Rabu, 10 Juli 2013

Memegang Amanah

Apa yang paling berat di dunia ini? Ada yang menjawab baja, besi dan gajah. Menurut Imam Al Ghazali, semua jawaban itu hampir benar, namun yang paling berat adalah "memegang amanah".

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Surat Al Ahzaab: 72)

Kendalikan Nafsu

Apa yang paling besar di dunia ini? Apakah gunung, bumi dan matahari? Kata Imam Ghazali, yang paling besar adalah "nafsu. Bila nafsu menguasai diri, maka semua akan tertutup.

Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Surat Al A'araaf 179)

Masa Lalu

Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini? Negeri China, bulan, matahari dan bintang-bintang. Imam Al-Ghazali menjelaskan, bahwa semua jawaban itu benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Untuk itu, jagalah hari ini dengan baik. 

Rasulullah bersabda, jaga lima sebelum lima. Jaga muda sebelum tua, jaga sehat sebelum sakit, jaga kaya sebelum miskin, jaga sempat sebelum sempit, dan jaga hidup sebelum mati. (HR Al Hakim dan Al Baihaki)

Teman Dekat

Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini? Apakah teman, keluarga atau kerabat? Imam Al-Ghazali menjelaskan, semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "mati". 

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Surat Ali Imran:185)

Tetap Bersih

”Janganlah ikut-ikutan mengatakan, ‘Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami akan baik, dan kalau mereka zalim kami akan zalim'. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, 'kalau orang lain baik kami akan baik pula, dan kalau orang lain jahat kami tak akan melakukannya,” demikian pesan Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi.

Hukum alam mengajarkan kita, bahwa mengobati kesalahan dengan kesalahan akan menimbulkan kesalahan-kesalahan. Karena tak akan mungkin kita bisa membersihkan lantai dengan sapu yang kotor. 

Selasa, 25 Juni 2013

Menyadari Penyakit

Rasulullah selalu megingatkan umatnya agar selalu waspada, termasuk pada Ali bin Abi Thalib, sahabatnya yang terkenal jenius itu. Berkata Rasulullah, "Ya Ali! Segala sesuatu itu ada penyakitnya."

Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu lupa, penyakit ibadah adalah riya'. Penyakit budi pekerti adalah memuji, penyakit berani adalah menyerang. Penyakit pemurah adalah menyebut-nyebut pemberian, penyakit cantik adalah sombong. 

Penyakit bangsawan adalah bangga, penyakit malu adalah lemah. Penyakit mulia adalah menonjolkan diri, penyakit kaya adalah bakhil. Penyakit royal (mewah) adalah berlebih-lebihan dan penyakit agama adalah hawa nafsu. 

Mengupas Peran Politik Warga Tionghoa

Batam Pos dan Kepri Centre of Excellence kemarin menggelar dialog politik yang berbeda. Bila biasanya membedah partai politik, kali ini adalah calon legislatif politisi Tionghoa. 

Ada enam caleg yang hadir, masing-masing Asmin Patros (Golkar), Harifinto (calon DPD), Eddy C Lumawie (PKP Indonesia) dan tiga wajah baru, mereka adalah Hendra  Asman (Golkar), Erna (PKP Indonesia) dan Agus (Hanura).

Selain itu, ada tiga panelis yang dihadirkan, ada Lagat Siadari selaku Wakil Rektor III Uniba, bersama dua rekannya, Markus Gunawan dan Andri Yuko.


"Format diskusi kali ini beda dengan bedah partai. Masing-masing caleg harus mampu menjawab pertanyaan dari panelis hanya dalam waktu tiga menit," ujar M Riza Fahlevi, selaku moderator.

Menurut wakil pemimpin redaksi Batam Pos ini, dengan batas waktu itu, akan dapat dinilai bagaimana kualitas dan inteltualitas caleg yang bersangkutan dalam menelaah masalah, memberikan jawaban, dan keterampilan dalam berkomunikasi. "Ini adalah modal saat mereka duduk di dewan nanti," ujar Riza.

Soal mengapa hanya khusus membedah caleg Tionghoa, Riza berargumen, kiprah warga Tionghoa dalam berpolitik cukup menarik diamati, setelah belenggu diskriminasi rontok pasca-ditetapkannya mereka sebagai salah satu suku di Indonesia sesuai Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

Riza menjabarkan, sebenarnya peran warga Tionghoa dalam membangun negeri ini sudah demikian banyaknya, jauh sebelum Indonesia ini berdiri. Misalnya Sunan Bonang (menyebarkan agama Islam) dan yang paling terkenal adalah Laksamana Ceng Ho.

Di Kepri sendiri, sekitar 1700-an, Kesultanan Riau di Tanjungpinang mendatangkan orang-orang Tionghoa untuk mengelola kebun-kebun gambir milik kerajaan. Di daerah lain, mereka juga mengajarkan teknik bertani terasiring dan khasiat obat herbal yang kita kenal dengan jamu. 

"Di masa pergerakan hingga era pra kemerdekaan, justru Harian Sin Po _sebagai koran Melayu Tionghoa_  yang pertama kali mempublikasikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diciptakan oleh W R Supratman," terang Riza.

Pada 1920-an harian Sin Po juga memelopori penggunaan kata ”Indonesia bumiputera” sebagai pengganti kata Belanda, inlander. Sebagai balas budi, semua pers lokal kemudian mengganti kata Tjina/Cina dengan kata Tionghoa (Mandarin:zonghua). Istilah ini memang dibikin sendiri oleh orang keturunan China di Indonesia.

Kalangan Tionghoa juga banyak berjuang mendirikan Republik ini, mulai dari membangun sarana pendidikan, serikat dagang, kepartaian, bahkan kemiliteran. 

Namun, kiprah mereka ini mandeg setelah peristiwa diskiminatif menghantamnya. Di Era Orde Lama, muncul Peraturan Pemerintah No 10 tahun 1959, yang melarang warga Tionghoa berdagang eceran di daerah di luar ibukota provinsi dan kabupaten.

Akibat perlakukan inilah, masih Riza, membuat ekonomi Indonesia hanya bergerak di hulu saja. Saluran distribusi barang terganggu, dan pada akhirnya menjadi salah satu sebab keterpurukan ekonomi menjelang tahun 1965.

Lebih parah lagi saat Orde Baru. Diskriminasi ini muncul dengan menerapkan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia). Tak hanya itu, Orba juga melarang seluruh aktivitas berbau Tionghoa, mulai Imlek, barongsai, hingga nama-nama keturunannya.

"Sebelumnya mereka juga kerap menjadi sasaran diskriminasi. Seperti pembantaian di Batavia 1740, masa perang Jawa 1825-1930, pembunuhan massal di Jawa 1946-1948, peristiwa rasialis 10 Mei 1963, 5 Agustus 1973, Malari 1974 dan Kerusuhan Mei 1998," urainya.

Untunglah, lanjut Riza, semua aturan ini dicabut saat Presiden Abdurrahman Wahid memimpin negeri ini, pada tahun 2000. Bahkan Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. 

"Saat ini, warga Tionghoa memiliki hak yang sama dengan warga negara Indonesia yang lain, termasuk dalam berpolitik. Inilah yang menarik ditelaah, apakah mereka memang berkualitas atau hanya sebagai vote getter," pungkas Riza. ***