Selasa, 03 November 2009

Propaganda propaganda

Jepang pemimpin asia
Jepang pelindung asia
Jepang cahaya asia

Jepang adalah saudara tua Indonesia
Jepang membentuk Putera
Jepang bertujuan untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan.





Ini adalah bunyi propaganda jepang saat mereka menguasai Indonesia sekitar tahun 1942-an. Propaganda ini mereka cetak melalui beragam pamflet dan poster.

Selain itu, jepang banyak memaparkan keberhasilannya dalam memimpin Asia Timur Raya, di antaranya rutin menerbitkan poster hasil kemenangan mereka atas lawan-lawannya.

Misalnya, dalam satu pertempuran berapa kapal perang, kapal selam bahkan pesawat terbang yang sudah dirontokkan.

Jepang menganggap, propaganda ini perlu sebagai sarana melanggengkan hegemoni mereka. Sebagaimana yang dilakukan tentara Julius Caesar, atau Nazi Jerman.

Selain itu, guna menarik minat pemuda Indonesia untuk bergabung dalam angkatan perang mereka. Sebagaimana dicatat, saat dikuasai Jepang, Indonesia dibagi dua: 1) P. Jawa dan Sumatra di bawah komando angkatan darat, berpusat di Jakarta. 2) Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku di bawah Komando Angkatan Laut yang berpusat di Ujung Pandang.

Tak mau kalah, Belanda yang lebih dulu bercokol di Indonesia, ikut juga mengeluarkan propaganda. Jadilah saat itu, selain perang fisik, juga perang poster. Isinya, sama-sama mengklaim keberhasilan, dan pembelaan akan Bangsa Indonesia.

Salah satu bunyi poster propaganda Belanda adalah “Nederland helpt Indie”. Di sana digambarkan, seorang wanita Belanda merentangkan tangan, siap akan memeluk seorang anak kulit coklat, bertelanjang dada yang berlari dengan senyum mengembang (bisa lihat gambar di bawah).

Setelah masa penjajahan ini usai, saat ini propaganda dari penguasa terus diperdengarkan. Ada yang mengklaim, di era pemerintahannya kesejahteraan kian meningkat, beras lebih murah, indeks pencapaian ekonomi lebih tinggi dalam sejarah bangsa ini, dan sebagainya.

Padahal kalau dipikir, sebenarnya bila dibanding dengan era lalu, tak begitu lebih baik juga. Tingginya pencapaian, murahnya harga beras dan sebagainya itu, kan belum diukur dengan jumlah penduduk dan kurs dolar terhadap rupiah antara saat ini dengan era lalu.

Ibaratnya, mungkin angka-angka memang naik, namun rasio pertumbuhan kurang atau bahkan macet. Contoh kasar, dulu emas satu gram aja Rp10 ribu, sekarang sudah Rp100 ribu.

Jadi kalau pemerintah zaman dulu berhasil melakukan pencapaian Rp1 juta, dan pemerintah zaman sekarang Rp5 juta, memang dari segi angka besar saat ini, namun bila dihitung pertumbuhannya masih lebih hebat yang dulu.

Tapi, ya sudahlah. Wajar- wajar saja setiap pemimpin mengklim keberhasilannya. Dan ini juga patut dihargai, karena untuk menuju ke arah sana tak mudah juga. Namun, kita haruslah kritis. Sebab, adakalanya hal tersebut dijadikan sebuah propaganda semata.

Propaganda (dari bahasa Latin modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan.) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sejumlah orang yang banyak.

Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk mempengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya.

Propaganda kadang menyampaikan pesan yang benar, namun seringkali menyesatkan dimana umumnya isi propaganda lebih menyampaikan fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional.

Tujuannya adalah untuk merubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran yang lebih lanjut untuk kepentingan agenda politik.

Dan ini yang paling jahat, Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan berpengaruh langsung pada perilaku untuk pencapaian suatu respon yang sama dengan niat yang dikehendaki dari pelaku propaganda.

Inti dari penjabaran ini adalah, propaganda adalah seni menguasai hati, melemahkan mental dengan kata-kata. Bila kita menderita penyakit ghumunan (mudah heran), selalu menganggap orang lain lebih superior, maka akan mudah ditaklukkan di perang ini.

Tak heranlah dulu Alexander dari Mecedonia berkata Veni, Vidi, Vici.

------------------- Poster-porter propaganda Jepang dan Belanda











Selengkapnya...

