Selasa, 30 Desember 2008

Lampu Jalan, Lampu Citra

Lega juga saat membaca catatan kaki Batam Pos pagi ini, di halaman utama, Wali Kota Batam Ahmad Dahlan dengan lantang berkata, bahwa tahun 2009 adalah tahun pembenahan infrastruktur. Artinya, Pak Wali sadar, infrasruktur Batam memang payah. Dan kalau boleh minta, tolonglah lampu jalan dijadikan prioritas utamanya.


Kenapa saya meminta lampu jalan, atau istilah teknis Pemko Bpenerangan jalan umum (PJU), menjadi hal yang utama, karena ini membawa citra kota. Bukankah kota selalu identik dengan sesuatu yang gemerlap, termasuk lampu malam?

Falsafah inilah salah satunya, yang mendorong Las Vegas, kota judi di Nevada, Amerika, memasang ribuan lampu pijar di tiap bangunannya, khususnya kasino. Di sini mereka seolah berpesan, “Hey lihatlah, inilah gemerlap hidup yang akan bisa Anda raih di sini, Las Vegas. (Tentunya jika Anda beruntung).”

Tak usah teralu rumit berpikir ke Vegas, coba bayangkan jika Anda baru masuk ke sebuah kota, pas malam hari. Pasti yang akan terpikir saat itu bahwa kota ini adalah kota hantu, miskin, tertinggal, dan ungkapan seram lainnya. Mengapa? Karena sepanjang jalan yang menyambut Anda hanyalah gelap gulita. Bayangkan jika di balik kegelapan itu muncul gerombolan perampok, tentu seram.





Inilah mengapa saya menekankan pentingnya Pemko Batam menjadikan PJU sebagai prioritas pembenahan infrastrukturnya. Karena banyak jalan-jalan di Batam dibiarkan tanpa lampu penerang. Kalau malam gelapnya minta ampun.

Soal ini, sebenarnya Kasubag Dokumentasi Humas Pemko Rudi pernah mengatakan bahwa awal bulan lalu Pemko Batam mulai membenahi PJU. Lampu-lampu yang berkekuatan 250 watt sudah dipasang di jalan-jalan protokol yang ada di Batam, di antaranya Sekupang -Batam Centre, Tiban-Simpang Jam, Batuampar-bandara, dan Batam Centre-Tanjunguncang.

”Seluruh lampu-lampu jalan tersebut akan diup-grade, karena salah satu tujuan perbaikan lampu-lampu tersebut untuk menyambut visit Batam 2010,” kata Rudi.
Namun kenyataannya, masih gelap. Lihat saja di sepanjang jalan ke Bandara. Padahal, bandara adalah pintu keluar masuk pendatang. Apa kata mereka yang baru bertandang ke mari, jika baru menapakkan kaki sudah disambut gelap-gelapan seperti ini?

Di kota sendiri, juga tak kalah gelap. PJU di sini tak semua tertancap di sepanjang jalan. Sedangkan yang ada kadang hidup, kadang mati. Padahal, PJU tak harus memakai watt tinggi. Pakai lampu LED saja sudah cukup. Selain hemat energi, sinarnya juga tak redup.





Penerangan yang ada di pusat kota Batam, umumnya sumbangan perumahan, toko-toko atau mall yang berjejer di tepi jalan. Jika tak ada, gelaplah sudah. Tak heran pada malam hari, banyak pengemudi di Batam memakai lampu dim (sorot), karena tak bisa melihat ke jalan dengan baik.

Kalau begini jadi teringat apa yang dirasakan masyarakat dunia sebelum abad 19. Bedanya kalau dulu saat malam tiba, hanya sinar bulan dan sinar lilin di balik jendela yang jadi andalan. Wajar sajalah, jika warga merasa ketakutan berjalan-jalan dan keluar rumah di malam hari.

Untuk itulah warga Eropa, sekitar abad 15 mulai mengenal lampu jalan. Kala itu, bentuknya masih sederhana, berupa lentera yang dipasang di luar rumah. Kalau dari etiimologisnya, “lampu” sendiri berasal dari kata “lampas”, bahasa Yunani yang berarti obor. Hal ini sudah dikenal sejak 70.000 tahum SM, tentu bentuknya masih sangat primitif.

Bahan bakar lampu masih berupa minyak zaitun, lilin lebah, minyak ikan, atau lemak ikan paus. Bahkan kemudian minyak tanah. Dalam perkembangannya, kerajaan-kerajaan di Nusantara banyak menghias jalannya dengan lampu-lampu ini. Pemandangan ini banyak dikisahkan dalam kitab-kitab kuno dan tulisan-tuliisan para pujangga.

Baru sekitar 1784 saat batu bara dan gas alam diperkenalkan, PJU di Eropa saat itu memakai bahan bakar tersebut. Berlanjut, tahun 1830 lampu jalan berbahan bakar gas mulai digunakan di wilayah yang lebih luas di beberapa kota di AS, khususnya di New York.





Revolusi teknologi penerangan terjadi pada pertengahan abad 19 setelah orang gencar melakukan percobaan dengan listrik. Meski pada tahun 1845-an telah banyak orang menghasilkan lampu listrik, namun pada tahun 1878 Joseph Swan di Inggris dan Thomal Alfa Edison di AS pada tahun 1879 secara terpisah berhasil menemukan lampu pijar.

Tak lama kemudian lampu karya Thomas Alfa Edison, terpasang di jalan New York dengan pasokan listrik dari pembangkit di Pearl Street yang didirikan sejak 1882.Lampu jalanan listrik diakui sangat membantu menurunkan angka kejahatan di jalan raya AS. Pada tahun 1930-an lampu merkuri dan sodium pun mulai digunakan.

Jika orang dulu saja sudah berpikir pentingnya lampu jalan, apalagi saat ini. Bayangkan, apa jadinya jika kota tak dilengkapi PJU, apa kata dunia?

-------------

Waduh, sulit neh cari referensinya, bahan bacaan ane udah habis…

Ikra’... Bacalah...

Ikra’ (bacalah). Itulah perintah pertama Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang buta baca tulis itu. Bukan salat, puasa, zakat, haji. Bacalah ya Muhammad, baca, baca, baca…

Yang Maha Agung, tentu maha tahu, apa efek membaca bagi manusia, sehingga dia perlu menekankan ini pada Muhammad sebelum memberi mandat kerasulan, hingga merelakan Islam jadi agama umat manusia.

Perintah inilah yang dilaksanakan umat Islam di masa-masa itu, sehingga mampu mengukir zaman keemasan. Banyak ilmuan besar dilahirkan, mulai matematika, astronom, kedokteran, hingga rancang bangun. Sebut saja Alkhwarizmi, Aljabbar, Ibnu Sina dan lain-lain.

Peradaban Islam sangat maju, kala itu dan memiliki koleksi buku di perpustakaan yang terpusat di Baghdad, Abbasiyah kini disebut Irak. Di masa-masa perang salib, orang-orang Eropa banyak dibuat bingung oleh kemajuan peradaban ini.

Saat itulah, mereka memboyong buku-buku karangan ilmuan Islam, untuk dipelajari dinegerinya. Bahkan buku resep masakan pun mereka bawa, hingga lahirlah masa renaissance.

Namun sayang, sebelum buku-buku ini habis dibaca dan dipelajari, bala tentara Timur Leng menginvasi Timur Tengah, menghancurkan lambang-lambang peradaban termasuk perpustakaan. Ada anggapan, sebenarnya peradaban manusia saat ini bisa lebih maju lagi, jika sekitar abad ke 14 itu, buku-buku karya ilmuan Islam tak dibakar.

***

Membaca dan ilmu begitu erat dan kuat. Sebut saja ilmuan yang anmda kenal, pasti mereka memiliki referensi membaca yang sangat banyak. Buku-bukunya seakan membentang dari masyrik dan maghrib.

Hal ini jualah yang menjadi resep kemajuan Jepang. Saat negara “gempa” ini hancur oleh bom atom, Kaisar Hirohito sampai perlu bertanya, ada berapa guru yang tersisa? Bukan tentara dan lainnya. Guru dalam hal ini adalah representasi dari ilmu pengetahuan.

Hingga saat ini, budaya membaca sangat lekat di bangsa ini. Di jalan-jalan kota, kantor-kantor, hingga mall masyarakat di sana sudah bisa membaca buku di sela-sela jeda aktivitas. Misalnya saat menungggu bus atau antre di dokter. Inilah yang disebut masyarakat informasi.

Nafsu membaca di negara-negara maju, juga sempat disinggung Amien Rais. Saat masih kulah di Chicago, dia dibuat geleng-geleng kepala oleh orang yang ada di sebelahnya.

“Saat saya masuk perpustakaan sekitar pukul 10.00, orang ini sudah membaca buku. Setelah saya salat Dzuhur lalu kembali, dia masih ada. Hingga Asar juga begitu. Sangat tekun,” ujarnya.

Amien lalu bercerita, di Amerika kegigihan dalam mereferensi buku, juga sangat menunjang prestasi. “Pernah saya jarang membaca, akibatnya nilai smester saya anjlok. ‘Amien Rais, ini nilai mu, C, C +, C-,’ begitu semua.”

