Selasa, 20 Oktober 2009

Hampir Pingsan saat Bersepeda

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Misalnya saat saya Hampir Pingsan saat Bersepeda.



Di awal-awal tahun 2009 ini, di Bawean sedang dilanda demam sepeda. Tiap sore, selalu saja ada yang bersepeda. Bahkan dari demam ini, lahirlah KOBYSA (Komunitas Bicycle Sangkapura).

Namun saat saya pulang kampung, demam ini mulai reda. Hal ini saya rasakan dari jarangnya orang yang melakukan akrivitas bersepeda. Meski ada, hanya satu dua saja. Tak massive seperti sebelumnya.

Adalah Kadir, Pikpik, dan Ratna, yang masih melakukan kebaiasaan baik ini. Mereka adalah kawan saya. Masih ada hubungan saudara juga. Khusus Kadir, semasih saya di Batam, dia sudah sering mengajak saya bersepeda. ”Oke, tunggu nanti saat saya pulang ya,” janji saya kala itu.

Makanya saat pulang kampung ini, saya langsung nelepon Kadir. ”Jadi kita bersepeda Dir?”
”Ye, Kak Rija. Jhella pokol empak la kabengkona (Ya, nanti pukul 16.00 saya ke rumah),” jawab Kadir.

Dan benar, akhirnya Kadir datang juga. Meski ngaret sampai setengah jam. ”Ta tedung eson (ketiduran),” excuse-nya.
”Ya udah, kita berangkat,” ajak saya.

Kadir pun berganjak memimpin. Dengan mantap dia mengayuh sepeda gunungnya. Pakaian yang dikenakan saat itu berwarna jingga, di punggungnya tertulis KOBYSA (Komunitas Bicycle Sangkapura). Ini adalah seragam kebanggan mereka.

Tujuan kami saat itu adalah ke Desa Gunung Teguh. Dengan melintasi rute perkampungan ke utara, mulai Dayabata - alun-alun - Sawahluar - Sawahdaya. Selanjutnya memasuki jalan persawahan, menuju Patar Selamat - Disallam hingga Batu Raket.

Namanya juga ke pegunungan, jalan yang kami lalui menanjak. Namun tak seberapa. Maklumlah, hati ini masih terhibur dengan indahnya pemandangan areal persawahan dan gunung ganang yang berada dui kanan kiri.

Hingga lepas dari Disallam, tanjakannya kian curam. Aduh, copot rasanya engsel kaki saya. Dengkul ini langsung panas. Maklum, belum terbiasa. Di Batam, saya jarang bersepeda. Olah raga saya paling banter hanya naik turun tangga di lantai dua Gedung Graha Pena Batam.

Namun, tantangan ini berhasil saya tempuh dengan baik. Kata Kadir, untuk ukuran pemula dengan perut gendut, saya dapat nilai B. Sesampainya di jembatan Batu Raket, sekitar 6 kiloan dari rumah, kami berhenti sebentar. Di depan saya ada tanjakan yang cukup curam. Saya pikir, di sinilah akhir rute ini.

Ternyata belum. Setelah melepas dahaga, Kadir melanjutkan perjalanan. Kali ini benar-benar berat. Saya mencoba mengayuh, namun sampai separuh tanjakan sudah tak kuat. Dengkul panas, nafas terengah.

Akhirnya saya putuskan turun dari sepeda, sembari terus mendaki ke puncak. Sementara Kadir, masih bertahan di atas sepedanya.

Tak lama kemudian, sampai juga di puncak. Di sini ada sebuah huma (dhurung). Kamipun beristirahat di sana. Sementara, nafas saya tersengal, jantung berdetak cepat.

Saat itu saya akan pingsan, namun segera saya berdiri, menghadap pegunungan lalu menghirup oksigen banyak-banyak. Selanjutnya sisa air mineral saya siramkan ke atas kepala. Tak lama, rasa mau pingsan itu hilang, seiring muklai teraturnya nafas, berganti hawa segar.

”Ah, tak kuat saya Dir. Rasanya macam diurut saja jantung ini,” jelas saya.

”Ini tak seberapa, jalan ini menuju Gunung Soka, jalannya lebih curam lagi,” jelas Kadir, bagai tak berdosa.

”Ah, sudahlah, ayo pulang. Sebentar lagi Maghrib,” ajak saya.

Kamipun pulang. Kali ini perjalanan agak santai, maklum menurun.

***

Pengalaman ini saya ceritakan kembali, ketika bertemu Pikpik dan Ratna. Merekapun mengecam Kadir, ”Kok diajak ke sana, ya iyalah. Yang enak sepedaan itu menempuh rute ke Lebak, jalannya rata,” jelas mereka.

”Ya, udah, kapan kita ke sana?”
”Besok sore juga boleh. Kita bertemu di alun-alun,” ujarnya.

Singkat kata, keesokan harinya kamipun bergerak. Kali ini menuju arah barat, menempuh rute Alun-alun - Pateken - Perikanan - Dermaga - Ra-as (selanjutnya saya tak hafal nama desanya). Agar tak silau oleh sapuan matahari senja, saya melindungi wajah dengan topi dan kaca mata.