Jumat, 23 Oktober 2009

Ketika Wartawan Pulang Kampung

Jangan kaget bila membaca isi blog saya edisi bulan Oktober ini, semuanya menceritakan pengalaman saat pulang kampung. Kadang serius, kadang juga jenaka. Semua tulisan ini rencananya akan saya rangkum dalam sebuah buku, berjudul Ketika Wartawan Pulang Kampung.

Adapun tokoh-tokoh utama dalam tulisan ini adalah, Abdul Basit, Kadir, Pik-Pik dan Ratna.

Sebenarnya saya ingin membuat buku yang agak wah-wah, semisal ngomongin jurnalistik, komunikasi dan sebagainya. Namun saya rasa, hal tersebut sudah terlalu banyak dilakukan. Toh, teorinya gitu-gitu saja, banyak copy paste dari ahli zaman purba yang sudah mati.

Lagi pula, saya memandang saya belumlah sehebat itu.

Menurut saya, berpikir hebat, berpikir besar, tak harus mahal dan wah. Termasuk dalam ide membuat buku ini.

Maka itulah, saya memilih topik sesederhana ini. Idenya segar dan original. Di sini juga sekaligus saya ingin menegaskan, bahwa kesejatian seorang wartawan itu adalah menulis.

Menulis apa saja, tak terkecuali pengalaman pribadi. Menulis tanpa pamrih, menulis tanpa mengharap puja puji, menulis tanpa mengharap amplop, menulis tanpa harus menargetkan award apa yang akan saya dapat atau tidak.

Menulislah, karena itu bagian dari sejarah.



Selengkapnya...

Komplen Sekumpulan Anak Muda

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti kisah saat saya menerima Komplen Sekumpulan Anak Muda soal pemberitaan Media Bawean.





Sabtu, 3 Oktober, Tiga anak-anak muda usia belasan, datang bertandang ke rumah. Saya melihat, seorang di antaranya sangat resah. Hal ini bisa saya tangkap dari bahasa tubuhnya. Matanya tak terarah, tubuhnya gelisah. Begitulah.

Semula, mereka bersilaturahmi, ngucapkan selamat hari raya, bla... bla... bla... Hingga akhirnya, seorang anak muda yang resah tadi, mulai membuka suara.

”Sampean kenal Basit Media Bawean?” tanyanya.

”Ya, tentu saja,” saya menjawab.

”Sampean kok bisa jadi penulis tetapnya?”

”Oh, itu. Sebenarnya saya suka menulis di blog. Nah, catatan di blog saya itulah, bila dirasa menarik, diambil juga oleh Media Bawean,”

”Oh, begitu ya...”

”Memangnya mengapa?”

”Oh, enggak, sebenarnya saya cuma minta tolong agar foto saya yang dipasang di berita Media Bawean dicabut. Malu saya kak,” ujarnya.

Selanjutnya dia menjelaskan, kegusarannya itu bermula saat membaca berita Media Bawean yang berjudul Polsek Sangkapura Mengamankan Pemuda Mabuk-mabukan.

Dalam berita itu ditulis, Polsek Sangkapura pada Rabu (30/9) mengamankan beberapa pemuda asal Desa Sungaiteluk yang sedang mabuk-mabukan di pinggir jalan raya dengan minuman beralkohol. Pengamanan dilakukan, setelah kantor Polsek mendapat laporan dari warga setempat.

Operasi dipimpin langsung oleh Kapolsek Sangkapura AKP Zamzani,SH. dengan anggota langsung mendatangi TKP dan berhasil mengamankan 5 orang pemuda sedang asyik minum-minuman jenis anggur hitam yang beralkohol. Kelima pemuda diamankan di Mapolsek Sangkapura dan mendapatkan pembinaan.

Nah, anak muda yang datang ke rumah ini rupanya salah satunya. ”Saya malu Kak, bagaimana nanti bila saudara-saudara saya baca, baik yang di sini maupun di rantau,” ujarnya.

”Lho kenapa harus malu, kan namamu tak disebut?”
”Iya kak, tapi kan wajah saya terpampang di sana!”

Di sela-sela dia menjelaskan, ponselnya berdering. ”Nah ini dia dari kawan saya yang fotonya ikut nampang di situ,” jelasnya, lalu dia mengangkat telepon.

”Ella, pokoknya bekna kalaben eson tak bisa beu paraben pole (Udahlah, kamu dan eku tak akan lagi dapat cewek,” ujarnya.