Hingga sepulangnya ke Indonesia Amien Rais terus memupuk budaya membacanya daripada budaya menonton. Bahkan saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Danrem di Jawa Tengah, Amien Rais sering datang ke kantornya untuk numpang baca buku. “Buku-buku pak Susilo sangat komplet,” sebutnya.

Sayang, apa yang menjadi kebiasaan Amien Rais ini, hanya dilakukan segelintir masyarakat di Indonesia. Budaya membaca masyarakat sangat rendah. Budaya yang tertanam masih sebatas menonton. Televisi, yang oleh bangsa-bangsa maju di sebut kotak beracun, sangat berkuasa di sini. Tak ada waktu tanpa nonton.

Situasi seperti ini masih diperparah keengganan penguasa untuk memsyarakatkan budaya membaca ini. Perpustakaan jarang, buku-buku pun masih mahal. Ini yang membikin masyarakat makin malas dan malas membaca.

Apalagi di Batam, tambah jarang lagi. Membaca adalah sebuah keinginan berubah untuk lebih baik dan semua orang bisa melakukannya.

Toh banyak juga wartawan yang malas membaca, masak Safir Senduk saja tak tahu, he he he.

---------------------------

Terimakasih:
Amien Rais .

Senin, 29 Desember 2008

Perhatikan Prosesnya

Rekan saya seorang psikolog pernah berkata seperti ini, “Masyarakat Batam ini banyak terjangkit syndrom lampu Aladin, maunya serba instan, ingin sesuatu langsung jadi, tanpa memikirkan prosesnya. Jadinya macam hidup di dunia mimpi saja.”


“Tentunya kita banyak mendengar kisah Aladin ini. Ingin ini itu, tinggal gosok lampu wasiat, lalu keluar jin yang siap memenuhi apa saja keinginannya. Semua serba instant, tanpa proses berarti.”

Komentar rekan ini, saya renungkan baik-baik. Setelah dihubungkan dengan peristiwa kekinian, ternyata ada benarnya. Wajar sajalah di sini banyak bermunculan slogan-slogan, program-program yang tak menyentuh bumi.

Tentunya kita sering mendengar program yang bagus-bagus, yang inilah, yang itulah, gerakan inilah gerakan itulah, namun hanya tinggal kenangan saja. Meski berjalan, hanya saat pertama diluncurkan saja, selanjutnya, hilang entah ke mana.

Lebih konyol lagi, sering kita mendengar akan visi misi yang menyentuh langit. Nanti kita akan anu, kita harus menang, kita harus ke begitu, namun saat ditanya “Bagaimana caranya?” Malah tak bisa menjelaskan. Parahnya masih berkata, “Ya lu pikir aja sendiri!” Ampun!

Semua ini terjadi, karena para pembuat program itu hanya berpikir instan saja, tanpa pemperhatikan bagaimana prosesnya, atau bagaimana mengawal proses dari program tersebut. Semua ingin cepat, secepat membalikkan telapak tangan.

Allah ta’ala saja yang maha mencipta, dengan kun fa yakun-nya (jadi, maka jadilah), selalu menekankan akan proses ini. “…Tak kau perhatikan bagaimana bumi dihamparkan, langit ditinggikan….” Begitu salah satu firmanNya, lalu selalu ditutup “…apakah kamu tak berpikir?” .

Bahkan, Allah sangat bertanggung jawab mengawal proses setetes embun yang jatuh di daun hingga menguap saat disapu matahari pagi.

Penciptaan manusia sendiri juga melalui proses yang cukup panjang dengan melalui beberapa fase, mulai alam roh, alam rahim, alam kubur hingga akhirnya alam kebangkitan.

Kalau dalam teori kekinian disebut evolusi atau perubahan secara lambat. Kita juga berevolusi, apa yang kita miliki saat ini, tak terlepas dengan apa yang telah kita perbuat pada masa lalu. Kalau teori kupu-kupu disebut metamorfosa. Kata Michael Jackson, “People changing (manusia itu berubah).” Semua ada prosesnya. Tak ada yang instant kecuali mie instant.

Tahukan Anda, bahwa Nabi Muhammad itu orang yang tak bisa baca tulis? Tahukah Anda bahwa perlu 300 tahun bagi Amerika -yang katanya negara bebas dan menjunjung persamaan HAM- bisa memiliki presiden kulit hitam pertama?

Semua berproses, bisa cepat, bisa lambat. Namun sayang hal ini kadang diabaikan. Alasannya, bisa karena malas mikir atau tak sabar. Bisa juga karena tak mau atau tak mampu.

Pernah di blog ini saya mengulas soal Batam yang katanya pusat kesusasteraan Nusantara, ternyata tak memiliki pusat kajian sastra yang meliputi studi, telaah, dan pembinaan generasi penerus. Mana bisa prosesnya diabaikan seperti ini?

Selama ini yang ada hanyalah sibuk terfokus pada acara seremonial, berupa pembacaan karya-karya sastra saja. Tak heran jika saat saya mencari buku-buku kesusasteraan di Kepri ini sangat susah, apalah lagi bisa masuk pada kurikulum sekolah. Lama-lama belajar sastra Kepri nanti harus ke Malaysia atau Singapura.

Masih soal ini, seorang kawan petinggi sebuah perusahaan telekomunikasi pernah bercerita, pernah suatu hari dipanggil pejabat teras Kota Batam untuk membicarakan program Batam Digital Island.

Sang kawan ini bertanya, apa itu Batam Digital island dan bagaimana cara mewujudkannya? Tahu tidak apa jawaban pejabat teras itu? Sangat di luar dugaan. “Ya, Batam Digital Island itu banyak warga yang punya henpon (handphone)!”

Tentulah kawan saya ini geleng-geleng kepala. “Kan aneh saja Pak, masak punya program tapi tak ngerti apa itu programnya dan cara mewujudkannya. Mana bisa jalan?” keluhnya.

Semua memang butuh proses. Perhatikan ini. Kawal ini. Proses adalah sebuah kesadaran agar kita tetap menginjak bumi. Inilah yang membedakan antara dongeng dan fakta, antara tukang hayal dan ilmuan.

Minggu, 28 Desember 2008

Imam Bodoh, Makmum Dungu

Mendengar ceramah langsung KH Zainuddin MZ di Batam TV tadi malam, terasa lebih menyentuh, setelah lama acara semacam ini tak lagi rutin menghias layar kaca setelah KH Abduullah Gymnastiar, dicekal gara-gara poligami.

Ceramah Zainuddin di depan ribuan hadirin tadi malam, mengupas soal hijrah. Maklumlah, dia didapuk di sana untuk mengisi peringatan Tahun Baru Hijriyah, yang diselenggarakan Pemko Batam di Dataran Engku Putri, Batam Center.

Dari semua materi yang disampaikan sang dai, hampir semua sudah saya dengar. Namun ada satu yang bikin saya cukup terenyuh, ketika mantan politikus PPP itu menyinggung soal esensi pemimpin.

Menurutnya, saat ini orang yang jadi pejabat banyak, namun yang bisa jadi pemimpin kurang. “Apalagi yang negarawan,” jelasnya.

Masuk akal juga. Mencari pemimpin memang tak mudah, karena harus mampu memandang manusia, sebagai manusia. Bukan komoditas. Di sini harus rendah hati, arif, bijaksana, dan punya empati yang tinggi.

Kalau hanya jadi pejabat, tentu tak harus memikirkan hal ini, yang penting tujuan tercapai sudah. Menghalalkan segala carapun bukan hal tabu.

Meski tak harus memiliki jiwa pemimpin, namun tak ada salahnya jika hal ini dimiliki para pemangku jabatan. Begitulah kira-kira pesan yang ingin disampaikan sang Dai.

Namun demikian, bawahan juga harus memiliki tatakrama yang baik juga pada atasannya. Paham akan aturan, jangan kerjanya hanya menuntut, merengek-rengek dan menjilat.

Zainuddin pun mencontohkan hal ini pada hubungan imam dan makmumnya. Imam harus diikuti, namun jika ada kesalahan harus diingatkan dengan cara yang santun dan sesuai aturan. “Subhanallah, gitu kan caranya menegur imam. Dan imam pun tak boleh marah (saat diingatkan),” jelasnya.

Kalau imam dan makmum tak tahu aturan, maka salatpun akan berantakan. “Kalau imamnya bodoh, makmumnya dungu, apa jadinya tuh,” ujarnya.

Sebuah kisah dia sampaikan, dulu tiga orang sedang salat berjamaah di musala yang banyak tikusnya. Saat tahayyat akhir, rupanya ada tikus jatuh. Si imampun sontak berkata, “Ada tikus jatuh!” Otomatis, salatnya batal.

Mendengar hal ini, makmum yang pertama mencoba mengingatkan si imam. Namun tak tahu bagaimana caranya. Lalu dia berseru sambil menepuk pundak si imam, “Hoi, kalau salat jangan ngomong dong!” Batal lagi.