Dan benar, rute ini jauh lebih santai. Maklum jalannya rata. Tanjakan sih ada, utamanya saat di dusun Ra-as, namun tak securam tanjakan di Baturaket kemarin.

Hingga akhirnya sampai juga di desa lebak. dari rumah, jaraknya sekitar 6 km. Di sebuah huma yang ada di pingguir jalan, di areal persawahan kami istirahat, sembari menikmati air mineral dan pemandangan alam yang mantap.

Selanjutnya kami pulang, sampai di rumah, Azan Maghrib berkumandang di telinga.


Foto: Istirahat di Lebak.


------------

Simak terus kisah-kisah unik lainnya di blog ini...

Senin, 19 Oktober 2009

Makan di Kelong

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti kisah Makan di Kelong berikut ini.


Ini adalah secebis kisah dari ekspedisi keliling Bawean yang saya lakukan bersama Basit, Pemimpin Redaksi Media Bawean. Ada sisi lain yang menarik, selain kisah amburadulnya jalan sepanjang jalur yang kami lalui, yaitu soal kisah hunting makanan selama perjalanan.

”Gruukkk.... grukkk...”

Perut ini tak berhenti berderak, saat jam tangan sudah menunjuk pukul 11.30. Lapar. Mana matahari sedang panas-panasnya, sampai dua punggung tangan saya terbakar. Rasanya perih dan gosong.

”Di mana makanan khas yang enak pak Basit?”
”Di mana ya Pak, mungkin di daerah Tambak.”
”Aku dengar ada rumah makan kelong yang mantap?”
”Oh itu di Pangge, Pak setelah Tanjungori,”
”Apa memang enak?”
”Kabarnya begitu,”
”Ayo kita ke sana,” ajakku.

Brum.... roda-roda motor itu melaju, tubuhku berguncang lagi, menghindari lubang menganga dan batu tajam yang menlintang. harus konsentrasi penuh rupanya. Sudah lama lebih 8 tahun saya tak offroad, eh di sekarang malah kejadian. Padahal, saya pikir jalannya mulus.

Hingga sampai di dusun Dedawang, Teluk Jatidawang, Basit membelokkan sepedanya. ”Kita mampir dulu ke Tellok Jhete di sana ada sentra produksi pindang,” ujarnya. Akupun mengangguk.

Tak lama, kami sampai ke sebuah kampung nelayan. beberapa perahu tampak parkir di pantai, yang menghadap langsung ke Pulau Cina.

Saat saya memarkirkan sepeda motor, bau ikan pindang sudah menyengat.

Selanjutnya Basit mengajak saya ke sebuah rumah berdinding bambu. Ukurannya cukup besar. Dari dalam, asap tebal mengepul. ternyata di sana ada seorang wanita setengah baya, sedang mengukus pindang.

Di dalam rumah itu, ada puluhan tungku yang di atasnya bertengger sebuah kendil (kette) ukuran kecil. Dalam kette itulah, ikan pindang dimasukkan bersama garam, lalu dikukus dengan kayu bakar.

Puas melihat-lihat, kamipun berangkat kembali menuju Tambak. Setelah berguncang-guncang lagi, melakukan manuver-manuver lagi, akhirnya tiba juga di kota kecamatan Tambak. Tepat di pasar, saya meminta Basit berhenti. ”Kabarnya di sini ada empek-empek yang lezat?” tanya saya.

”Oh iya Pak, tadi udah tertinggal di belakang,”
”Kalau begitu, ayo balik lagi,” ajak saya. basit pun setuju.

Di sebuah warung pinggir jalan, saya memborong empek-empek. Buat oleh-oleh setibanya di rumah, Sangkapura. Namun untuk mengganjal perut yang lapar, saya memesan bola bakso (pentul) yang langsung saya santap di teras rumah dekat toko itu. ”Wah mantap, rasa ikannya terasa sekali,” seru saya, sembari meneguk hampir setengah botol sedang air mineral.

Setelah puas, perjalanan dilanjutkan kembali. Di sebuah daerah bernama Labuhan, Basit menghentikan sepeda motor. Sekitar 1 km dari pantai, saya melihat lima yacth (perahu pesiar) sedang berlabuh. ”Itu milik turis Belanda, Bapak. Mereka kerap ke mari,” jelas Basit.

Sementara itu, tepat di depan saya, sebuah kapal tongkang bersandar di pantai Labuhan yang landai. Di belakangnya, tampak sebuah tug boat. Lama saya mengagumi pantai ini, hingga akhirnya kami berganjak lagi.

Kali ini menuju ke Bandara Bawean, yang berada di desa Tanjungori. ”Sebentar lagi sampai,” jelas Basit. Soal kisah di bandara sudah saya tulis di blog ini sebelumnya.

Setelah dari Bandara. Nah, ini dia, tibalah saatnya untuk menjamu selera yang sedari tadi tertahan.