Lalu, si penelepon bertanya bagaimana hasil pembicaraannya dengan saya. ”Iye, la ekabela ka eson (iya, udah aku bilangin),” jelasnya, lalu menutup telepon.

”Gitulah kak, dari tadi kawan-kawan terus nelepon minta tolong. Yang terakhir ini paling parah, di foto itu dia berpose sedang memegang botol,” lanjutnya.

”Saya tahu saya salah, tapi tak usahlah foto kami dipasang. Kan kami sudah dihukum di kantor polisi, malam ditangkap, siang baru boleh pulang. Jadi berapa hukuman lagi yang harus kami terima?,” ujarnya.

Sayapun mafhum, lalu berjanji akan disampaikan pada Basit, selaku Pemrednya. ”Saya hanya bisa membantu, semua keputusan di tangan Basit. kalian harus paham itu,” terang saya. Syukurlah, anak muda ini maklum, lalu minta diri.

Selanjuunya saya telepon Basit, saya ceritakan semuanya. Saya katakan, bahwa saya sangat mendukung Media Bawean membantu kepolisian fight crime. Namun, saya harap juga mengedepankan rasa kasih sayang juga.

Menurut saya, anak-anak itu sudah cukup mendapat hukuman dari polisi, jadi jangan masih dihukum lagi oleh pemberitaan. Nanti apa kata keluarganya, kawan-kawannya, bahkan pacarnya? Toh, kesalahannya juga tak begitu berat.

”Kecuali bila mereka pembunuh atau merampok, pajang aja fotonya besar-besar.”

Alhamdulillah, basit mengerti. Dan foto itu langsung dicabut.


-------------


Simak terus kisah-kisah unik lainnya di blog ini...
Selengkapnya...

Selasa, 20 Oktober 2009

Hampir Pingsan saat Bersepeda

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Misalnya saat saya Hampir Pingsan saat Bersepeda.



Di awal-awal tahun 2009 ini, di Bawean sedang dilanda demam sepeda. Tiap sore, selalu saja ada yang bersepeda. Bahkan dari demam ini, lahirlah KOBYSA (Komunitas Bicycle Sangkapura).

Namun saat saya pulang kampung, demam ini mulai reda. Hal ini saya rasakan dari jarangnya orang yang melakukan akrivitas bersepeda. Meski ada, hanya satu dua saja. Tak massive seperti sebelumnya.

Adalah Kadir, Pikpik, dan Ratna, yang masih melakukan kebaiasaan baik ini. Mereka adalah kawan saya. Masih ada hubungan saudara juga. Khusus Kadir, semasih saya di Batam, dia sudah sering mengajak saya bersepeda. ”Oke, tunggu nanti saat saya pulang ya,” janji saya kala itu.

Makanya saat pulang kampung ini, saya langsung nelepon Kadir. ”Jadi kita bersepeda Dir?”
”Ye, Kak Rija. Jhella pokol empak la kabengkona (Ya, nanti pukul 16.00 saya ke rumah),” jawab Kadir.

Dan benar, akhirnya Kadir datang juga. Meski ngaret sampai setengah jam. ”Ta tedung eson (ketiduran),” excuse-nya.
”Ya udah, kita berangkat,” ajak saya.

Kadir pun berganjak memimpin. Dengan mantap dia mengayuh sepeda gunungnya. Pakaian yang dikenakan saat itu berwarna jingga, di punggungnya tertulis KOBYSA (Komunitas Bicycle Sangkapura). Ini adalah seragam kebanggan mereka.

Tujuan kami saat itu adalah ke Desa Gunung Teguh. Dengan melintasi rute perkampungan ke utara, mulai Dayabata - alun-alun - Sawahluar - Sawahdaya. Selanjutnya memasuki jalan persawahan, menuju Patar Selamat - Disallam hingga Batu Raket.

Namanya juga ke pegunungan, jalan yang kami lalui menanjak. Namun tak seberapa. Maklumlah, hati ini masih terhibur dengan indahnya pemandangan areal persawahan dan gunung ganang yang berada dui kanan kiri.

Hingga lepas dari Disallam, tanjakannya kian curam. Aduh, copot rasanya engsel kaki saya. Dengkul ini langsung panas. Maklum, belum terbiasa. Di Batam, saya jarang bersepeda. Olah raga saya paling banter hanya naik turun tangga di lantai dua Gedung Graha Pena Batam.