Mendengar ini si makmum yang satunya, tak menanggapi apa-apa, Cuma tak sadar dia berujar, “Ah, untung saya tak ngomong!” Jadilah semuanya batal. “Salatnya jadi ngobrol. Inilah kalau imamnya bodoh, makmumnya dungu!” kata Zainuddin, disambut tawa lainnya.

Contoh lain disodorkan Zainuddin, kali ini terjadi di Sumatera Utara. Saat itu ada seorang ibu menyuruh anaknya salat. Rupanya si anak ini tak tahu bagaimana caranya, “Ah, kau ikut saja apa yang ayah engkau lakukan.” Pesannya.

Si anak pun menurut, lalu dia jadi makmum sang ayah. Mereka pun salat di atas dipan. Hingga rakaat terakhir, hidung sang ayah tertusuk semacam paku, saat sujud. Kontan saja si ayah berseru, “Aduh!”

Mendengar ini, si anak, teringat akan kata-kata ibunya agar mengikuti apa saja yang ayahnya lakukan. “Spontan dia ikut mengaduh. Pakai lagu lagi, ‘Aduuuuuuh….”

“Mendengar ini si ayah langsung menegur, ‘Hei Nak, kalau salat jangan ngomong,’ si anakpun membalas. Batal lagi deh. Salatnya ngobrol,” ujar Zainuddin.

Mendengar isi ceramah Zainuddin ini saya jadi teringat perkataan pengasuh Hidayatullah. Menurutnya, saat ini susah mencari pemimpim informal bagi masyarkat.

Tentu saja, karena saat ini semua diorientasikan pada uang. Tak ada lagi, saat ini ada orang yang ihlas berbuat hingga jadi panutan kaumnya. Semuanya serba uang.

Semua ini buah dari kurang disiplin, kurang rapi, kurang teliti akibat kurang iman. Atau menurut singkatan Zainuddin, “Kurap, kudis dan kutil akibat kuman!”

-----------------
Sunggah naifnya kita, jika hanya karena gengsi, lalu memaksakan kebodohan yang kita miliki kepada orang lain...

Sabtu, 27 Desember 2008

Diskusi, Mencuri

Sudah enam bulan ini saya membentuk sebuah jejaring diskusi. Anggotanya bisa siapa saja, mulai spesialis, pendidik, psikolog, jurnalis, teknokrat, anggota DPRD, dan lain-lain dan lain-lain.

Forum ini tak formal. Kadang diskusi ini saya lakukan dengan memanfaatkan semua teknologi komunikasi yang ada, mulai via telepon, e-mail atau datang langsung ke rumah atau kantornya. Kadang siang, kadang malam. Pokoknya asal ada unsolved misteries, langsung digelar.

Maklumlah, pikiran manusia (sebut saja daya kritis berpikir) jika terus diasah umumnya liar, tak dibatasi tembok tebal, jarak dan waktu. Saat molekul-molekulnya membuncah, harus segera dituangkan, biar tak pecah. Caranya, tentu saja melalui diskusi tadi.

Dan yang paling penting, ada sesuatu yang bisa diambil atau dicuri dari diskusi ini. Iya dong, ngapain diskusi capek-capek, kalau tak ada yang bisa kita ambil dari lawan bicara tersebut. Apa itu? Tentu saja ilmunya. Bisa juga berupa gagasan hingga tukar-tukaran buku, pokoknya ada masukanlah.

Apa bedanya dengan gosip? Tentu lain. Di diskusi yang dibahas adalah kenyataan berdasar bukti empiris, di sana ada telaah, dardasar beberapa fakta penunjang dan referensi baik dari literatur atau dari pengalaman. Jadi sangat ilmiah.

Kalau gosip, kan tak perlu harus ada fakta penunjang kan? Umumnya hanya kejelekan orang saja. Ah…

***

Jangan remehkan kekuatan diskusi ini, karena kemerdekaan bangsa ini dibuat dari diskusi-diskusi kecil semacam ini. Ceritanya dulu setiap Kamis malam, Soekarno sang Proklamator itu, selalu menggelar diskusi kecil dengan beberapa rekannya di rumah KH Hasyim Asyari.

Di sini dibincangkan soal masalah bangsa, selanjutnya ada perumusan dan langkah-langkah aksi ke depan. Karena digelar setiap Kamis malam, maka forum ini disebut juga sebagai Forum Kamisan.

Forum-forum diskusi kecil semacam ini juga digelar di markas Persatuan Mahasiswa Indonesia di Rotterdam, Belanda, pimpinan Bung Hatta. Dari sinilah cikal bakal nama "Indonesia" sebagai nama bangsa bermula, menggantikan nama "Hindia Belanda" (lebih lengkap klik ini: http://rizafahlevi.blogspot.com/2008/06/opiniku-2.html).

Kesaktian diskusi ini jualah, yang membikin Belanda gusar lalu saat itu melarang anak-anak bangsa berkumpul. Mungkin karena berkaca dari masalah ini, sampai-sampai UUD 45 sendiri, menjamin kebebasan berserikat dan berkumpul.

Meski kelihatannya sederhana, namun diskusi bukannya sebuah hal yang gampang di lakukan, khususnya bila dikaitkan dengan kondisi ego, kekuasaan dan lingkar pergaulan. Karena bukanlah hal yang mudah untuk menerima gagasan atau kritik, dan bukanlah hal yang mudah pula menyatukan buah-buah pikiran yang terbagi oleh kedekatan oleh darah, grup, wilayah ideologi dan semacamnya.

Maka itu, perlulah hati bijak untuk menyimak dan menelaah. Rendah hati saja tak cukup. Masing-masing anggota diskusi haruslah memposisikan diri sebagai telapak kaki. Inilah yang susah, karena umumnya mereka ingin menjadi kepala, ngomooooong terus.

Padahal, menjadi telapak kaki tak jua hina. Karena, meski tak bisa menentukan arah, telapak kaki bisa menjaga agar tubuh beraktivitas dengan baik. Telapak kaki juga dapat menjaga agar tubuh tak sakit bila terjatuh. Jadi, jangan remehkan telapak kaki. Toh Surga juga berada di sana kan?

Oke deh, selamat berdiskusi. Selamat mencuri.

------------------------

Prescript:

Bebaskan dirimu, jangan mau terus dibodoh-bodohin Kompeni


Hidup itu tak selalu indah
Tapi yang indah itu selalu dalam kenangan

Kamis, 25 Desember 2008

Sastra, Tepuk Tangan, What Next?

“Susah sekali ternyata mencari buku tentang pantun Melayu, di kota yang katanya pusat kesusasteraan Nusantara ini.”

Itulah keluhan rekan saya, seorang yang tertarik pada kesusasteraan Kepri. Tadi malam, memang sengaja saya menemuinya. Sudah lama saya tak berdiskusi dengan rekan saya ini. Sambil ditemani secangkir teh hangat, tentu saja.

“Setelah mutar-mutar toko buku tak jua saya temukan buku itu, maka saya mengklik ‘Datuk Googgle’. Aha, akhirnya dapat juga. Namun, semua pranalanya dari Malaysia. Padahal saya ingin mencari sastra khas Kepulauan Riau,” gerutunya.

“Kok bisa begitu?” kejar saya penasaran.

“Ah mestinya, orang sini mulai memikirkan, bikin buku atau semacamnya, yang berisi dasar-dasar atau pengantar kesusasteraan Kepulauan Riau ini,” jelasnya.

“Lho, kan sudah ada. Tuh Gurindam 12. Banyak lagi yang lain,” sergah saya.

“Ya! Tapi itu karya sasta, bukan dasar. Itu hanyalah karya besar. Yang diperlukan saat ini dasar-dasar atau teknik-tekniknya. Bagaimana memasyarakatkan sastra itu sendiri, kalau perlu bisa dirumuskan hingga masuk dalam kurikulum sekolah, sehingga bisa menciptakan dan membina bibit-bibit sastrawan muda,” jelasnya.

“Kepulauan Riau ini adalah pusat kesusasteraan Za. Kan katanya di sini gudang penyair dan penulis puisi handal. Jadi, sangat disayangkan jika itu hanya menjadi sekadar seremonial saja.”

“Di sini juga banyak tersimpan naskah kuno, peninggalan pujangga agung, tapi hanya dibiarkan jadi koleksi yang lapuk dimakan zaman. Mestinya harus ada yang mau mengkaji ulang, minimal menulis ulang. Kalau tak ada orang yang mau, pemerintah setempatlah yang harus mendorong, memfasilitasi."

"Caranya?"

"Ya bila perlu bikinlah sebuah badan di bawah Dinas Kebudayaan yang kerjanya merevitalisasi karya sastra di sini. Di sana juga dibikin pusat studi dan kajian, lalu diterbitkan dalam sebuah buku. Badan ini jua nantinya harus memayungi sastrawan-sastrwan di sini, sehingga lebih terarah. Katanya mau melestarikan budaya. Jangan tanggung dong. Kalau hanya membaca puisi saja belum cukup.”