Selepas Tanjungori, roda-roda motor kami terus melintas di sepanjang pantai. Hingga dari kejauhan saya melihat sebuah rumah panggung berbahan bambu, berdiri di pantai agak menjorok ke tengah laut yang dihubungkan dengan jembatan yang juga berbahan bambu.

”Ah, mungkin itu yang dimaksud rumah makan kelong itu,” pikir saya.

Ternyata benar, Basit memarkir sepeda motornya. Saya lihat, posisi bangunan ini tepat diseberang pintu masuk ke situs Nyai Zainab, Desa Ponggo, desa yang satu-satunya di bawean memiliki bahasa endemik; berbahasa Jawa aksen Bawean. Selama dasawarsa, bahasa orang Ponggo tak terpengaruh Bahasa Sumenep, bahasa orang Bawean pada umumnya.

Di tengah deraan rasa lapar, saya masuk ke kelong itu. Namanye cafe Pantai Losari Diponggo.

Saya lihat bagunannya cukup apik. Di sebelah kiri pint masuk, terpasang parabola ukuran sedang yang ditopang sebuah pipa besi.

Sebelum masuk, kita diminta meninggalkan alas kaki di pintu masuk. Di dalam saya lihat aneka meja khas jepang, berjejer rapi. Ya, konsep rumah makan ini memang lesehan. Sebagai alasnya, pengelola membentangkan karpet dan tikar.

Bangunan kelong ini terbagi dari bangunan induk tempat pengunjung memesan makanan, dan bangunan pelengkap di belakang.

Di sini, tempatnya yang lebih elok. Dari sini, sembari menyantap hidangan, pengunjung dapat menikmati pemandangan laut yang indah, berlatar belakang perkampungan nelayan dan perahu-perahu kecilnya. Sungguh indah. Terpaan angin sepoi-sepoi menambah syahdunya nuansa.

”Makan pak?” seorang wanita berbadan subur, berusia 40-an tergopoh-gopoh menghampiri.

Saya pun melihat menunya. Semula kerangka otak saya berpikir, bahwa menunya tak jauh dari sari laut, sebagaimana khas masakan kelong. Tapi ternyata apa yang saya temui, berbeda sama sekali. Di sini yang ada malah nasi lalapan. Wah, kok jadi macam di pegunungan saja.

”Ya udah, saya pesan ayam penyet dan jeruk anget,” pinta saya. Sementara Basit pesan Indomie goreng dan es soda gembira.

Tak lama pesanan datang. Perlahan saya cicipi bersama beberapa daun kemangi, wah.... nasinya masih hangat, berasnya cukup pulen. Sementara daun kemangi yang magis, memberikan rasa yang atraktif. Excellence!

Lalu saya coba mencicipi ayam gorengnya, wah..... krenyes di luar, namun juicy di dalam. Mantap.

Saat tiu saya melirik Basit, wah, tampaknya dia juga sibuk menikmati mie-nya. Saya lihat, mimik wajahnya yang bulat bersemu merah. "Tambah nasi Pak Basit?!"

"Emh... Empon, ento la cokop. Ghik kenyyang bule, pon mare adheer kan engghellek (Udah, ini udah cukup. Saya masih kenyang, tadi juga baru sarapan," jelasnya.

Selanjutnya saya terus bereksperimen. Apa jadinya bila dua paduan ini saya cocol dengan sambalnya. Ah... Saya ambil bagian kecil, dococol, lalu ambil nasi di ujung jari, yak... siap disantap. Hasilnya?

Uwaaaahhhhhh... Mantap sekali, rasa ayam yang lembut dan krispi tadi, berpadu dengan pulennya nasi, dan tersentuh rasa sambal yang manis sedang dan godaan cabe yang lembut. Sungguh sebuah paduan yang cakep banget.

Sayapun sampai-sampai memanggil penjualnya. ”Wah, mantap banget sambalnya. Tolong dibungkusin ya, mau saya bawa ke Sangkapura,” pesan saya. Luar biasa.

Agar rasa cabe tak nempel, saya basuh lidah ini dengan irisan timun. Blezzzz.... Emh... Mantap, sensasi seger langsung terasa.

Terakhir, saya lengkapi sapuan makan-makan ini dengan meneguk hangatnya jeruk nipis peras. Wah.... benar-benar segar. habis pedas pedas, langsung dibasuh dengan yang segar. Tenggorokan ini jadi enteng kembali. Pokoe maknyus.












------------

Simak terus kisah-kisah unik lainnya di blog ini...



Minggu, 18 Oktober 2009

Profesi Wartawan

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Termasuk bagaimana mereka memandang tentang Profesi Wartawan.

Pandangan warga di kampung saya tentang wartawan, sama halnya dengan masyarakat di belahan pertiwi ini. Wartawan itu, ya meliput berita. Titik.

Sehingga tiap kali saya bertemu orang yang mengenal saya, mereka selalu bertnya, ”Lho, meliput apa di Bawean?” Atau ada lagi, ”Enggak meliput gempa ke Padang?”