Namun, tantangan ini berhasil saya tempuh dengan baik. Kata Kadir, untuk ukuran pemula dengan perut gendut, saya dapat nilai B. Sesampainya di jembatan Batu Raket, sekitar 6 kiloan dari rumah, kami berhenti sebentar. Di depan saya ada tanjakan yang cukup curam. Saya pikir, di sinilah akhir rute ini.

Ternyata belum. Setelah melepas dahaga, Kadir melanjutkan perjalanan. Kali ini benar-benar berat. Saya mencoba mengayuh, namun sampai separuh tanjakan sudah tak kuat. Dengkul panas, nafas terengah.

Akhirnya saya putuskan turun dari sepeda, sembari terus mendaki ke puncak. Sementara Kadir, masih bertahan di atas sepedanya.

Tak lama kemudian, sampai juga di puncak. Di sini ada sebuah huma (dhurung). Kamipun beristirahat di sana. Sementara, nafas saya tersengal, jantung berdetak cepat.

Saat itu saya akan pingsan, namun segera saya berdiri, menghadap pegunungan lalu menghirup oksigen banyak-banyak. Selanjutnya sisa air mineral saya siramkan ke atas kepala. Tak lama, rasa mau pingsan itu hilang, seiring muklai teraturnya nafas, berganti hawa segar.

”Ah, tak kuat saya Dir. Rasanya macam diurut saja jantung ini,” jelas saya.

”Ini tak seberapa, jalan ini menuju Gunung Soka, jalannya lebih curam lagi,” jelas Kadir, bagai tak berdosa.

”Ah, sudahlah, ayo pulang. Sebentar lagi Maghrib,” ajak saya.

Kamipun pulang. Kali ini perjalanan agak santai, maklum menurun.

***

Pengalaman ini saya ceritakan kembali, ketika bertemu Pikpik dan Ratna. Merekapun mengecam Kadir, ”Kok diajak ke sana, ya iyalah. Yang enak sepedaan itu menempuh rute ke Lebak, jalannya rata,” jelas mereka.

”Ya, udah, kapan kita ke sana?”
”Besok sore juga boleh. Kita bertemu di alun-alun,” ujarnya.

Singkat kata, keesokan harinya kamipun bergerak. Kali ini menuju arah barat, menempuh rute Alun-alun - Pateken - Perikanan - Dermaga - Ra-as (selanjutnya saya tak hafal nama desanya). Agar tak silau oleh sapuan matahari senja, saya melindungi wajah dengan topi dan kaca mata.

Dan benar, rute ini jauh lebih santai. Maklum jalannya rata. Tanjakan sih ada, utamanya saat di dusun Ra-as, namun tak securam tanjakan di Baturaket kemarin.

Hingga akhirnya sampai juga di desa lebak. dari rumah, jaraknya sekitar 6 km. Di sebuah huma yang ada di pingguir jalan, di areal persawahan kami istirahat, sembari menikmati air mineral dan pemandangan alam yang mantap.

Selanjutnya kami pulang, sampai di rumah, Azan Maghrib berkumandang di telinga.


Foto: Istirahat di Lebak.


------------

Simak terus kisah-kisah unik lainnya di blog ini...
Selengkapnya...

Senin, 19 Oktober 2009

Makan di Kelong

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti kisah Makan di Kelong berikut ini.

Ini adalah secebis kisah dari ekspedisi keliling Bawean yang saya lakukan bersama Basit, Pemimpin Redaksi Media Bawean. Ada sisi lain yang menarik, selain kisah amburadulnya jalan sepanjang jalur yang kami lalui, yaitu soal kisah hunting makanan selama perjalanan.

”Gruukkk.... grukkk...”

Perut ini tak berhenti berderak, saat jam tangan sudah menunjuk pukul 11.30. Lapar. Mana matahari sedang panas-panasnya, sampai dua punggung tangan saya terbakar. Rasanya perih dan gosong.

”Di mana makanan khas yang enak pak Basit?”
”Di mana ya Pak, mungkin di daerah Tambak.”
”Aku dengar ada rumah makan kelong yang mantap?”
”Oh itu di Pangge, Pak setelah Tanjungori,”
”Apa memang enak?”
”Kabarnya begitu,”
”Ayo kita ke sana,” ajakku.

