pegang iPad, rewel. Maklumlah di tablet dia menemukan segalanya. Kesenangan, informasi bahkan aktualisasi. Di tablet dia bisa menonton tv, film, lagu favorit, bahkan buku-buku dari dongeng kegemarannya pun ada.

Mereka, seperti jutaan anak-anak lainnya, juga anak anda, adalah generasi baru yang lahir oleh ledakan teknologi informasi. Inilah generasi yang selalu terkoneksi, aktif, transparan dan indipendent dalam menyerap informasi. Generasi baru yang paperless, yang terbiasa menggali apa, kapan, di mana, siapa dan mengapa dengan hanya menggerakkan ujung jari.

Generasi yang disebut Dan Pakarz, seorang peneliti Australia, sebagai generasi C, yang bisa berarti content, connected, digital creative, cocreation, costomize, curiosity, dan cyborg. Namun bisa juga berarti cyber, cracker, dan chameleon (bunglon).

Mereka sangat aktif dan partisipatif menjelajah dunia online baik lewat komputer maupun ponsel. Tak hanya pengunjung juga pencipta masyarakat online di dalamnya. Mereka juga menjadi follower orang-orang hebat dan lebih mudah menemukan fakta-fakta, konsep atau teori baru.

Di sini mereka bebas mengutarakan opini, saling berbagi isu hangat baik tingkat lokal maupun dunia kemudian didiskusikan bersama. Bahkan juga menjadi wartawan dadakan (citizen journalism). Karena itu, Gen C ini sangat ampuh mengusung perubahan.

Dengan sudah terbiasanya mengkonsumsi media seperti ini, maka muncul pertanyaan, akan kemanakah nasib koran mendatang, yang secara fisik membuat mereka awkward, karena pasif, satuarah, ”menggurui”, otoriter, lambat, dan ungkapan ”pemalas” lainnya.

Pertanyaan senada juga sempat mengemuka saat pertama kali CEO Apple Steve Jobs, meluncurkan iPad. ”Apakah iPad menjadi penghancur atau jembatan untuk memajukan surat kabar?” demikian.

Disebut penghancur bila kita kaitkan dengan banyak media massa cetak yang tutup atau beralih haluan menjadi paperless alias cetak digital.

Dimulai dari ambruknya Tribune Coorporation yang dipandang pengamat media sebagai keambrukan usaha media massa terbesar abad ini, dan terakhir kita lihat Newsweek yang beralih menjadi majalah cetak daring.

Inilah yang saya sebut sebagai efek ”ledakan nuklir teknologi informasi”. Dan media cetak yang tersisa saat ini adalah survivor dari ledakan tersebut. Untuk itu harus benar-benar dirawat dengan inovasi dan kredibilitas.

Dan kita tahu, bagaimana susahnya menjaga kredibilitas ini. ”Barang” yang satu ini susah sekali didapat, namun mudah hilang. Meraih kadang mudah, mempertahankan sangat susah. Tak hanya tenaga, pikiran pun terkuras.

Kembali lagi menjawab pertanyaan di atas. iPad atau tablet bisa juga menjadi sebuah ”jembatan” bila kita lihat fakta bahwa seiring maraknya jejaring sosial, membuat wartawan media cetak kian terbantu manyajikan berita yang aman dan dibutuhkan masyarakat. Bukankah berita dibuat untuk dibaca? Dan agar dibaca, tentunya harus dibutuhkan.

Selain itu, kian banyak masyarakat yang peduli pada kinerja wartawan. Hal apa yang dikatakan wartawan senior Farid Gaban, ”Jurnalisme terlalu penting untuk hanya diurus para wartawan saja. Publik perlu mempersenjatai diri dengan pengetahuan bagaimana industri media beroperasi, bagaimana wartawan bekerja.” ***