Atau ada lagi yang lebih parah, ”Tolong dong saya acara saya diliput, biar masuk ke koran di Batam,” ujar seorang yang menyelenggarakan selamatan tujuh bulanan.

Mendengar ini, saya kadang hanya tersenyum. Adakalanya saya menjawab, bahwa saya sedang cuti, jadi takl meliput dulu. Atau agar mereka puas, ya sudah, saya ambil kamera poket saya, lalu jepret-jepret. Lalu saya bilang, ”Nah, nanti ini saya terbitkan di Jawa Pos Batam,” jelas saya.

Yang saya maksud ”Jawa Pos Batam” adalah Batam Pos, institusi tempat saya bekerja. Maklumlah, di kampung kami warga lebih mengenal Jawa Pos. Merekapun senang.

Anggapan wartawan meliput, memang ada benarnya, namun juga kurang tepat. Karena di era industrialisasi pers sepesat abad ini, wartawan tak melulu orang yang meliput berita di lapangan.

Berdasar undang undang pers, yang disebut wartawan itu adalah orang yang secara konsisten mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan berita. Dari pengertian ini, jelas, seorang wartawan tak hanya sebagai orang yang mencari (meliput) berita saja, namun ada bagian-bagian lain. Yang penting harus konsisten. Itu saja.

Untuk menjaga konsistensi itulah, maka dibentuk sebuah perusahaan pers. Di dalam perusahaan pers ini, seorang wartawan bisa jadi dia menjabat sebagai sekretaris, kepala bagian, kepala departemen, manajer, general manajer, direktur, direktur utama, bahkan seorang presiden direktur.

Oleh karena itu pada perusahaan-perusahaan pers yang besar, baik dari segi modal dan reputasi, seorang wartawan yang duduk di level pimpinan kadang diajar bagaimana itu mengelola perusahaan.

Mereka belajar financial non manajemen (keuangan), pemasaran, iklan dan tentu saja, organisasi dan tata laksana perusahaan. Bisa jadi saat itu mereka disiapkan suatu saat bisa mengisi posisi entah sebagai direktur keuangan, pemasaran dan lain sebagainya.

Inilah yang sebenarnya yang sebanarnya mau saya jelaskan pada mereka, namun tak ada waktu.

Hingga akhirnya kesempatan itu muncul, ketika Koko Sujatmiko, Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Sangkapura, Bawean mengundang saya ke kantornya untuk berdiskusi soal pers.

Di sanalah saya menjelaskan sedikit organisasi kewartawanan, yang sebagian sudah saya jelaskan di atas.

Menurut saya, duania wartawan saat ini sama dengan dunia profesional lain yang memiliki jenjang karir. Mereka bekerja juga berdasarkan perencanaan, ada agenda setting, bussiness plan dan lain-lain.

Dalam perusahaan pers yang besar, karir wartawan dimulai sebagai reporter. Inilah ujung tombak. Merekalah yang meliput berita di lapangan. Selanjutnya, naik lagi sebagai asisten redaktur lalu redaktur.

Ini adalah semacam kepala bagian, orang yang bertanggung jawab akan satu persatu halaman koran. Redaktur juga bisa disebut editor, atau produser.

Naik lagi, ada asisten redaktur pelaksana dan redaktur pelaksana. Semacam kepala departemen. Mereka yang mengelola satu sesi koran. Dalam setiap eksemplar koran, biasanya ada beberapa sesi.

Naik lagi ada wakil pemimpin redaksi dan pemimpin redaksi. Mereka yang mengepalai redaksi. Di posisi lain, pemimpin redaksi bisa juga disebut manajer. Cuma beda bahasa saja, tugas-tugasnya sama.

Di atas Pemimpin redaksi ini ada Pemimpin umum, atau general manajer, ada juga nanti direktur, direktur utama, hingga chief executif officer (CEO).

Dari sini jelas, orang yang bertugas meliput itu adalah reporter. Reporter adalah wartawan, namun tak semua wartawan adalah reporter.

Semua ada tugas pokoknya, namun sah-sah saja bila selain reporter masih mau meliput. Toh, Dahlan Iskan saja, bos, bos, bos, bos, bos, bos, bos, bos, bos, para bos koran, masih mau meliput.

-------
Simak terus kisah menarik seputar liburan di Pulau Bawean di blog ini. Selengkapnya...

Sabtu, 17 Oktober 2009

Misteri Baju Koko Basit

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti saat saya mengungkap tentang Misteri Baju Koko Basit.

Salah satu pertanyaan yang saya siapkan dari Batam setibanya di Bawean saat bertemu Abdul Basit, Pemred media Bawean, adalah; Mengapa selalu mengenakan baju koko? That it!

Sebenarnya, pertanyaan ini muncul ketika saya banyak mendengar bahwa Basit selalu mengenakan baju koko dalam kesehariannya.

”Pokoknya kalau kamu lihat orang yang siang malam selalu pakai baju koko, pasti itu Basit,” kisah seorang kawan, menjawab saya yang penesaran seperti apa Basit itu.