Brum.... roda-roda motor itu melaju, tubuhku berguncang lagi, menghindari lubang menganga dan batu tajam yang menlintang. harus konsentrasi penuh rupanya. Sudah lama lebih 8 tahun saya tak offroad, eh di sekarang malah kejadian. Padahal, saya pikir jalannya mulus.

Hingga sampai di dusun Dedawang, Teluk Jatidawang, Basit membelokkan sepedanya. ”Kita mampir dulu ke Tellok Jhete di sana ada sentra produksi pindang,” ujarnya. Akupun mengangguk.

Tak lama, kami sampai ke sebuah kampung nelayan. beberapa perahu tampak parkir di pantai, yang menghadap langsung ke Pulau Cina.

Saat saya memarkirkan sepeda motor, bau ikan pindang sudah menyengat.

Selanjutnya Basit mengajak saya ke sebuah rumah berdinding bambu. Ukurannya cukup besar. Dari dalam, asap tebal mengepul. ternyata di sana ada seorang wanita setengah baya, sedang mengukus pindang.

Di dalam rumah itu, ada puluhan tungku yang di atasnya bertengger sebuah kendil (kette) ukuran kecil. Dalam kette itulah, ikan pindang dimasukkan bersama garam, lalu dikukus dengan kayu bakar.

Puas melihat-lihat, kamipun berangkat kembali menuju Tambak. Setelah berguncang-guncang lagi, melakukan manuver-manuver lagi, akhirnya tiba juga di kota kecamatan Tambak. Tepat di pasar, saya meminta Basit berhenti. ”Kabarnya di sini ada empek-empek yang lezat?” tanya saya.

”Oh iya Pak, tadi udah tertinggal di belakang,”
”Kalau begitu, ayo balik lagi,” ajak saya. basit pun setuju.

Di sebuah warung pinggir jalan, saya memborong empek-empek. Buat oleh-oleh setibanya di rumah, Sangkapura. Namun untuk mengganjal perut yang lapar, saya memesan bola bakso (pentul) yang langsung saya santap di teras rumah dekat toko itu. ”Wah mantap, rasa ikannya terasa sekali,” seru saya, sembari meneguk hampir setengah botol sedang air mineral.

Setelah puas, perjalanan dilanjutkan kembali. Di sebuah daerah bernama Labuhan, Basit menghentikan sepeda motor. Sekitar 1 km dari pantai, saya melihat lima yacth (perahu pesiar) sedang berlabuh. ”Itu milik turis Belanda, Bapak. Mereka kerap ke mari,” jelas Basit.

Sementara itu, tepat di depan saya, sebuah kapal tongkang bersandar di pantai Labuhan yang landai. Di belakangnya, tampak sebuah tug boat. Lama saya mengagumi pantai ini, hingga akhirnya kami berganjak lagi.

Kali ini menuju ke Bandara Bawean, yang berada di desa Tanjungori. ”Sebentar lagi sampai,” jelas Basit. Soal kisah di bandara sudah saya tulis di blog ini sebelumnya.

Setelah dari Bandara. Nah, ini dia, tibalah saatnya untuk menjamu selera yang sedari tadi tertahan.

Selepas Tanjungori, roda-roda motor kami terus melintas di sepanjang pantai. Hingga dari kejauhan saya melihat sebuah rumah panggung berbahan bambu, berdiri di pantai agak menjorok ke tengah laut yang dihubungkan dengan jembatan yang juga berbahan bambu.

”Ah, mungkin itu yang dimaksud rumah makan kelong itu,” pikir saya.

Ternyata benar, Basit memarkir sepeda motornya. Saya lihat, posisi bangunan ini tepat diseberang pintu masuk ke situs Nyai Zainab, Desa Ponggo, desa yang satu-satunya di bawean memiliki bahasa endemik; berbahasa Jawa aksen Bawean. Selama dasawarsa, bahasa orang Ponggo tak terpengaruh Bahasa Sumenep, bahasa orang Bawean pada umumnya.

Di tengah deraan rasa lapar, saya masuk ke kelong itu. Namanye cafe Pantai Losari Diponggo.

Saya lihat bagunannya cukup apik. Di sebelah kiri pint masuk, terpasang parabola ukuran sedang yang ditopang sebuah pipa besi.

Sebelum masuk, kita diminta meninggalkan alas kaki di pintu masuk. Di dalam saya lihat aneka meja khas jepang, berjejer rapi. Ya, konsep rumah makan ini memang lesehan. Sebagai alasnya, pengelola membentangkan karpet dan tikar.

