Selasa, 03 November 2009

Propaganda propaganda

Jepang pemimpin asia
Jepang pelindung asia
Jepang cahaya asia

Jepang adalah saudara tua Indonesia
Jepang membentuk Putera
Jepang bertujuan untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan.





Ini adalah bunyi propaganda jepang saat mereka menguasai Indonesia sekitar tahun 1942-an. Propaganda ini mereka cetak melalui beragam pamflet dan poster.

Selain itu, jepang banyak memaparkan keberhasilannya dalam memimpin Asia Timur Raya, di antaranya rutin menerbitkan poster hasil kemenangan mereka atas lawan-lawannya.

Misalnya, dalam satu pertempuran berapa kapal perang, kapal selam bahkan pesawat terbang yang sudah dirontokkan.

Jepang menganggap, propaganda ini perlu sebagai sarana melanggengkan hegemoni mereka. Sebagaimana yang dilakukan tentara Julius Caesar, atau Nazi Jerman.

Selain itu, guna menarik minat pemuda Indonesia untuk bergabung dalam angkatan perang mereka. Sebagaimana dicatat, saat dikuasai Jepang, Indonesia dibagi dua: 1) P. Jawa dan Sumatra di bawah komando angkatan darat, berpusat di Jakarta. 2) Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku di bawah Komando Angkatan Laut yang berpusat di Ujung Pandang.

Tak mau kalah, Belanda yang lebih dulu bercokol di Indonesia, ikut juga mengeluarkan propaganda. Jadilah saat itu, selain perang fisik, juga perang poster. Isinya, sama-sama mengklaim keberhasilan, dan pembelaan akan Bangsa Indonesia.

Salah satu bunyi poster propaganda Belanda adalah “Nederland helpt Indie”. Di sana digambarkan, seorang wanita Belanda merentangkan tangan, siap akan memeluk seorang anak kulit coklat, bertelanjang dada yang berlari dengan senyum mengembang (bisa lihat gambar di bawah).

Setelah masa penjajahan ini usai, saat ini propaganda dari penguasa terus diperdengarkan. Ada yang mengklaim, di era pemerintahannya kesejahteraan kian meningkat, beras lebih murah, indeks pencapaian ekonomi lebih tinggi dalam sejarah bangsa ini, dan sebagainya.

Padahal kalau dipikir, sebenarnya bila dibanding dengan era lalu, tak begitu lebih baik juga. Tingginya pencapaian, murahnya harga beras dan sebagainya itu, kan belum diukur dengan jumlah penduduk dan kurs dolar terhadap rupiah antara saat ini dengan era lalu.

Ibaratnya, mungkin angka-angka memang naik, namun rasio pertumbuhan kurang atau bahkan macet. Contoh kasar, dulu emas satu gram aja Rp10 ribu, sekarang sudah Rp100 ribu.

Jadi kalau pemerintah zaman dulu berhasil melakukan pencapaian Rp1 juta, dan pemerintah zaman sekarang Rp5 juta, memang dari segi angka besar saat ini, namun bila dihitung pertumbuhannya masih lebih hebat yang dulu.

Tapi, ya sudahlah. Wajar- wajar saja setiap pemimpin mengklim keberhasilannya. Dan ini juga patut dihargai, karena untuk menuju ke arah sana tak mudah juga. Namun, kita haruslah kritis. Sebab, adakalanya hal tersebut dijadikan sebuah propaganda semata.

Propaganda (dari bahasa Latin modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan.) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sejumlah orang yang banyak.

Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk mempengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya.

Propaganda kadang menyampaikan pesan yang benar, namun seringkali menyesatkan dimana umumnya isi propaganda lebih menyampaikan fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional.

Tujuannya adalah untuk merubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran yang lebih lanjut untuk kepentingan agenda politik.

Dan ini yang paling jahat, Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan berpengaruh langsung pada perilaku untuk pencapaian suatu respon yang sama dengan niat yang dikehendaki dari pelaku propaganda.

Inti dari penjabaran ini adalah, propaganda adalah seni menguasai hati, melemahkan mental dengan kata-kata. Bila kita menderita penyakit ghumunan (mudah heran), selalu menganggap orang lain lebih superior, maka akan mudah ditaklukkan di perang ini.

Tak heranlah dulu Alexander dari Mecedonia berkata Veni, Vidi, Vici.

------------------- Poster-porter propaganda Jepang dan Belanda








1 komentar:

rissa nirwandar mengatakan...

Postingannya menarik , boleh tau sumber poster-poster propagandanya dari mana?
Terimakasih, mohon balasanya ^^