Ya, memang selama ini saya belum pernah bertemu langsung dengan Basit. Pertemanan kami hanya terjadi di dunia maya dan di dunia pulsa saja.

Dan, setelah lama saya simpan akhirnya pertemuan itu datang juga. Kesempatan berlibur ke Bawean itu datang juga. Dan saya memasukkan rencana bertemu Basit, dalam urutan atas listing agenda silaturahmi.

Saat bertemu pertama kali di markas Media Bawean, pada Senin (28/9) malam, pertanyaan itu belum sempat saya lontarkan. Meski saat itu saya lihat Basit mengenakan baju koko warna kuning. Maklumlah, saat itu Basit sedang sibuk editing, jadi tak enak hati mau mengganggu.

Hingga akhirnya, kesempatan itu datang pada keesokan harinya, Selasa (29/9). Saat itu Basit mengajak saya melakukan ekspedisi mendaki puncang Tanjung Gaan bersama keluarga besar Media Bawean. Kali ini baju kokonya ganti warna abu-abu.

Selama perjalanan menggunakan sepeda motor, Basit membonceng saya. Bak guide tour, sepanjang jalan dia menjelaskan bila ada tempat-tempat eksotik yang saya tak tahu.

”Ento nyamana Kampong Somor-somor, soalna benyyak somorna. Teap bengko andik somor (ini namanya Kampung Sumur-sumur. Soalnya, memiliki sumur yang bnnyak. Setiap rumah punya sumur),” jelasnya, menunjuk sebuah kampung yang berada jauh di pedalaman pulau Bawean.

Nah, dari perbincangan inilah akhirnya saya memiliki kesempatan untuk melontarkan pertanyaan yang sudah lama saya pendam itu. Mengapa selalu mengenakan baju koko? Namun sebelum masuk ke sana, saya terlebih dulu bertanya tentang apa motovasinya mengembangkan Media Bawean seperti saat ini.

Basit pun mulai mengurai, bahwa dia hanya ingin agar Bawean lebih dikenal lagi, tak hanya dalam skup nasional, tapi juga dunia. Selain itu, dengan media ini dia bisa memperjuangkan dan menyuarakan kepentingan masyarakat kepada pemerintah daerah, atau bajkan ke pusat.

Sebelum mengembangkan Media Bawean menjadi versi berita on line seperti saat ini, Basit bersama reken-rekannya membentuk sebuah LSM bernama Gerbang Bawean. Namun, suaranya kurang menggema. Hal ini akibat terbatasnya publikasi oleh press.

Karena itulah, akhirnya sekitar tahun 2007 dia mengembangkan Media Bawean. Saya sebut mengembangkan, karena Media Bawean sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1996. Namun saat itu hanya berisi kumpulan artikel tentang Bawean dari media massa nasional.

Di tangan Basit-lah, Media Bawean disulap menjadi media berita real time. Yang unik, ternyata semula Basit awam disain web. Dia bisa melakukan posting dan editing di web setelah didekte oleh mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya.

Namun karena semangatnya yang besar, akhirnya dia cepat mahir.

Mengambangkan media ini, bukannya tak banyak tantangan. Cibiran datang silih berganti. Namun Basit tetap istiqomah. Namun, banyak juga sambutan.

”Pernah motor saya pecah ban di sebuah desa, tiba-tiba pak kepala desanya menyuruh meninggalkan sepeda motor saya, dan meminjamkan sepeda motornya. Saya sungguh terharu,” jelasnya menuturkan pengalaman manisnya selama menjadi wartawan Media Bawean.

Singkat cerita, setelah ngobrol ”ka berak ka temor” maka tibalah saya melontarkan pertanyaan pamungkas itu. ”Mengapa selalu mengenakan baju koko?”

”Saya kurang suka mengenakan pakaian lain, selain baju koko. Rasanya lebih nyaman,” jawab Basit, sembari tetap berkendara.

”Punya berapa bajo koko?” saya penasaran.

”Ada empat, Bapak. Biru, merah, kuning dan yang saya pakai sekarang ini (abu-abu),” urainya.

Oh begitu rupanya.

Misteri baju koko Basit pun terkuak.



-------
Simak terus kisah menarik seputar liburan di Pulau Bawean di blog ini.

Jumat, 16 Oktober 2009

Jadi Orang Kaya

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti kisah tantang maraknya kini orang Bawean yang bercita-cita menjadi orang kaya, dengan cara-cara yang kurang baik.



Saat kumpul-kumpul dengan beberapa pemuda yang kritis di sebuah surau, saya ditanya bagaimana agar nilai-nilai agama bisa lebih terjadi di pulau ini.

Saya keheranan, kok bertanya seperti itu? ”Iya, saat ini banyak kemungkaran dilakukan terang-terangan,” jawab salah seorang dari mereka. ”Kini penduduk Bawean lebih banyak memuja materi (hedonis/hubbud dunia),” timpal yang lain.

Saya menjawab, bahwa penyakit tersebut kini memang mewabah tak hanya di Bawean saja, namun di seluruh Indonesia. Dampak globalisasi, dan kampanye negera-negara kapitalis, membuat hal ini kian mengakar.