Pars Pro Toto

Satu kutipan dari puluhan film James Bond yang sangat berkesan bagi saya sebagai jurnalis adalah, saat Elliot Carver, Bos Carver Media Group, terlibat percakapan dengan James Bond (diperankan Pierce Brosnan).
Carver yang diperankan sangat apik oleh Jonathan Pryce ini berkata, ”Saat berusia 16 tahun, saya bekerja pada sebuah koran di Hongkong. Ini koran picisan. Tapi redakturnya mengajarkan saya satu pelajaran penting. Katanya, kunci menciptakan berita besar bukan pada pertanyaan siapa (who), atau apa (what) atau kapan (when). Tapi mengapa (why).
Dialog ini berbalas hingga berbuah pertarungan antara Bond dan Carver. Dan, lagi-lagi ditutup sebuah dialog lagi. Kali ini Bond yang berucap, ”Kau lupa pada aturan utama media massa, Elliot! Beri masyarakat apa yang mereka inginkan!
Kutipan inilah yang sering saya kutip pada jurnalis-jurnalis baru Batam Pos. Saya cuma ingin agar mereka bisa menghasilkan berita hebat, berita yang prudent, berita yang tak hanya kulit namun bersisi dan bernutrisi.
Untuk itu perlulah skeptis dalam memandang sebuah persoalan, dengan patokan dont trust anyone. Perbanyak bertanya mengapa, perbanyak mereferensi, agar berita yang dihasilkan tak salah nalar.
Manusia bisa saja keliru menduga, tapi wartawan haram hukumnya melakukan itu. Kredibilitas adalah harga mati. Inilah harga diri bagi jurnalis. Bila ini hilang, maka hilang juga maruahnya sebagai wartawan, terlebih lagi media tempat dia bernaung.
Terus terang, saat ini sering kali kita lihat jurnalis sering tak menguasai masalah. Belum lama ini saya dengar sebuah berita di radio, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat SBY mengumpulkan kadernya untuk menandatangani pakta integritas.
Saat itu wartawan radio bersangkutan melakukan wawancara live dengan seorang pengamat politik. Namun pertanyaan yang meluncur membuat mual. Dia bertanya, ”Bagaimana menurut pendapat bapak tentang adanya fakta integritas ini?”
Yang benar adalah ”pakta integritas”, bukan ”fakta integritas.” Pakta dan fakta itu berbeda. Fakta adalah kenyataan atau sesuatu yg benar-benar ada atau terjadi. Sedangkan pakta adalah perjanjian. Pertanyaan ini menandakan si reporter tak paham persoalan, dan saya rasa itu bukan salah ucap, sebab dilakukan berulang-ulang.
Penyakit semacam ini sering terjadi. Dalam perjalanan sebagai jurnalis, banyak wartawan yang tak mengerti hal yang dia tulis. Maka jadilah berita yang dihasilkan kurang mendalam, bahkan cenderung dibohongi nara sumber.
Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, ada wartawan di batam mengutip mentah-mentah omongan seorang pejabat yang mengatakan jalan rusak di depan perumahan ”A” telah diaspal dan siap dilalui kendaraan. Kemudian ucapan si pejabat dan terbit di media bersangkutan.
Keesokan harinya, media tersebut panen komplain dari pembacanya. Karena jalan yang maksud ternyata belumlah diaspal. Malah kerusakannya kian parah. Dan banyak lagi contoh lain yang membuat berita kurang dalam, salah, sesat, dan sebagainya, akibat keteledoran bahkan malasnya wartawan menelaah informasi yang datang.
Saat ini, di era jejaring sosial di mana kian majunya teknologi komunikasi dan informasi, jurnalis dan media khususnya, sudah tak bisa sembarangan lagi merilis sebuah berita. Publik sudah kian pandai dan kritis dalam mengawasi. Dengan cepat mereka mengetahui udang di balik keyboard, atau apakah media ini adalah buzzer atau wartawannya adalah spin doctor.
Untuk itu kehati-hatian dalam mencari, mengumpulkan dan menyebarkan informasi mutlak diperlukan sehingga bisa terhindar dari sikap ”pars pro toto” alias paham sedikit tapi sudah merasa paham semuanya lalu menvonis. ***

Jumat, 28 Desember 2012

berlibur dan berhibur

Liburan itu penting. Inilah satu-satunya cara untuk sejenak melepaskan dari himpitan hidup di kota yang kian keras.
Mungkin, dari sinilah istilah ”i hate Monday” bermula. Sebuah ungkapan keengganan memulai pekerjaan saat libur yang dirasa kurang. Sementara hari Sabtu sangat dinanti, sebagai hari menyambut libur untuk melepas kepenatan.
Dalam liburan, umumnya selalu dihiasi dengan mencari hiburan. Penting digaris bawahi di sini, bahwa hiburan tak selalu berkonotasi negatif. Hiburan di sini dalam arti istirahat sejenak dai rutinitas tuk melepas kepenatan.
Jadi, bisa saja diisi dengan mengikuti workshop untuk mengembangkan potensi, menjadi pekerja lepas alias freelance, membaca buku best seller, nonton film berkualitas, mengembangkan hobi baik musik dan keahlian lain, atau berkumpul atau melewatkan hari bersama keluarga.
Bagi orang tua dan anak, liburan ini penting, karena tubuh dan pikiran perlu penyegaran dan pembaharuan setelah sekian lama menjalani rutinitas. Liburan yang efektif akan membuat seseorang terhindar dari kejenuhan dan penurunan semangat saat melakukan tuntutan tugas rutinnya kembali.
Rasa haus akan hiburan ini akhirnya mengejawantah menjadi sebuah ”ritual” kecil yang harus dipenuhi saat libur telah tiba. Disebut ”ritual”, karena telah menjadi atribut budaya yang merupakan tindakan kolektif dalam ruang umum.
Intinya, sebuah ritual memiliki jadwal tetap dan hukumnya wajib dipenuhi/dirayakan. Juga, sekali lagi, memiliki tempat dan ruang tertentu yang ujungnya membentuk sebuah identitas dari masyarakat itu sendiri.
Pengertian lain dari ritual adalah, aktivitas yang melibatkan komunitas secara luas atau salah satu sub-kultur, yang dilaksanakan pada tempat dan ruang tertentu.
Ritual inilah yang dilalui masyarakat kota umumnya. Hari libur menjadi hari suci yang wajib ditunaikan/dirayakan. Tempatnya bisa di mana saja, misalnya taman kota, mall, pantai, puncak dan sebagainya.
Dan di penghujung bulan Desember ini, warga kota kembali akan merayakan puncak ritual tahunan, yakni pergantian tahun yang selalu disejalankan dengan hari libur. Semua telah bersiap, beragam rencana terlah disusun.
Nah, selamat berlibur dan berhibur, asal setelahnya harus lebih semangat dan produltif lagi. ***

Minggu, 18 November 2012

Ciyuuus... Miapah?