Pendapat rekan saya ini benar adanya. Inilah yang dinamakan membina tamaddun. Ada alih “teknologi” di situ dari yang senior ke junior. Ada telaah, ada tunjuk ajar, ada penemuan-penemuan. Dasarnya yang dibina bukan barang jadinya.

Ini juga yang dilakukan bangsa Eropa pasca perang Salib. Dalam membangun peradabannya yang banyak tertinggal dari Islam kala itu, mereka banyak memboyong buku-buku karya ilmuan Islam ternama, seperti Aljabbar, Al Khwarizmi, bahkan buku resep masakan, hingga akhirnya mereka mengenal rempah-rempah.

Buku-buku ini mereka pelajari, mereka telaah dan kaji hingga melahirkan ilmu pengatahuan yang baru. Inilah juga yang disebut transformasi pemikiran. Inilah juga yang dilakukan Malaysia sekarang. Saking inginnya menjadi pusat kebudayaan Melayu, mereka sampai-sampai memburu naskah-naskah kuno ke Kepri.

Jadi, jangan marah kalau Hang Tuah dan sumurnya mereka klaim ada di daerahnya, karena mereka punya bukti kajian. Sedangkan di Kepri? Proses ini masih minim dilakukan, umumnya baru terfokus pada aksi seremonial saja.

"Kalau begini terus, lama-lama kita akan belajar sastra Kepri ke Malaysia atau Afrika Selatan, ya Mas," saya menambahkan.

“Ya mungkin saja Za.Makanya, semua ini harus ada tujuannya. Matlamat kata orang sini.”

Saya diam sejenak, menyeruput teh hangat. Pikiranpun teringat pidato WS Rendra dan Taufik Ismail saat Simposium Sastra Nasional di Universitas Muhammadiyah Malang 1999. Di depan sastrawan se Indonesia dia bertanya, setelah baca puisi (sambil berteriak-teriak, menangis-nangis)lalu apa?

“Apakah hanya tepuk tangan? Bisa menyentuh tidak (ke masyarakat)?” kata Rendra.

Ini tahun 1999. Saat ini, tahun 2008, setelah 9 tahun berlalu bagaimana? Malah lebih parah, pelajaran sastra justru semakin menghilang

Yang lebih lucu lagi saat Djatmiko Djatman, sastrawan yang juga psikolog itu tampil. Masih dalam iven tersebut, baru saja dia membaca judul puisinya, langsung disambut tepuk tangan. Djatmiko pun berhenti membaca lalu bertanya.

“Kok sudah tepuk tangan? Apakah ini yang diharap?” jelasnya.

“Lha iya Za. Itu-itu yang saya maksud. Setelah itu apa? Hendaknya pemerintah dan sastrawan di sini memikirkan bagaimana membikin “mesin” penyair-penyair muda. Kalau hanya bisa sendiri saja tak ada regenerasi buat apa?” jalasnya.

“Ini adalah masalah serius yang harus menjadi pemikiran bersama, kalau kita ingin menjadikan Kepri sebagai pusat kesusasteraan. Untuk itu, sudah saatnya para sastrawan daerah merumuskan atau kalau perlu membikin buku tentang dasar-dasar kesusastraan,” lanjutnya bersemangat.

“Coba bayangkan Za, masak anak sekolah di sini lebih tertarik pada pantun gaul dari pada karya luhur semacam Gurindam 12!” jelasnya. Sayapun sejenak terdiam ikut mikir. Lalu bertanya, "Kok bisa?"

“Lha iya. Jadi siapa yang mau disalahkan? Para guru di sekolah itu? Lha mereka sendiri kesulitan mencari referensi berupa buku-buku sastra, khususnya dasar-dasar atau pengantarnya!”

Sayapun kaget. Hampir tersenggol cangkir teh. “Lho, masak?!”

“Inilah yang menurut saya perlu dipikir para penyair itu Za. Bukan hanya membikin karya-karya semata. Mereka harus tampil menjembatani agar satra di sini lebih hidup lagi dan berakar. Katanya ingin melestarikan sastra?”

“Iya dong!” balas saya.

“Nah, makanya harus ada tujuan. Bagaimana cara dan ke mana arahnya?”

“Terus gimana dong?” Saya kian bego.

“Ya, seperti yang saya sebut di atas. Selain itu juga harus membikin kelompok-kelompok pecinta sastra!”

“Wah, agak sulit tuh.”

“Ya iyalah, dasar-dasarnya saja tak dibina. Inilah tugas para ahli-ahli sastra di sini untuk segera merumuskannya. Kalau hanya nunggu sastrawan lahir dari alam, mana tahan?”

“Jadi harus bikin sekolah sastra gitu?”

“Wah, kalau itu lebih baik lagi. Tapi tak usah muluk-muluk gitu lah, yang penting ada pembinaan. Di sana diarahkan bagaimana sih rujukan kaidah-kaidah atau pakem sastra Kepri itu? Seperti apa bentuknya? Selama ini susah kita menentukan. Pantun saja itu banyak jenisnya kok."

"Lho kalau pakemnya memang tak ada gimana?"

"Ya harus dijelaskan. Berilah pemahaman, agar generasi muda mengerti. Tapi apa iya tak ada pakemnya? Paling tidak ciri khasnya gitu!"

“Iya juga. Benar juga!”

"Sekarang kamu lihat saja, kalau hanya bikin puisi banyak yang bisa. Namun apakah itu bagus? Itu yang susah kita nilai, karena standar penilaiannya kita tak tahu."

"Ini contoh aja, banyak karya sastra di sini dikenal karena yang bikin orang yang punya jabatan saja kan? Misalnya sajak-sajak Bu Aida (Aida smeth Abdullah, Anggota DPD Kepri). Sajaknya didengerin orang karena dia pejabat saja kan? Coba kalau tidak. Apa iya orang mau denger?"

"Semua bukan lahir dari komunitas sastrawan."

“Itulah Za, perlunya para sastrawan di sini merumuskan dan menyusun sebuah buku risalah, sejarah dan sebagainya. Buku inilah yang nanti jadi acuan, bahkan jika perlu dimasukkan dalam sebuah kurikulum. Ini baru namanya sumbangsih pemikiran Za. Pemikiran yang membangun! Sehingga kesusasteraan di sini lebih berkembang lagi.”

Selain itu, pertanyaan Rendra sembilan tahun lalu bisa terjawab ya... "Setelah ini apa?"

----------
Ada sebuah mitologi Yunani tentang seorang Dewa yang mencuri api dari Dewa lain. Api itu kemudian mereka berikan pada umat manusia. Dari api tersebutlah, manusia menemukan teknologi moderen.

Senin, 22 Desember 2008

Rekreasi Keluarga, Taman Kota, Lalu…

Jangan remehkan sarana rekreasi keluarga, jangan remehkan taman kota. Karena hal ini dapat membantu membentuk kepribadian warga, menjadi paru-paru kota, bahkan di Singapura taman kota dapat difungsikan sebagai pertahanan dari serangan musuh.

Manusia di kota-kota besar, khususnya yang berkeluarga, perlu rileks untuk melepaskan kepenatan yang mendera. Untuk itu, mereka memerlukan sebuah sarana rekreasi, selain untuk mengusir stress, juga ajang mengasah kebersamaan.

Bukan rahasia lagi, jika para orang tua di kota-kota besar, kurang berinteraksi dengan anak-anaknya. Hidupnya banyak dihabiskan di kantor dan kegiatan nafkah lain. Batinnya kadang menjerit, namun mau bagaimana lagi? Inilah tuntutan hidup.

Di sinilah pentingnya sarana rekreasi keluarga. Tak heran, saat sore hari atau pada hari libur, mereka memanfaatkannya ke tempat-tempat tersebut. Di sanalah nantinya mereka membina kebersamaan, membentuk karakter anak-anaknya, sekaligus dapat mengasah emosional quotien-nya (EQ).

Namun kemanakah semua ini didapat? Mengingat Batam sangat miskin sarana rekreasi keluarga. Paling banter ke Jembatan Berelang, atau duduk-duduk di mall sambil melihat-lihat mimpi tak terbeli yang terpajang di etalase.

Karena itulah, saya sangat gembira ketika perusahaan properti di Batam mulai berinvestasi ke arena rekreasi keluarga tersebut. Ocarina misalnya, 28 Desember ini membuka sebuah mega wisata terpadu, dengan beragam wahana yang dapat menumbuh kembangkan kreativitas anak.

Tak lama lagi, Aston akan membuka lahan di Batam Center, untuk membangun tempat penginapan terpadu, lengkap dengan arena rekreasi keluarganya. Andalan mereka adalah perosotan air raksasa.

Semua ini, meski tidak gratis, akan berdampak baik bagi masyarakat dalam membina kebersamaan sekaligus pengusir suntuk. Selain itu, mereka akan lebih variatif lagi menentukan pilihan rekreasinya, tak hanya terpatok ke Barelang atau mall saja.

Semoga saja, ke depan makin banyak lagi yang membuka sarana rekreasi keluarga semacam ini. Bila perlu, setiap perusahaan dapat menyediakannya secara cuma cuma sebagai sarana pembangkit semangat para karyawan.

