Minggu, 21 Juni 2009

Escape to Singapore (3)

(Masuk ke Rumah Kondom, Banyak Boneka Mr P)

Usai membeli baju anak, saya berjalan melintas depan Galeria, selanjutnya menyeberang jalan melalui jembatan penyeberangan menuju Far East Plaza. Jembatannya asyik, karena memakai eskalator. Lumayan bisa merehatkan kaki.

Keluar dari sini, saya melintas di Lucky Plaza jalan sebentar, saya melintas sebuah gerai “hot” bernama House of Condom. Dari luar saja sudah menggoda, dinding kacanya dipoles warna-warna merah dengan gambar perempuan seksi setengah tiduran.

Menarik juga, tapi hati-hati, karena ada aturan sebelum Anda masuk ke dalam. Aturan itu dipasang di atas pintu masuk. Bunyinya, “Strickly for 21 and abouve. Di bawah tulisan itu, ada beberapa tanda di antaranya kamera yang dicoret, yang berarti dilarang memotret.

Saya penasaran, lalu menuruni tangga masuk. Sesampainya di dalam, ruangannya bernuansa sedikit remang dengan lampu pijar warna kuning kemerahan. Di sini, saya melihat komoditas seksual dieksplorasi sedemikian luas. Namanya memang House of Condom, tapi di dalam tak hanya menjual kondom, juga alat bantu seksual yang lain.








Di sini banyak dijual, sex toy, sex doll dan sex accessories. Tak hanya untuk pasangan normal, untuk lesbi dan homo juga ada.

Pertama masuk di sisi kiri dinding terpajang aneka pakaian dalam wanita. Mulai lingrie hingga g string. Sementara di dinding sebelah kanan, terpajang aneka vcd dan buku soal seks dengan gambar wanita sexy yang menggoda.

Selanjutnya, tampak aneka bentuk Mr P dengan beragam ukuran berbeda pula. Dari gambar sampulnya, tampaknya alat bantu seks ini tak hanya untuk wanita saja, tapi juga untuk pria.

Bentuknya, terserah selera, mau yang “berbadan” kasar dengan gerigi-gerigi kecil, atau mau yang mulus. Warnanya juga variatif, ada yang hitam, merah hingga hijau. Yang bikin lucu, ternyata ada Mr P yang bentuknya bercabang segala. Entah apa maksudnya.

Selanjutnya, terpajang aneka jenis vibrator dengan beragam model dan fungsi pula. Ada yang sekecil jempol, hingga yang besar berbentuk Mr P pula.

Di rak pajang, selanjutnya berderet aneka jenis gel dan minyak pembantu gairah seksual. Juga dijual permen oral. Entah apa kegunaannya, saya pun tak sempat menanyakan pada penjaga tokonya, yang sejak tadi saya masuk terus mengawal sembari terus tersenyum.

Gel dan permen ini ini dipajang berderet bersama kondom dengan berbagai variasi warna, jenis, rasa. Mau yang bergerigi atau bergelombang juga ada. Mau yang rasa strawberry hingga nanas juga tersedia.

Yang agak seram, juga dijual alat bantu seksual bagi Anda yang menderita kelainan seks menyimpang khususnya yang berbau penyiksaan. Bisa pilih, ada borgol yang bentuknya seperti borgol maling, hingga yang dilapir kin berenda. Desainnya sangat bagus.

Kalau tak mau diikat dengan borgol, ada juga dijual aneka jenis tali pengikat, mirip sabuk dengan aneka jenis ukuran dan bahan yang baik dan tak bikin kulit lecet.

Di sini juga dijual penutup mata, bagi penderita seks yang baru terpuasi bila melihat pasangan dalam keadaan buta atau yang ditutup matanya istilahnya amaurophilla. Bentuknya mirip topeng zorro.

Nah ini yang serem. Ada juga cambuk kulit beragam ukuran. Ini khusus penderita seks yang merasakan kenikmatan bila melihat pasangannya menderita. Istilahnya, bondage and discipline, sadism and masochism.

Usai melihat kengerian ini, saya tersenyum geli melihat sex accessories yang dipajang di rak pojok. Di sini banyak dijual orang-orangan berbentuk Mr P. Ada yang kepalanya bisa angguk-angguk, ada juga yang pakai kaos oblong, ada juga yang paki dasi. Bentuknya lucu-lucu dan imut. Cocok dijadikan pajangan di meja kerja.

Selain itu, ada juga dijual gantungan kunci berbentuk aneka posisi bercinta. Bila yang suka merokok, juga dijual korek berbentuk Mr P Bahkan ada juga dijual aksesoris golf, bernuansa seks. Pokoknya serba seks.

Bagi lelaki yang sedang sendiri, juga tersedia boneka (sex doll) bentuknya ada yang kecil ada yang besar. Ada yang menyerupai gadis, ada yang menyerupai bayi.

Dan ini yang heboh, ada aneka lampu neon berbentuk Mr P, ada juga yang berbentuk payudara. Fungsinya untuk lampu meja atau lampu tidur. Ada ada saja.