Ciyuuus... Miapah? Akhir-akhir ini kita sering diakrabkan oleh kalimat tersebut. Apalagi setelah provider telpon seluler mengangakap dua kata itu sebagai tag line iklan mereka. Ciiyus (serius)... Miapah (demi apa?), tak ayal menjadi ”mantra/sihir” manusia moderen Indonesia dalam berainteraksi.
Semula kalimat ini berkembang lewat jejeraing sosial Twitter, menyusul lebay (berlebihan), kepo (ingin tahu), curcol (curhat colongan) yang sudah lebih dulu lazim dipakai. Namun, dibanding ”pendahulunya” kalimat ciyuuus, miapah, lebih bisa diterima dan menyebar luas.
Inilah yang disebut bahasa alay. Bahasa pergaulan yang mulai populer tahun 2009 ini tetap eksis sampai saat ini dalam berbagai variasi. Bahasa ini makin masif karena media massa memopulerkannya lewat iklan dan tayangan lainnya.
Ada yang sewot, sampai-sampai menghubungkan bahwa bahasa alay ini dapat menggerus rasa nasionalisme segala macam. Padahal kalau ditelaah, tak ada negara yang hancur karena serbuan bahasa alay. Karena bahasa itu fleksibel, dia akan selalu menyerap bahasa lain atau membentuk bahasa baru, agar tetap bertahan. Bila kaku, akan lenyap.
Bahasa prokem, gaul dan alay, sebenarnya adalah ”bahasa Slang”, sebuah ragam bahasa tidak resmi, dan tidak baku yang sifatnya musiman, dipakai oleh kelompok sosial terteentu untuk komunnikasi intern, dengan maksud, agar yang bukan anggota kelompok tidak mengerti.
Slang di ciptakan oleh perubahan bentuk pesan linguistik tanpa mengubah isinya untuk maksud penyembunyian atau kejenakaan, jadi slang bukanlah jika kita berbicara yang seharusnya sebuah bahasa, melainkan hanya transformasi parsial sebagian dari suatu bahasa menurut pola-pola tertentu. Contohnya, kata bahasa Indonesia mobil dapat di ubah wujudnya menjadi bo'il, bolim, demobs atau kosmob.
Karena itulah, fenomena bahasa slang, bukan hanya terjadi saat ini saja, setiap generasi punya bahasa slang-nya sendiri. Tak hanya di Indonesia saja, di belahan dunia manapun, seperti Singapura atau Amerika, punya bahasa slang.
Di Indoensia sendiri, pada era 1980-an, anak-anak muda kala itu telah terpapar bahasa prokem. Tak lama bahasa ini pudar, dan kemudian di penghujung 1990-an, ada bahasa gaul. Bahasa ini sangat lekat di kalangan anak muda, sampi-sampai Kamus Bahasa Gaul, karangan artis Debby Sahertian pun, laris manis diburu. Setelah bahasa gaul tak lagi trend, bahasa alay pun muncul.
Bila mau menilik jauh ke belakang, sebelum prokem dan bahasa gaul muncul, orang Malang, Jawa Timur telah menggunakan bahasa slang yang mereka sebut osob kiwalan kera ngalam (boso nalawik arek Malang ) bahasa terbalik Arek Malang.
Adalah Suyudi Raharno, seorang tokoh pejuang kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) Malang (tahun 1949), yang mempunyai gagasan untuk menciptakan bahasa baru bagi sesama pejuang sehingga dapat menjadi suatu identitas tersendiri sekaligus menjaga keamanan informasi.
Bahasa yang dibuat untuk menangkal banyak mata-mata Belanda yang disusupkan dalam kelompok pejuang Malang ini, haruslah lebih kaya dari kode dan sandi serta tidak terikat pada aturan tata bahasa baik itu bahasa nasional, bahasa daerah (Jawa, Madura, Arab, China) maupun mengikuti istilah yang umum dan baku. Bahasa campuran tersebut hanya mengenal satu cara baik pengucapan maupun penulisan yaitu secara terbalik dari belakang dibaca ke depan.
Dan terbukti, bahasa baru ini efektif menangkal aksi mata-mata Belanda tersebut. Jadi tak selalu bahasa slang ini buruk, bukan? Namun bukan berarti bahasa tak harus dijaga. Inilah tugas media sebagai polisi bahasa yang menjaga standar bahasa, dan bagi masyarakat, khususnya publik figure, harus mampu memberi contoh dan bagga berbahasa Indonesia yang baik dan benar.