Contohnya, tak usah usah jauh-jauh, tentunya yang pernah ke Jawa Timur, khususnya Malang, Anda tentu mengenal Senglaing, pusat rekreasi keluarga terbesar di sana. Ceritanya sebelum dibuka untuk umum, taman wisata milik PT Bentoel Malang tersebut, ditujukan untuk para karyawan perusahaan rokok itu.

Yang lebih menarik lagi, seperti yang dilakukan pabrik otomotif Toyota di Gibson County, Princeton Indiana, Amerika. Saking pentingnya sarana rekreasi keluarga ini, mereka membentuk sebuah child care center (CCC) khusus anak-anak karyawan. Di arena yang buka 24 jam ini, tak hanya diisi arena permainan, namun juga berisi pendidikan bagi anak pra sekolah.

Wahana bermainnya juga tak perlu wah, yang penting bisa membentuk karakter positif bagi si anak. Misalnya, ayunan dan jungkat-jungkit. Saat bermain itulah, mereka dapat belajar gotong royong, saling memberi dan motivasi.

Selain bermanfaat bagi si anak, CCC ini juga membantu meringankan beban orang tua dalam bekerja, sehingga lebih fokus. Maklumlah, siapa sih yang tak memikirkan anak, khususnya balita, di saat kita sedang tak di rumah? Nah, dengan adanya CCC ini, beban tersebut akan sirna.

Setelah semua ini berjalan, kini tinggallah kita menunggu peran pemerintah daerah. Karena jika mereka jeli, keberadaan sarana hiburan keluarga ini dapat dijual sebagai aset dalam menyongsong Visit Batam 2009. Kenapa saya bilang “jeli”, karena kadang banyak iven bergengsi di Batam yang kadang lolos dari pandangan.

Misalnya, beberapa waktu lalu di Sumatera Ekspo ada pergelaran Banana Kabaret. Pergelaran ini sangat bagus dan bertaraf internasional. Koreaografernya pun tak main-main, jebolan Suara Mahardika Danny Malik.

Namun sayang, pergelaran ini sepi peminat. Padahal di Orlando, kabaret semacam ini selalu ramai pengunjung. Entah di mana letak kesalahannya, apakah pergelaran berkelas internasional ini tak laku dijual, atau memang kurang promosi?

Selain itu, pemerintah juga harus terus melengkapinya dengan makin banyak lagi membuka ruang publik untuk sarana rekreasi warga, seperti membangun taman-taman kota. Sehingga kian menambah variasi masyarakat dalam melepas penat.

Konsep semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Contohnya, Kerajaan Babylonia sangat terkenal dengan taman gantungnya. Bahkan peradaban Pompei sebelum hancur oleh semburan lahar Visuvius, juga sudah memadukan kota dengan taman-taman indahnya ini.

Hal ini jualah yang dilakukan Singapura. Di samping menyediakan sarana hiburan keluarga yang berkelas, mereka juga menyediakan taman-taman kota. Soal ini mereka garap dengan serius, karena selain menjadi sarana penghilang stress warga bersama keluarga, juga sebagai paru-paru kota.

Bayangkan saja, pada lahan seluas 1.600 meterpersegi, yang terdapat 16 pohon berdiameter tajuk 10 m mampu menyuplai oksigen (O2) sebesar 14.000 liter perorang. Setiap jam, satu hektar daun-daun hijau dapat menyerap delapan kilogram CO2.

Tak hanya itu, satu hektare RTH mampu menetralisasi 736.000 liter limbah cair hasil buangan 16.355 penduduk; menghasilkan 0,6 ton oksigen guna dikonsumsi 1.500 penduduk perhari; menyimpan 900 m3 air tanah per tahun; mentransfer air 4.000 liter per hari atau setara dengan pengurangan suhu lima sampai delapan derajat Celsius, setara dengan kemampuan lima unit alat pendingin udara berkapasitas 2.500 Kcal/20 jam; meredam kebisingan 25-80 persen; dan mengurangi kekuatan angin sebanyak 75-80 persen.

RTH Singapura juga dirancang khusus untuk mendukung pertahanan kota. Taman-taman yang saling berhubungan menyediakan jalur pejalan kaki yang cukup lebar dan kuat untuk dapat dilalui oleh kendaraan lapis baja, tank, truk, atau kendaraan berat lainnya untuk suplai logistik jika seandainya Kota Singapura diserang dan jalan-jalan raya diduduki. Bahkan, median jalur hijau jalan raya menuju Bandara Changi yang terdiri atas pot-pot tanaman dapat dipindahkan dan disulap menjadi landasan pacu pesawat tempur F-16.

Di balik semua kehebatan fungsi tersebut, konsepnya RTH Singapura sangat sederhana. Berdasar The Parks and Waterbodies Plan (Rencana Induk Ruang Terbuka Hijau/ RTH) kota Singa ini hanya mengandalkan dua jenis tanaman, yakni pohon dan rumput, yang ditanam secara menyatu membentuk RTH kota yang nyaris tak terputus (connector parks).

-------------
Sumber Bacaan:
Batam Pos
Kompas
National Geographic

Semalam di Situbondo (1)

Hari Rabu (24/12) lalu saya sempat jalan-jalan ke Situbondo. Ada sebuah urusan yang saya lakukan di Kabupaten yang berada di akhir jalan proyek Deandles, Anyer-Panarukan, ini.

Jarak Surabaya-Situbondo sekitar 194 kilometer. Saya berangkat dari Surabaya dengan Kijang Innova, sekitar pukul 23.30, sampai di kota ini sekitar pukul 02.30, jadi sekitar 3 jam perjalanan. Ini karena jalan malam, kalau siang bisa membengkak sampai 4-5 jam! Akibat sering di sergap kemacetan.

Untuk bisa ke Situbondo, saya masih melalui beberapa kota menengah dan kecil, urutannya seperti ini, Surabaya – Sidoarjo - Pasuruan – Probolinggo – Situbondo. Kota-kota ini, hanya tersambung oleh satu “jalan darah”, jalan rumosa, proyek Belanda yang bermula dari Anyer hingga berakhir di Panarukan.

Kalau terus disambung, maka jalan ini akan berlanjut ke Banyuwangi, kota yang berbatasan langsung dengan Bali. Tak heran jika sepanjang perjalanan, saya banyak berpapasan dengan truk-truk besar dan beragam bus antar kota antar provinsi.

Latar belakang sejarah inilah satu-satunya hal yang menghibur hati pendatang baru seperti saya selama perjalanan, di samping kondisinya yang mulus dan pemandangan sekitar. Kalau tidak, pasti boring total.

Ya, bayangin aja, 3 jam dalam kabin mobil. Saat itu yang terpikir dalam benak saya adalah, kok tak sampai-sampai? Padahal ngobrol udah, tidur udah, makan camilan udah, minum? Nggak ah. Takut nanti kebelet buang air kecil, mau dilampiaskan ke mana? Selain segan mau menghentikan laju mobil, juga tak enak aja jika harus melakukannya di tempat terbuka seperti pinggir jalan atau rerimbunan semak. Tak biasa “diekspose” aja.

Di sela-sela perjalanan itu pula, kadang sering saya mengintip ke luar jendela, saat melihat toko-toko yang berderet tepi jalan. Fokus saya cuma satu, membaca alamat yang tertera di bawah nama tokonya. Sehingga bisa tahu di mana saya saat itu. “Ampun, baru sampai Bangil (Pasuruan). Dua jam lagi!”

Hingga akhirnya pukul 02.30, sampailah saya ke kota tujuan. Di sini saya bermalam di Rosali Hotel & Resto, satu kilo dari pusat kota. Kamar-kamar di hotel ini berbentuk rumah-rumah, ada yang deret ada juga yang berupa bangunan dua lantai.

Semua bangunan ini tak tampak dari luar, karena terhalang (berpagar) rumah panjang yang berfungsi sebagai resepsionis dan retestoran. Makanya saya semula tak menyangka kalau ini adalah hotel.

Yang luar biasa, di dalam lingkungan hotel ditanami beragam tanaman hias yang ditata secara apik dan asri. Ada barisan pinus setinggi 10 meter yang memagar kanan kiri jalan masuk, ada juga aneka bonsai yang tertancap di tiap rumah. Belum lagi aneka bunga kecil, tak terhitung lagi.

Uniknya, di sela-selanya dipasang bangku-bangku dan pendopo kayu (semacam gazebo) kecil, untuk melepas rehat khas pedesaan. Bangunannya khas rumah tradisional Situbondo, dengan motif batik menghias di masing-masing pilarnya.

Suasana kamarnya juga cukup baik, meski perabotnya agak tua, misalkan AC-nya masih tipe lama. Televisinya juga masih layar cembung, merk LG 21 inc. Kamar mandinya? Ya… lumayan lah, bersih dilengkapi toilet duduk dan sebuah shower. Ranjangnya, cukup empuk. Bruk…. Saya rebah di sana, langsung mimpi entah ke mana.