Bangunan kelong ini terbagi dari bangunan induk tempat pengunjung memesan makanan, dan bangunan pelengkap di belakang.

Di sini, tempatnya yang lebih elok. Dari sini, sembari menyantap hidangan, pengunjung dapat menikmati pemandangan laut yang indah, berlatar belakang perkampungan nelayan dan perahu-perahu kecilnya. Sungguh indah. Terpaan angin sepoi-sepoi menambah syahdunya nuansa.

”Makan pak?” seorang wanita berbadan subur, berusia 40-an tergopoh-gopoh menghampiri.

Saya pun melihat menunya. Semula kerangka otak saya berpikir, bahwa menunya tak jauh dari sari laut, sebagaimana khas masakan kelong. Tapi ternyata apa yang saya temui, berbeda sama sekali. Di sini yang ada malah nasi lalapan. Wah, kok jadi macam di pegunungan saja.

”Ya udah, saya pesan ayam penyet dan jeruk anget,” pinta saya. Sementara Basit pesan Indomie goreng dan es soda gembira.

Tak lama pesanan datang. Perlahan saya cicipi bersama beberapa daun kemangi, wah.... nasinya masih hangat, berasnya cukup pulen. Sementara daun kemangi yang magis, memberikan rasa yang atraktif. Excellence!

Lalu saya coba mencicipi ayam gorengnya, wah..... krenyes di luar, namun juicy di dalam. Mantap.

Saat tiu saya melirik Basit, wah, tampaknya dia juga sibuk menikmati mie-nya. Saya lihat, mimik wajahnya yang bulat bersemu merah. "Tambah nasi Pak Basit?!"

"Emh... Empon, ento la cokop. Ghik kenyyang bule, pon mare adheer kan engghellek (Udah, ini udah cukup. Saya masih kenyang, tadi juga baru sarapan," jelasnya.

Selanjutnya saya terus bereksperimen. Apa jadinya bila dua paduan ini saya cocol dengan sambalnya. Ah... Saya ambil bagian kecil, dococol, lalu ambil nasi di ujung jari, yak... siap disantap. Hasilnya?

Uwaaaahhhhhh... Mantap sekali, rasa ayam yang lembut dan krispi tadi, berpadu dengan pulennya nasi, dan tersentuh rasa sambal yang manis sedang dan godaan cabe yang lembut. Sungguh sebuah paduan yang cakep banget.

Sayapun sampai-sampai memanggil penjualnya. ”Wah, mantap banget sambalnya. Tolong dibungkusin ya, mau saya bawa ke Sangkapura,” pesan saya. Luar biasa.

Agar rasa cabe tak nempel, saya basuh lidah ini dengan irisan timun. Blezzzz.... Emh... Mantap, sensasi seger langsung terasa.

Terakhir, saya lengkapi sapuan makan-makan ini dengan meneguk hangatnya jeruk nipis peras. Wah.... benar-benar segar. habis pedas pedas, langsung dibasuh dengan yang segar. Tenggorokan ini jadi enteng kembali. Pokoe maknyus.












------------

Simak terus kisah-kisah unik lainnya di blog ini...



Selengkapnya...

Minggu, 18 Oktober 2009

Profesi Wartawan

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Termasuk bagaimana mereka memandang tentang Profesi Wartawan.







Pandangan warga di kampung saya tentang wartawan, sama halnya dengan masyarakat di belahan pertiwi ini. Wartawan itu, ya meliput berita. Titik.

Sehingga tiap kali saya bertemu orang yang mengenal saya, mereka selalu bertnya, ”Lho, meliput apa di Bawean?” Atau ada lagi, ”Enggak meliput gempa ke Padang?”

Atau ada lagi yang lebih parah, ”Tolong dong saya acara saya diliput, biar masuk ke koran di Batam,” ujar seorang yang menyelenggarakan selamatan tujuh bulanan.

Mendengar ini, saya kadang hanya tersenyum. Adakalanya saya menjawab, bahwa saya sedang cuti, jadi takl meliput dulu. Atau agar mereka puas, ya sudah, saya ambil kamera poket saya, lalu jepret-jepret. Lalu saya bilang, ”Nah, nanti ini saya terbitkan di Jawa Pos Batam,” jelas saya.

Yang saya maksud ”Jawa Pos Batam” adalah Batam Pos, institusi tempat saya bekerja. Maklumlah, di kampung kami warga lebih mengenal Jawa Pos. Merekapun senang.