Tak lama, saya keluar dari situ. Jalan lagi, melintasi beberapa pusat perbelanjaan yang dalam pembangunan. Di Singapura, membangun gedung tak boleh sembarangan. Semua harus ditutup, agar debunya tak mengganggu pejalan kaki.

Hingga akhirnya kaki saya terasa kesemutan dan panas. Saya lirik jam, pukul 16.30 WIB. Kalau dihitung dari saya tiba di Takashimaya, pukul 12.45. Berarti saya telah berjalan kaki sekitar 3 jam! Wah, tak terasa. Pantes saja pegel.

Akhirnya saya duduk di bangku tepi jalan. Meneguk air mineral yang mulai tinggal separo. “Aiiikkk….” Saya bersendawa lagi. Masih bau kare India, kuah nasi beryani yang saya lahap 3 jam lalu.

Setelah itu, jalan lagi menuju Takashimaya yang berada satu blok di depan. Masuk ke hall, buzzz.... hawa AC langsung menyergap. Dingin banget. Di selasar ini saya lihat beberapa gerai arloji merek-merek jempolan. Semua menggelar diskon hingga 50 persen.

Ada jam tangan Guess, masih bagus harganya 228 dolar, didiskon 50 persen jadi 114 dolar atau sekitar Rp800 ribuan. Tapi ada juga yang baru, tapi harganya di atas 150 dolar.
















Selain itu juga tampak gerai yang menjual asesoris wanita, seperti gelang, anting dan kalung, dengan pernik gemerlap. Bagus juga. Harganya rata-rata 13 dolar atau sekitar Rp100 ribuan.

Dari sini, saya tertarik masuk ke stan Polo. Ada diskon juga hingga 50 persen. Stelah dilihat, ternyata produk lama, itupun tetap mahal. Di sini ada kaos harganya yang udah didiskon 50 persen, seharga 140 dolar atau sekitar Rp1 juta.

Yang menarik, semua yang kantong belanja di sini tak lagi menggunakan plastik. Semua dari kertas, biar mudah didaur ulang.

Puas melihat-lihat saya pun pergi ke toilet. Ada sebuah perhitunagn yang harus diselesaikan. Sampainya di sana, saya periksa satu persatu pintunya. Aha, akhirnya dapat juga. Di pojok dalam, saya menemukan toilet jongkok.

Tentu saja saya pilih yang ini, maklumlah, orang kampung tak biasa berkawan dengan toilet duduk. Kalau di toilet duduk, rasanya hasrat ini bisa lepas hingga ke akarnya.

Yang paling pentingm, di toilet duduk ini tersedia keran air, sedangkan di toilet duduk hanya ada tisu. Ah, mana tahan saya yang begituan. Orang Indonesia ini kan umumnya tak bisa lepas dari air, apalagi untuk urusan perhajatan seperti ini.

Huah.... Akhirnya enteng juga. Siap-siap melanjutkan perjalanan. Cuci muka dululah di washtafel. Berbeda dengan listrik, untuk urusan air Singapura sangat irit. Karena itulah, salah satunya, keran air ini banyak dipasang yang bersensor.

Airnya baru bisa keluar kalau tangan kita dekatkan hingga 1 cm ke mulutnya. Kurang dari itu, akan mampet.
















Setelah bersih, saya mantap berjalan menuju Nge Ann City. Mau melanjutkan perjalanan ke Jalan Arab. Orang Indonesia, khususnya yang Muslim, belum sah bila tak berkunjung ke mari.

Sebab, di sini selain banyak menjual masakan nusantara. Masakan Jawa ada, apalagi Padang, berjejer. Soal rasa jangan khawatir, tetap maknyos. Dan yang paling penting, tak bau kare India lagi.

Di sini juga ada sebuah masjid tua. Namanya Masjid Sultan.

Keluar dari pintu Nge Ann, saya bersiap cari taksi. Tapi, ampuuun, antrenya panjang banget. Tapi tertib. Ah, di Singapura memang tak bisa lepas dari antrean. Naik taksi antre, naik lift antre, ambil ATM antre, bayar belanjaan antre, mau makan antre, mau ke toiletpun antre. Antre antre antre.

Selama antre itu, saya melihat deretan taksi beragam merek. Ada yang Mercedez, atau yang Hyundai. Semua keluaran baru. Namun, ada pula sedan yang agak tua. “Ah, semoga saja saya dapat yang Mercy,” batinku.

Setelah hampir 30 menit antre, ternyata harapan saya tak terkabul. Saya dapat taksi agak tua. Meski demikian, kondisinya masih bagus tak kalah dengan taksi baru di Batam. Maklumlah, Singapura gitu loh. Seperti yang saya sebut di atas, semua kemdaraan disini terawat sempurna.

“Where do yo go sir?” sapa Tay Boon Chye, sang sopir. Wah, Singlish lagi neh, gumam saya.

“Em... To Arab Street, please,” jawab saya.

Taksi berjalan. Kali ini musik yang diputar adalah lagu barat.






Pintu keluar masuk Nge Ann City, Rumah Kondom, dan loperkoran di sekitar Lucky Plaza.