Suara kicauan aneka burung pukul 05.00 pagi, membangunkan saya. Setelah solat dan merapikan wajah yang berantakan, saya langsung membuka pintu kamar. Oh, rupanya sudah terang. Maklumlah, Situbondo berada di ujung timur Jawa, jadi lebih dulu mencicipi matahari Indonesia bagian barat.

Dengan telanjang kaki, saya berjalan menikmati panorama hijau di lingkungan hotel. Kicauan burung terus membahana, berpadu dengan gemerisik angin yang membelai pucuk-pucuk pinus. Ah… capek akibat perjalanan semalam langsung hilang. Di sini pula,
Akhirnya, saya kembali bisa melihat lingkungan hijau dengan tanah hitamnya.

Selanjutnya saya keluar hotel. Berbekal kamera di tangan, saya menelusuri trotoar yang menghias jalan utama, ke arah kota. Di sepanjang jalan saya melintas Koramil 0823/01, SMA 1, SMP 1, dan Universitas Abdurrahman Saleh. Di kanan kiri jalan, banyak ditumbuhi pohon besar yang menambah kesan sejuk dan rindang.

Di antara batang pohon-pohon itu, tertempel logo perusaaan. Rupanya beginilah cara pemerintah setempat menggalakkan penghijauan, dengan mengharuskan perusahaan menanam pohon. Imbalannya, logo perusahaan itu bisa ditempel di sana. Hal ini saya rasa menarik dicontoh, daripada mereka memasang spanduk poromosi yang hanya merusak pemandangan.

Semalam di Situbondo (2)

Rumah-rumah pun berderet rapi. Yang menarik, di setiap rumah penduduk selalu ditanami pohon mangga, mulai golek, harumanis dan mana lagi. Saat itu sudah musim buah. Ya, mangga memang menjadi tanaman andalan warga di sini, tak heran Situbondo juga disebut kota mangga.

Di jalan raya saat itu saya jarang melihat lalu lalang sedan mewah, paling banter hanya sepeda motor, angkutan kota dan becak. Becak ini cukup banyak dijumpai di sini, jika di Batam becak ibarat ojek. Di mana-mana ada pangkalannya.

Pemandangan menarik yang tak saya jumpai di Batam, adalah masih ada anak-anak mengayuh sepeda ke sekolah. Umumnya mereka berkelompok dan kompak. Ada juga yang naik bus sekolah tua. Kalau dilihat dari modelnya, bus antik ini adalah peninggalan zaman Belanda yang biasa dioperasikan untuk mengangkut karyawan pabrik gula. Maklum, di Situbondo ini merupakan kota penghasil gula.




Sepanjang trotoar saya juga melihat ibu-ibu berkerumun di depan sebuah rumah. Pakaian yang mereka kenakan, umumnya kebaya warna hitam, sarung (biasa disebut jarik) bermotif batik dan penutup kepala. Saya penasaran, lalu mendekat. Ternyata mereka tengah membeli ikan.

Saya mendengar, mereka berkomunikasi dengan bahasa Madura. Ya, bahasa ini adalah bahasa resmi Situbondo, selain Jawa itu sendiri. Karena, awal mulanya Situbondo, dan daerah Tapal Kuda lainnya (sebutan daerah di pesisir utara Jawa Timur), banyak dibuka perantau asal Madura.

Kesan yang paling akhir, kota ini adalah kebersihannya. Sepanjang jadi pedestrian, saya tak menjumpai selembar sampah pun. Tiap jam, petughas dengan sapu di tangan, rajin membersihkannya. Halte-halnya pun bersih dari coretan.

Puas melihat-lihat, saya kembali ke hotel. Setelah pukul 12.00, saya pergi melihat-lihat kota. Pemandangan pusat kota Situbondo tak beda jauh dengan kota-kota di Jawa, atau Indonesia pada umumnya.

Selalu ada alun-alun besar, di sekelilingnya berderet kantor Bupati, perkantoran dan masjid jami. Konsep ini adalah tata kota peninggalan Belanda. Saat itu Belanda membagi kota berdasar tiga aktivitas, kraton sebagai tempat pemerintahan, pasar sebagai tempat transaksi jual beli dan alun-alun sebagai tempat aktivitas warga. Semua ini saling bertaut, untuk itulah disatukan dalam sebuah konsep tata kota terpadu.

Saya sejenak memperhatikan pemandangan sekitar alun-alun. Semua masih hijau, berpagar pepohonan besar yang usianya sudah ratusan tahun. Di gerbang pintu masuk ada monumen yang diatasnya berdiri patung garuda. Kebersihan di sini juga terjaga dengan baik.

Di jalan setapak sekeliling alun-alun, juga terpasang lampu-lampu jalan warna hijau. Di “lehernya dan pinggangnya” terukir gambar batik, khas daerah yang banyak memadukan warna kontras, sepreti merah muda, hijau dan kuning.

Layaknya kota-kota lain yang bersiap melaksanakan pemilu legislatif, di Situbondo banyak saya jumpai spanduk para caleg. Bedanya dengan di Batam, mereka masih muda-muda. Yang lelaki ganteng dan yang perempuan cantik-cantik.

Ke Situbondo tak lengkap jika tak mencicipi mangganya. Apalagi saat ini sudah musim buah. Sayapun menuju ke sebuah toko, tempat wisatawan biasa berbelanja. Rupanya pemiliknya adalah seorang Tionghoa. Sayapun kaget, ternyata mereka sangat fasih berbahasa Madura.

---------
Terimakasih:
Hasan Aspahani, Pemimpin Redaksi Batam Pos

Forget Citylink, Welcome Mandala (1)

Di Bandara Hang Nadim Batam, saat akan bertolak ke Surabaya, Selasa (16/12) saya sempat sedikit snewen ketika harus naik pesawat terpisah dengan rekan-rekan dari Batam.

Mereka semua dapat Citylink, sedangkan saya harus duduk di kursi nomor 7C, Mandala Airlines RI 191. Waktu keberangkatannya sama, pukul 15.00.

Ya udah, jalani sajalah. Toh Allah selama ini baik pada saya, Insyaallah The Almighty itu, memiliki rencana lain yang indah untuk saya.

”Kalau engkau bersyukur akn kutambah nikmat Ku, tapi kalau ingkar, sungguh azabKu teramat pedih.” Amalan ini lapat-lapat terdengar dari palung hati. Akupun mengucam ampun, “Astagfirullah, ya Rabb, Tuhan segala zat.”

Hingga akhirnya, waktu boarding tiba. Disusul tampilnya seorang pramugari di sela-sela kursi depan, penanda pesawat akan berangkat. Hanphone pun dimatikan.

Capek, sayapun meluruskan kaki, “Ah….. lega rasanya.” Tapi sampai di sini, mataku tak bisa ditutup berganti rasa penasaran. “Kok aku bisa meluruskan kaki?”

Meluruskan kaki tentu bukan hal yang hebat, namun ini lain cerita, karena saya duduk di kelas ekonomi. Spontan mataku langsung menyapu seluruh kabin. Wah... ternyata pesawat ini masih baru.

Kursi-kursinya empuk terbungkus kulit abu-abu, dindingnya dilapis bahan yang dipakai pada interior sedan keluaran baru. Sehingga saya merasa seakan naik mobil saja.

Kabinnya juga cukup luas dan yang lebih penting, jarak antara kursi barisan depan dan belakang cukup luas, sehingga selain saya bisa meluruskan kaki, juga tak perlu berdiri untuk memberi laluan, saat penumpang sebelah saya akan keluar. Maklum, kursi saya berada di dekat lorong (isle).

Sayapun berdiri, mengecek bagasi kabin di atas. Oh, ternyata juga baru dan lebih luas. Saya ketuk-ketuk, bahannya juga tebal tahan guncangan. Lampu-lampu indikatornya juga tampak beda, lebih terang dan dimengerti. Demikian pula dengan panel-panel sistem pendingin udarnya, kecil-kecil, simpel dan mudah dioperasikan.

Masih dalam penasaran yang besar, saya langsung menuju toilet. Penasaran aja. Di pesawat ini ada dua toilet, paling depan dekat pintu kokpit dan paling belakang dekat dapur. Saya memilih ke belakang, jauh sedikit tak masalah, itung-itung sambil melihat-lihat kemegahan interior pesawat baru ini.

Sesampainya di toilet, memang tak jauh beda dengan yang ada di pesawat lain; minimal sama-sama bersih. Tapi, yang ini lebih ringkas saja. Semua model perabotnya sangat aerodinamis, interiornya simpel namun mewah.

Masih belum puas juga, saya pindah ke kursi di depan kursi saya duduk. Kebetulan tak ada penumpang. Sayapun duduk di dekat jendela. Sudah jadi kebiasaan saya saat naik pesawat, kalau bisa duduk di dekat jendela. Selain bisa melihat keindahan bumi dari atas, sekaligus bisa memuji kebesaran ciptaan yang Maha Kuasa itu.