”Bisa dicontohkan, memuja materi seperti apa?” saya kembali penasaran.

Selanjutnya salah seorang berujar, bahwa kini banyak orang yang memuja orang-orang kaya, tak peduli harta kekayannya berasal dari sumber yang baik atau buruk. ”Pokoknya yang kaya, disanjung meski itu hartanya di dapat dari jalan subhat,” jelasnya.

Akibat hal ini, kini banyak generasi muda yang bercita-cita seperti para seniornya. Jadi kaya, meski dengan cara haram. ”Namun ada banyak juga sih, yang masih memegang teguh iman, mencari rezeki yang halalan tayyiban,” sebutnya.

Saya lega mendengar jawaban terakhir ini. Syukurlah, berarti kondisi ini bisa diperbaiki. Meski itu sulitnya minta ampun. Kendala utama terletak pada kurang kuatnya filter di masyarakat itu sendiri, bagaimana mereka memandang harta.

”Bila orang-orang yang diketahui melakukan kemungkaran ini tidak mendapat tempat, tentu mereka tak akan berani memamerkan hasil kemungkarannya,” jelas saya.

Dari sini saya teringat sebuah tulisan antropolog belanda, Menner Jacob. Dulu saat melakukan penelitian di Bawean, didapat fakta bahwa masyarakat menempatkan kiyai dan orang-orang berilmu pada urutan atas, dalam strata kemasyarakatannya.

Sementara orang yang mungkar, seperti tukang sihir, mereka letakkan paling bawah. Kalau tak salah pada tingkat ke 10.

Makanya ditemukan di Bawean saat itu, orang-orang yang bangga akan kiai dan orang-orang berilmunya. Mereka sangat hormat, sampai-sampai seorang santri akan berebut meminum air bekas cuci tangan sang kiai, agar mendapat karamanya.

Dari sinilah, sampai-sampai muncul tradisi ”asare ghuru” atau mencari guru. Saat itu, sang anak akan merantau hingga dari masyrik ke magrib, agar nantinya bisa memiliki ilmu agama/pengetahuan yang baik.

Sebaliknya, penduduk sangat mengucilkan para tukang sihir. Maka itulah, orang-orang yang diduga tukang sihir sangat merahasiakan eksistensinya. Mereka bahkan memilih mengucilkan diri dari khalayak ramai.

”Saat ini coba diteliti, apakah strata sosial masyarakat Bawean masih menempatkan kyai dan orang-orang berilmu di deretan paling atas? Apakah masih ada tradisi ‘asare ghuru’ itu?” mereka terdiam.

Selanjutnya saya mengajukan ide ekstrem, bila memang fenomena untuk menjadi orang kaya, dengan harta subhat ini sudah sangat meresahkan, gelar saja pertemuan. Rapat akbar.

Dari sana susunlah kesepakatan, bahwa orang Bawean yang berbuat kemungkaran termasuk mencari harta dengan cara haram akan dikucilkan, seperti bagaimana pendahulu kita mengucilkan para tukang sihir.

Agar pesan ini tepat sasaran dan diikuti, bila perlu fatwakan, umumkan melalui ceramah salat Jumat di masjid-masjid.

Mau?
-------
Simak terus kisah menarik seputar liburan di Pulau Bawean di blog ini.

Kamis, 15 Oktober 2009

Mengunjungi Bandara Bawean

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti kisah saat saya Mengunjungi Bandara Bawean, daerah Tanjungori, Tambak.


Setelah bersepeda motor dari Sangkapura menempuh jarak 25 kilo bersama Pemred Media Bawean, sekitar 1 jam lebih melintasi rusaknya jalan lingkar dengan lubang lubang besar, batu tajam bak medan off-road, akhirnya saya tiba juga di lapangan terbang Bawean, Sabtu (4/10).

Lapangan terbang Pulau Bawean terletak di Desa Tanjungori, Kecamatan Tambak. Pembangunan bandara ini dimulai pada tahun 2007, dengan panjang landasan pacu 900 meter.

Ide pembuatan bandara ini bermula saat bisnismen asal Singapura dan Malaysia mengadakan pertemuan dengan Gubernur Jawa Timur kala itu, Imam Utomo.

Mereka mengatakan pada Gubernur, mengapa di Bawean tak dibangun bandara saja, sehingga jarak tempuh antara Surabaya dan pulau tersebut akan lebih singkat dan mudah dibanding dengan kapal.

Dengan pesawat udara, hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Bendingkan dengan kapal laut yang memakan waktu 3 jam. Lebih dari 10 kali lipatnya.

Dari sinilah, kemudian pada awal Januari, tim dari Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya turun melakukan pengkajian hingga akhirnya ditemukan lokasi yang cocok di dekat tebing di Tanjungori.








Saat saya ke sana, kondisinya masih dalam pengerjaan. Sudah 60 persen selesai, sudah pula lengkap dengan terminal penumpang baik deperture maupun arrival.