Anggapan wartawan meliput, memang ada benarnya, namun juga kurang tepat. Karena di era industrialisasi pers sepesat abad ini, wartawan tak melulu orang yang meliput berita di lapangan.

Berdasar undang undang pers, yang disebut wartawan itu adalah orang yang secara konsisten mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan berita. Dari pengertian ini, jelas, seorang wartawan tak hanya sebagai orang yang mencari (meliput) berita saja, namun ada bagian-bagian lain. Yang penting harus konsisten. Itu saja.

Untuk menjaga konsistensi itulah, maka dibentuk sebuah perusahaan pers. Di dalam perusahaan pers ini, seorang wartawan bisa jadi dia menjabat sebagai sekretaris, kepala bagian, kepala departemen, manajer, general manajer, direktur, direktur utama, bahkan seorang presiden direktur.

Oleh karena itu pada perusahaan-perusahaan pers yang besar, baik dari segi modal dan reputasi, seorang wartawan yang duduk di level pimpinan kadang diajar bagaimana itu mengelola perusahaan.

Mereka belajar financial non manajemen (keuangan), pemasaran, iklan dan tentu saja, organisasi dan tata laksana perusahaan. Bisa jadi saat itu mereka disiapkan suatu saat bisa mengisi posisi entah sebagai direktur keuangan, pemasaran dan lain sebagainya.

Inilah yang sebenarnya yang sebanarnya mau saya jelaskan pada mereka, namun tak ada waktu.

Hingga akhirnya kesempatan itu muncul, ketika Koko Sujatmiko, Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Sangkapura, Bawean mengundang saya ke kantornya untuk berdiskusi soal pers.

Di sanalah saya menjelaskan sedikit organisasi kewartawanan, yang sebagian sudah saya jelaskan di atas.

Menurut saya, duania wartawan saat ini sama dengan dunia profesional lain yang memiliki jenjang karir. Mereka bekerja juga berdasarkan perencanaan, ada agenda setting, bussiness plan dan lain-lain.

Dalam perusahaan pers yang besar, karir wartawan dimulai sebagai reporter. Inilah ujung tombak. Merekalah yang meliput berita di lapangan. Selanjutnya, naik lagi sebagai asisten redaktur lalu redaktur.

Ini adalah semacam kepala bagian, orang yang bertanggung jawab akan satu persatu halaman koran. Redaktur juga bisa disebut editor, atau produser.

Naik lagi, ada asisten redaktur pelaksana dan redaktur pelaksana. Semacam kepala departemen. Mereka yang mengelola satu sesi koran. Dalam setiap eksemplar koran, biasanya ada beberapa sesi.

Naik lagi ada wakil pemimpin redaksi dan pemimpin redaksi. Mereka yang mengepalai redaksi. Di posisi lain, pemimpin redaksi bisa juga disebut manajer. Cuma beda bahasa saja, tugas-tugasnya sama.

Di atas Pemimpin redaksi ini ada Pemimpin umum, atau general manajer, ada juga nanti direktur, direktur utama, hingga chief executif officer (CEO).

Dari sini jelas, orang yang bertugas meliput itu adalah reporter. Reporter adalah wartawan, namun tak semua wartawan adalah reporter.

Semua ada tugas pokoknya, namun sah-sah saja bila selain reporter masih mau meliput. Toh, Dahlan Iskan saja, bos, bos, bos, bos, bos, bos, bos, bos, bos, para bos koran, masih mau meliput.

-------
Simak terus kisah menarik seputar liburan di Pulau Bawean di blog ini. Selengkapnya...
Selengkapnya...

Sabtu, 17 Oktober 2009

Misteri Baju Koko Basit

Terhitung hari Senin 28 September - Kamis 8 Oktober, saya berlibur ke Pulau Bawean. Banyak kisah unik yang berhasil saya rangkum di pulau yang berada 80 mil utara Jawa Timur itu. Seperti saat saya mengungkap tentang Misteri Baju Koko Basit.


Salah satu pertanyaan yang saya siapkan dari Batam setibanya di Bawean saat bertemu Abdul Basit, Pemred media Bawean, adalah; Mengapa selalu mengenakan baju koko? That it!

Sebenarnya, pertanyaan ini muncul ketika saya banyak mendengar bahwa Basit selalu mengenakan baju koko dalam kesehariannya.