Saat itu, di luar memang sangat terik. Sinar matahari pun menerobos ke dalam hingga tubuh saya, membawa hawa hangat. Saat itu saya tempelkan telapak tangan di kaca jendela. Ternyata kacanya tetap dingin, yang berarti sistem pendingin udaranya berfungsi sempurna.

Saya pun melongokkan pandangan untuk melihat sayap dan fuselage pesawat. Lagi-lagi, semuanya masih baru,catnya belum ada yang tergores sedikitpun. Katup-katup dan engselnya (saya sebut saja demikian), lincah bergerak dan cukup kokoh memecah gumpalan awan.

Dan terakhir, ehm… pramugarinya luwes dan lembut (cukup ah diskripsinya, tak enak sama istri, he he… ) . Baru kali ini saya naik low cost carrier melihat pramugari yang benar-benar pramugari. Bukan barisan kondektur wanita berseragam pramugari.

Dari sini saya terdiam. Kini ada satu pertanyaan, pesawat apakah ini? “Aha, di sana ada pramugari, tanya ah…” Tapi tunggu dulu, ini bukan ide bagus, sebab pramugari tak didisain untuk menjawab pertanyaan teknis, mereka hanya dilatih bak mesin pejawab telepon, paling pertanyaan saya hanya dijawab;

“Waah, maaf kalau itu kami tak bisa menjawab. Maaf Pak, mohon kembali ke tempat duduk, kencangkan sabuk pengaman, tegakkan sandaran kursi, jangan lupa melipat meja lalu menguncinya, bla bla bla bla….”

Forget Citylink, Welcome Mandala (2)

Saat kebingungan itulah, mata saya tertangkap pada sebuah majalah yang terselip di saku belakang kursi di depan saya. Oh, rupanya ini adalah majalah internal Mandala. Saya baca, rubriknya bagus-bagus, lumayan untuk menambah wawasan saya.

Hingga pada akhir halaman, saya membaca berita tentang Mandala Airlines. Dugaan saya benar, (manajemen) Mandala berubah. Semua ini tak lepas dari peran Stephen Wilks, selaku Chief Operating Officer-nya.

Stephen Wilks adalah seorang akuntan berkualifikasi. Warga Selandia Baru ini memang berpengalaman luas dalam dunia penerbangan. Sebelumnya, enam tahun di Papua Nugini, menjabat CFO dan general manager eksekutif layanan korporat dan maskapai nasional, Air Nuigini.

Dia juga menghabiskan waktu 11 tahun bersama grup Air New Zealand, termasuk menjabat general manager Air Nelson. Di tahun 2006 Wilks mendapat gelar kehormatan Queens Honour of Honourary Member of The Order of Logohu, atas kontribusinya bagi penerbangan Papua Nugini.

Dengan pengalaman seabrek, apa yang membuat Wilks tertarik bergabung ke Mandala? Alasannya, karena dia tertarik pada penerbangan berbiaya rendah (LCC). Menurutnya, amat sulit mengubah perusahaan penerbangan kawakan ke penerbangan moderen berbiaya rendah, dari pada memulai usaha penerbangan yang benar-benar baru.

Namun, Wilks telah mempersiapkan beberapa jurus. Di antaranya mengandangkan semua pesawat-pesawat tuanya, ke pesawat yang cukup baru. Selain itu, dia mengganti era boeing ke airbus. Seperti yang saya naiki ini, adalah jenis airbus A320. Luar biasa.

Hingga akhirnya, jelang akan mendarat di Bandara Juanda Surabaya, kami dihadang badai. Awat hitam pekat menghadang. Tapi syukurlah bisa mendarat. Saya lihat bagaimana fuselage pesawat menyedot dan memecah gumpalan awan itu, sehinggamudah dilalui.

Setelah di Juanda, sekitar pukul 16.00, saya telepon rekan saya. Saya penasaran, lalu tanya pada supir taksi, menurutnya sudah tiga hari lalu jaringan Telkomsel (saya pakai kartu Halo) di Bandara Juanda terputus, akibat dihajar badai.

“Tapi kok Anda bisa nelepon?” tanya saya penasaran.

“Oh, say-ya tak pak-kai Tilkomsel Pak, sayya pakai sem-mat,” maksudnya kartu Smart, dari Sampoerna Telecom. Dari sini saya baru tahu, ternyata lawan bicara saya adalah orang Madura.

Gagfal nelepon, saya coba SMS rekan saya. “Bang, saya udah tiba, saat ini saya nunggu di ruang informasi, sebelah pintu kedatangan.”

Namun jawaban dari rekan saya sungguh mengagetkan, “Wah, gimana neh, pesawat saya belum bisa berangkat, ini masih nunggu sparepart dari Jakarta. Entah kapan akan tiba.”

“Saya tadi udah coba telepon kamu, tapi kok tak masuk-masuk ya? Tunggu kami ya?!” lanjut SMS-nya.

Waduh, mau nunggu di mana? Ah, untunglah saya punya kakak di Surabaya, kawasan Semolowaru, Bratang. Sehingga saya bisa nunggu mereka di sana. Kalau tidak, mungkin saya akan dicekam jenuh di Bandara. Meski untuk itu, saya harus merogoh kocek Rp100 ribu untuk bayar taksi.

Hingga pukul 21.00 saya baru dapat SMS dari rekan saya, bahwa pesawatnya sudah bisa berangkat. Sparepart dari Jakarta itu sudah tiba. Setelah bertemu di Surabaya, kamipun berbincang ihwal keterlambatan ini.

Rupanya, saat mengudara beberapa saat, pesawat mereka harus mendarat lagi di Hang Nadim. “Kami sudah deg-deg-an, takut terjadi apa-apa. Ngeri juga. Untunglah kamu naik Mandala,” katanya.

Ah, syukurlah.

-------------------
Terimakasih

Hasan Aspahani, Pemimpin Redaksi Batam Pos

Wartawan

Untuk wartawan aja...

Ratu dunia ratu dunia, oh wartawan ratu dunia
Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran

Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji
Bila wartawan mencaci, dunia ikut membenci
Wartawan dapat membina, pendapat umum di dunia

Ratu dunia ratu dunia, oh wartawan ratu dunia
Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran

Bila wartawan terpuji, bertanggung jawab berbudi
Jujur tak suka berdusta, beriman serta bertaqwa
Niscaya besar jasanya dalam membangun dunia.

Ratu dunia ratu dunia, oh wartawan ratu dunia
Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran

Tetapi bila wartawan suka membuat keonaran
Tak jujur suka bedusta, tak beriman tak bertaqwa
Biasa merusak dunia, ibarat racun dunia

Ratu dunia ratu dunia, oh wartawan ratu dunia
Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran

Ratu dunia ratu dunia,
oh wartawan ratu dunia

------------------
Terimakasih:
Hajjah Mutaharoh, Nasida Ria Semarang

Jumat, 19 Desember 2008

Harta Karun di Budidaya Ikan (1)

Di tengah terpaan krisis keuangan global, PHK terjadi di mana-mana, jumlah pengangguran tak terkendali, saya melalui blog ini, terpikir menyumbangkan sebuah solusi kerja pada Pemko Batam. Salah satunya, tentang pemanfaatan sumberdaya laut yang belum tergarap maksimal. Dari penelusuran yang saya lakukan, ternyata potensi ini sangat mampu menyerap tenaga kerja yang besar pula, asal masyarakat mau dan tekun.


Untuk menguak potensi ini, Senin (15/12) sore lalu saya bertandang ke Balai Budidaya Laut (BBL), Deperteman Kelautan dan Perikanan di Batam. Letaknya di Jalan Raya Barelang, sekitar 100 meter dari Jembatan Tiga arah ke Bulang.



Rupanya tak banyak yang tahu, bahwa BBL Batam menjadi satu-satunya di Indonesia yang berhasil mengembang biakkan ikan bawal bintang dan kakap putih. Tak banyak yang tahu pula, bahwa BBL Batam sangat terkenal ke manca negara, sehingga menjadi tujuan penelitian ahli perikanan masyarakat Internasional.

BBL Batam dibangun di atas lahan berundak mirip konsep terasiring seluas 6,5 hektare. Paling atas atau level I, ditempati kantor asrama karyawan dan asrama peserta magang.

Turun sedikit ke bawah atau level II, merupakan tempat pembiakan bibit ikan “kelas atas”, semacam kerapu, kakap, napoleon, bawal dan lain-lain.

Di sini, ada beberapa bangunan besar tak berdinding hanya beratap spandek besar, sepintas mirip hanggar pesawat. Di dalamnnya banyak berjejer kilang-kilang raksasa untuk pengembangbiakan bibit ikan. Hal yang sama juga ada di level III.

Sedangkan paling bawah (level IV) berada di laut, merupakan tempat penangkaran ikan dewasa. Di sini banyak berdiri keramba-keramba ikan aneka jenis dan bentuknya. Untuk menuju BBL Batam, lama waktu yang dibutuhkan dari Batam Center sekitar 15 menit, dengan menempuh jarak sekitar 20 km.