Untuk menuju terminal itu, dari jalan utama masih harus masuk ke dalam sekitar 2 kiloan. Kondisinya cukup baik. Tinggal perluasan landasan pacu saja yang masih terkendala. Konon masalah pembebasan lahan-lah yang membuat hal ini berlarut-larut.

Mumpung masih dalam pengerjaan, saya melihat langsung ke landasan pacunya. Wow, cukup luas. Dari kondisi fisiknya landasan ini hanya diperuntukkan untuk pesawat jenis Fokker 50. Karena bila melayani boeing atau air bus, masih kurang panjang dan luas lagi.

Namun, saya rasa cukuplah untuk membuka isolasi ini.

Sesampainya di landasan pacu tiu, saya turun dari sepeda motor. Tak sadar, tubuh ini luruh mengucap sujud syukur, lalu saya menelentangkan badan di atas aspalnya.

Kepanasan? Ya iyalah, saat itu tepat pukul 12.00, saat matahari menampakkan kegarangannya. Mana pada tanggal tersebut, jarak rotasinya lebih dekat dengan khatulistiwa, lagi.

Melihat aksi saya ini, Basit, terheran-heran. Dasar wartawan, secepat kilat dia mengambil kamera poketnya, lalu jepret, jepret, dia mengambil gambar saya.










Usai melakukan sksi ini, saya mengajak Basit meninjau ujung landasan. Dari sini saya tahu, ternyata bandara ini dibangun di atas tebing.

Dari atas sini view-nya sangat indah. Saya bisa melihat indahnya panorama alam Bawean, dengan pantai berpasir putih, dan sederet kapal-kapal nelayan berjejer didekat perkampungan.

Subhanallah. Allah ternyata sungguh baik, dengan memberikan penduduk pulau Bawean alam yang begitu indah, kaya dan ramah. Sayapun bertasbih, tahlil dan tahmid.

Setelah itu, saya memanggil Basit. ”Lihatlah Pak! Lihatlah! Inilah kunci kemakmuran pulau kita!” seru saya. Basit menyimak.

Lalu saya menjelaskan, bahwa tak mungkin pemerintah pusat mengucurkan uang miliaran rupiah untuk membangun lapangan terbang di sebuah pulau terpencil semacam Bawean, bila tak ada apa-apanya. ”Di beberapa kabupaten di Kepulauan Riau saja, tak semuanya memiliki lapangan terbang,” ujar saya.

Dari sinilah, nanti potensi Bawean akan tergali, pendapatan asli daerah akan terbantu, sehingga bisa membuat status pulau ini bisa saja naik.

Lalu saya menceritakan pertemuan saya dengan Gus Dur tahun 2008 lalu. Menurutnya, Bawean bisa maju asal tiap hari harus ada penerbangan. ”Ya, nantinya ada pesawat terbang dari Bawean menuju Sembilangan, yang berada di pantai barat Madura,” jawab Gus Dur.






Beberapa profesor yang ikut nimbrung dalam diskusi kami saat itu menimpali, bahwa Bawean memiliki sumber kelautan yang sangat baik. Bila Kenjeran saja bisa makmur hanya memanfaatkan selat Madura, Bawean pasti lebih bisa lagi. Karena potensi kelautannya lebih besar dan banyak.

Bahkan kabarnya, nantinya Bawean akan menjadi hub dan pusat industri maritim dan hortikultura di Indonesia bagian Barat. Hal ini akan mengulang kejayaan Bawean di masa penjajahan Belanda lampau, yang memang diperuntukkan untuk itu.

Berasal dari inilah kenapa saat ini di Bawean banyak ditinggali multi etnis, mulai Palembang hingga Mandar.

Kini, tinggal mencari investornya saja. Cara yang paling mudah, dengan menggalakkan pariwisata. Dari sinilah mereka akan masuk.

Berbicara soal potensi wisata Bawean, sunguh kaya. Tinggal dikelola saja. Pantainya landai dan bersih, penduduknya baik dan ramah, kulinernya mantap mantap, apa lagi? Mau mandi air panas? Ada. Mau mandi air terjun? Bisa.

Atau mau melakukan outbound di danau, hiking, tracking, rappeling hingga puncak gunung? Tinggal pilih saja, Bawean banyak memiliki gunung. Jumlahnya konon sampai 99 buah. Setara asmaul husna. Luar biasa.

Bagi yang suka diving, fishing, ah itu sih kecil. Di sini tak kalah indahnya dan asyiknya. Apalagi bicara soal fishing, tak usah kelaut dalam, di dermaga saja, Anda sudah bisa mendapat ikan kakap merah.

Terumbu karangnya juga bagus, khususnya di pantai Mayangkara dan beberapa pulau kecil, seperti Nusa, Cina, Karabile, Noko, dan Gili.

Bila mau wisata kampung, macam Dorani homestay di Malaysia, atau wisata religi di sinilah surganya. Di pulau ini selain alamnya masih perawan, juga menyimpan banyak peninggalan bernilai religius dan sakral. Di sini ada gelebung, situs Nyai Zainab, hingga jherat lanjheng (kuburan panjang).