”Pokoknya kalau kamu lihat orang yang siang malam selalu pakai baju koko, pasti itu Basit,” kisah seorang kawan, menjawab saya yang penesaran seperti apa Basit itu.

Ya, memang selama ini saya belum pernah bertemu langsung dengan Basit. Pertemanan kami hanya terjadi di dunia maya dan di dunia pulsa saja.

Dan, setelah lama saya simpan akhirnya pertemuan itu datang juga. Kesempatan berlibur ke Bawean itu datang juga. Dan saya memasukkan rencana bertemu Basit, dalam urutan atas listing agenda silaturahmi.

Saat bertemu pertama kali di markas Media Bawean, pada Senin (28/9) malam, pertanyaan itu belum sempat saya lontarkan. Meski saat itu saya lihat Basit mengenakan baju koko warna kuning. Maklumlah, saat itu Basit sedang sibuk editing, jadi tak enak hati mau mengganggu.

Hingga akhirnya, kesempatan itu datang pada keesokan harinya, Selasa (29/9). Saat itu Basit mengajak saya melakukan ekspedisi mendaki puncang Tanjung Gaan bersama keluarga besar Media Bawean. Kali ini baju kokonya ganti warna abu-abu.

Selama perjalanan menggunakan sepeda motor, Basit membonceng saya. Bak guide tour, sepanjang jalan dia menjelaskan bila ada tempat-tempat eksotik yang saya tak tahu.

”Ento nyamana Kampong Somor-somor, soalna benyyak somorna. Teap bengko andik somor (ini namanya Kampung Sumur-sumur. Soalnya, memiliki sumur yang bnnyak. Setiap rumah punya sumur),” jelasnya, menunjuk sebuah kampung yang berada jauh di pedalaman pulau Bawean.

Nah, dari perbincangan inilah akhirnya saya memiliki kesempatan untuk melontarkan pertanyaan yang sudah lama saya pendam itu. Mengapa selalu mengenakan baju koko? Namun sebelum masuk ke sana, saya terlebih dulu bertanya tentang apa motovasinya mengembangkan Media Bawean seperti saat ini.

Basit pun mulai mengurai, bahwa dia hanya ingin agar Bawean lebih dikenal lagi, tak hanya dalam skup nasional, tapi juga dunia. Selain itu, dengan media ini dia bisa memperjuangkan dan menyuarakan kepentingan masyarakat kepada pemerintah daerah, atau bajkan ke pusat.

Sebelum mengembangkan Media Bawean menjadi versi berita on line seperti saat ini, Basit bersama reken-rekannya membentuk sebuah LSM bernama Gerbang Bawean. Namun, suaranya kurang menggema. Hal ini akibat terbatasnya publikasi oleh press.

Karena itulah, akhirnya sekitar tahun 2007 dia mengembangkan Media Bawean. Saya sebut mengembangkan, karena Media Bawean sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1996. Namun saat itu hanya berisi kumpulan artikel tentang Bawean dari media massa nasional.

Di tangan Basit-lah, Media Bawean disulap menjadi media berita real time. Yang unik, ternyata semula Basit awam disain web. Dia bisa melakukan posting dan editing di web setelah didekte oleh mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya.

Namun karena semangatnya yang besar, akhirnya dia cepat mahir.

Mengambangkan media ini, bukannya tak banyak tantangan. Cibiran datang silih berganti. Namun Basit tetap istiqomah. Namun, banyak juga sambutan.

”Pernah motor saya pecah ban di sebuah desa, tiba-tiba pak kepala desanya menyuruh meninggalkan sepeda motor saya, dan meminjamkan sepeda motornya. Saya sungguh terharu,” jelasnya menuturkan pengalaman manisnya selama menjadi wartawan Media Bawean.

Singkat cerita, setelah ngobrol ”ka berak ka temor” maka tibalah saya melontarkan pertanyaan pamungkas itu. ”Mengapa selalu mengenakan baju koko?”

”Saya kurang suka mengenakan pakaian lain, selain baju koko. Rasanya lebih nyaman,” jawab Basit, sembari tetap berkendara.

”Punya berapa bajo koko?” saya penasaran.

”Ada empat, Bapak. Biru, merah, kuning dan yang saya pakai sekarang ini (abu-abu),” urainya.

Oh begitu rupanya.

Misteri baju koko Basit pun terkuak.



-------
Simak terus kisah menarik seputar liburan di Pulau Bawean di blog ini.
Selengkapnya...