Cuma, semua potensi ini belumlah terekspos. Untuk itu, saya menyarankan agar para camat membikin lomba desa wisata. Caranya, tiap desa mengusulkan potensi wisata unggulannya. Potensi wisata ini, selanjutnya dikelola desa masing-masing.

Tentu ini kan baik, karena selain akan menambah pendapatan bagi desa yang bersangkutan, juga akan membuat potensi wisata Bawean kian dikenal dan bisa terorganisir dengan baik.

”Itulah mengapa tadi saya sampai sujud syukur Pak Basit. Ini sebagai rasa kecintaan saya terhadap pulau ini. Kita bisa lebih aju lagi, setara dengan daerah lain,” jelas saya. Basit pun mafhum.

Saya melanjutkan, tak usah terlalu jauh, keuntungan di depan mata saja dengan berdirinya bandara ini bagi penduduk, akan dapat menciptakan multy player effect yang baik.

”Dengan adanya bandara, nantinya akan banyak menyerap tenaga kerja dan lahan bisnis, mulai rumah makan, transportasi hingga penginapan. Bahkan bisa jadi akan mengubah ‘naga bisnis’ pulau Bawean dari Sangkapura, ke Tambak!”




-------
Simak terus kisah menarik seputar liburan di Pulau Bawean di blog ini.

Rabu, 14 Oktober 2009

Little Mecca

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti kisah saat saya melihat alun-alun Sangkapura menjelma menjadi Little Mecca (Mekkah Kecil).


Sudah sejak 30 Agustus lalu, Alun alun Sangkapura, di depan Masjid Jami, berubah menjadi Mekkah kecil. Ada miniatur ibadah haji di sana, Safa, Marwah, Hijr Sulaiman, sekaligus bangunan Kakbah setinggi 10 meter.

Replika Baitullah ini mirip denga aslinya. Posisi Kakbah itu berada di tengah, menutupi tugu yang terpasang di sana.

Bila malam, alun-alun ini terang benderang oleh banyak lampu led ukuan besar yang terpasang pada poin-poin tempat pelaksanaan ibadah haji itu.

Semula, hal ini ditujukan untuk latihan masik haji jamaah dari Pulau Bawean, 22 September lalu. Namun setelah acara itu usai, miniatur ini belum dibongkar.

Bila dilihat dari kegunaannya, jelas alun-alun Sangkapura sudah kehilangan fungsinya. Apa itu? Sebagai tempat warga berkumpul, sebagai plaza masyarakat, sebagaimana yang didisain para penemu tata kota zaman Belanda dahulu.

Ya, gimana mau berkumpul, karena sudah menjadi miniatur ibadah haji. Namun, sah-sah saja lah, toh masyarakat bisa menerima. Malah, katanya, kesan Bawean sebagai Pulau Religius jadi kian tampak dengan adanya miniatur Haji ini.

Namun sayang, sang pembuat miniatur ini, lalai memperhatikan hal kecil, sehingga membuat simpati masyarakat terhadap panorama religi ini jadi agak luntur.

Hal ini saya dengar saat bertandang kesebuah rumah cukur. Di sana, beberapa pelanggan yang datang menggunjingkannya.

"Itu, mau sampai kapan alun-alun jadi tempat ibadah haji ya?" tanya salah seorang dari mereka.

" Tao, kalakoanna sapa jereak (Entahlah)," jawab yang lain cuek.

Kemudian, keduanya terlibat perbincangan sengit. Intinya, mereka mulai merindukan kembali suasana alun-alun seperti dulu. Buat apa dibuat ada Kakbah segala, toh tak dirawat juga.

"Engkene Kakbe-na la bennyyak carrek, eano kanak-kanan. Kadeng bede embik apa semasok (Sekarang dinding Kakbah-nya sudah banyak yang robek oleh anak-anak. Kadang juga kambing masuk ke situ," ujar yang lain bersemangat.

"Mong eson sepaleng penggel, lestrekna odik terros, sampek seang. Sementara oreng laen mate-matean (Kalau saya paling keki lihat lampu listrik di sana dibiarkan hidup. kadang sampai siang. Sementara lampu di rumah kita sering mati bergiliran," ujarnya.

Sejak mendengar percakapan itu, saya jadi tertarik melihat miniatur ibadah haji ini. Tiap kali melintas, selalu saya perhatikan. memang benar apa yang dikemukakan mereka.

Kondisi miniatur Kakbah-nya mulai lapuk dan banyak yang robek. yang paling miris, emnyaksikan lampu-lampu berwatt besar itu dibiarkan menyala hingga matahari di atas kepala.

Saya pernah berbincang soal ini denagn pemred Media Bawean Abdul Basit. Menurutnya, lampu itu sudah ada yang nanggung.

Oke sih, namun bukankah pemborosan itu tak baik? Apalagi dilakukan di saat krisis listrik tengah mencengkram Bawean?

Foto: Miniatur Kakbah yang sudah koyak moyak itu.

-------



Simak terus kisah menarik seputar liburan di Pulau Bawean di blog ini.