Ketika hendak masuk pintu gerbang, sebuah tugu setinggi 2 meter dengan patung bawal bintang di atasnya, berdiri menyambut. Tugu sederhana ini di bangun tepat di tengah pertigaan, sehingga akan tampak dari arah manapun.

Setelah sampai di kantor tersebut, saya langsung diterima Kepala BBL Syamsul Akbar dan dua stafnya. Kebetulan juga saat itu Ketua Fraksi PPP DPRD Batam Irwansyah, dan Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan Batam Suhartini datang berkunjung. Kami semua kemudian dibimbing ke kantor Syamsul di lantai 2.

“Pak Irwansyah-lah satu-satunya anggota DPRD Batam yang datang ke mari. Padahal, tempat ini sering dijadikan tempat studi banding anggota DPRD seluruh Indonesia lho Pak,” jelas Akbar.

Dari kantor ini, saya bisa melihat pemandangan di bawah yang sangat indah. Satu-persatu yang tersusun adalah, tempat pengembangbiakan bibit ikan, dengan kilang-kilang raksasanya, turun lagi ada sederet keramba, selanjutnya hamparan panorama laut yang bersih menawan memantulkan kilauan mutiara saat permukaannya dijilat matahari.

Lebih jauh lagi, kita dapat melihat panorama pulau-pulau kecil berpagar perkampungan nelayan dengan lalu lalang perahu kecil. Semua tampak jelas meski dari kejauhan. Bahkan ujung jembatan I Barelang juga tampak, namun kakinya tertutup gugusan pulau-pulau yang mengelilinginya.

Ditemani beragam buah dan teh hangat, kamipun melanjutkan perbincangan. Dari sini diketahui, bahwa ada potensi besar yang jika digarap serius, akan menghasilkan uang ratusan juta rupiah perbulan. Syaratnya pun tak berat, asal mau sedikit berusaha.

Apa itu?

Syamsul menjelaskan, sarjana Prancis baru-baru ini menyampaikan hasil penelitiannya bahwa dalam satu tahun, Batam membutuhkan sekitar 10 juta benih ikan “kelas atas” itu. Sedangkan Balai Budidaya Laut hanya bisa menghasilkan benih 3 juta-an saja.

“Jadi masih tersisa 7 juta benih lagi yang bisa digarap. Ini baru di Batam saja, belum lagi di Bintan, Karimun, Natuna dan permintaan dari masyarakat Internasional. Inilah yang saya sebut potensi besar,” jelas Syamsul.

Untuk memenuhinya, sebenarnya Syamsul sudah giat melakukan sosialisasi hingga melatih nelayan sekitar agar mau memanfaatkan potensi besar ini. Namun sayang, program ini tak berjalan. Entah mengapa mereka enggan.

Padahal, mereka hanya diminta menghasilkan benih saja, sedangkan telur, fasilitas pembitan, pelatihan, bahkan teknologi ditangani pihaknya. Semua diberi cuma-cuma.

Intinya mereka hanya membesarkan bibit hingga 2,5 cm saja. Jika berhasil, harganya sangat mahal. Satu ekor bibit kerapu ukuran tersebut bisa laku Rp5 ribu. Jika satu kilo, tinggal dikalikan saja uang yang didapat.

“Tapi mengapa mereka tak mau? Padahal caranya mudah, asal bisa jaga suhu saja,” jelasnya.

Soal berapa lama waktu yang dibutuhkan agar bibit bisa mencapai ukuran tersebut, Syamsul menjawab antara 3-5 bulan. “Jika nelayannya kreatif, waktu inipun bisa disiasati dengan melakukan pembibitan varietas ikan berdasarkan waktu. Sehingga, nelayan bisa panen tiap bulan,” jelasnya.

Soal pasar, masyarakat tak usah khawatir, karena datang sendiri. Tiap bulan kapal-kapal besar dari Singapura, Malaysia, Taiwan hingga Jepang tiuap bulan datang membeli hasil laut ini.

--------
Foto: Irwansyah (pegang ikan), Syamsul dan Suhartini.

Harta Karun di Budidaya Ikan (2)

“Tiap bulan (pengusaha) Malaysia selalu datang ambil bibit kerapu ke mari, sebanyak 1 juta ekor,” terang Syamsul.

Hal inilah yang ditangkap masyarakat nelayan Situbondo, Jawa Timur. Semula mereka giat berlatih di Balai Budidaya Laut setempat, setelah mahir mereka mengambangkan benih sendiri dalam sebuah alat yang sangat sederhana, biasa disebut backyard.

Backyard adalah pembibitan ikan skala rumah tangga. Bentuknya sama dengan yang ada di BBL, cuma lebih kecil dan sederhana, hanya berupa bak-bak kecil yang tersambung, ukurannya mirip pemandian umum. Di sinilah telur ditetaskan ke benih hingga ukuran 3 inchi.

Backyard inilah yang kini banyak dikembangkan nelayan Situbondo. Dengan tekad bulat dan keuletan, jerih payah mereka bisa membuahkan hasil sehingga dapat meningkatkan taraf ekonominya. Bibit-bibit ikan kelas atas dari Situbondo inilah banyak dibeli pengsaha, termasuk dari Batam untuk dikembangkan.

“Padahal kita bisa membantu, mengapa masyarakat tak mau menggarapnya,” Syamsul tak habis pikir.

“Ya sudah Pak, kenapa tak digarap sendiri saja?” saya bertanya, tak sabar rasanya.

“Tak bisa begitu, karena tupoksi (tugas pokok dan fungsi) kami bukan pembenihan, melainkan penghasil teknologi,” jelas alumnus Institute of Aquaculture University of Stirling Scotland ini.

Agar program pembibitan ini tak lagi gagal, selanjutnya Syamsul akan mencari masyarakat yang mau saja. Mereka yang terpilih dan berminat akan digembleng agar hingga menguasai teknik pembenihan ini. Semuanya gratis.

“Sekarang kan aneh, masak banyak sarjana luar belajar ke mari, sementara orang dalam sendiri tak mau memanfaatkannya,” ujar Syamsul.

Dia menjelaskan baru-baru ini, Kepala Balai Budidaya Laut Malaysia sendiri yang belajar langsung ke tempatnya, “Karena di sini mereka kenal kawah candra dimuka-nya budidaya laut,” terangnya.

“Apa tak takut bahaya Pak? Nanti kalau semua ilmu ini mereka curi ginama? Nanti mereka lebih maju dari kita?” tanya Suhartini, penasaran.

“Tentu itu kami perhitungkan. Makanya, yang kami kasih (ilmu) dasar-dasarnya saja. Yang khusus tetap kami kantongi,” ujarnya.

“Ah, dari pada di sini, mending kita lihat-lihat ke bawah Pak?” tawar Syamsul. Kamipun mengangguk.

Selanjutnya, Syamsul beranjak dari kursinya membimbing Irwansyah, Suhartini dan saya keluar menelusuri jalan menurun terjal, menuju tempat pembibitan yang berada di level II. Di antara kilang-kilang besar ini, Syamsul menunjukkan plankton yang menjadi makanan bibit ikan.

Plankton ini ditampung dalam akuarium seukuran 1 x 1 meter. Warna airnya kehijauan, “Ini hanya bisa dilihat dengan mikroskop. Bentuknya bulat-bulan gitu Pak,” ujarnya pada Irwansyah.

Dari sini, perjalanan berlanjut ke bagian level III. Selama perjalanan Suhartini selalu tertinggal di belakang. Dia kesulitan dengan sepatu hak tinggi yang dipakai, sedangkan medan jalannya sangat tak ramah, penuh dengan tanjakan dan turunan terjal. Terpeleset sedikit bisa fatal.

Setelah di level III, Syamsul memperlihatkan pembiakan ikan kerapu, bawal dan kakap putih. Semuanya ditmpung di kilang, yang airnya dipompa langsung dari laut.

“Yang ini sudah dalam masa kawin,” tunjuknya ke sepasang ikan bawal dalam kilang.

Tak lama lagi mereka akan bertelur, dalam sebulan jumlahnya mencapai 80 juta butir. Jumlah ini diketahui, dengan cara telur yang ada dipadatkan lalu ditimbang. Dari sana diketahui berapa banyaknya.

Agar telur tak kembali dimakan oleh induknya, maka dalam kilang tersebut ada semacam pompa kecil yang menyedot telur-telur itu ke sebuah nampan khusus.

Dari telur sebanyak itu, yang diambil hanya 6-10 juta butir saja, sisanya diberikan pada nelayan yang datang dari Aceh, Takalar, dan kawasan lain di Indonesia. Selanjutnya di sana mereka membiakkannya.

“Nelayan jauh saja datang, kenapa kita yang dekat tak mau? Kita ini masalah tahu, (sumber daya) manusianya saja yang tak ada,” lagi-lagi Syamsul keheranan.

Saat melihat-lihat beberapa kilang itu, saya berpapasan dengan anak-anak SMK dari Natuna yang tengah melakukan praktik kerja lapangan (PKL).

“Sudah berapa lama di sini?” tanya saya.
“Rencananya dua bulan Pak,” jawab mereka.

“Coba lihat Pak, betapa banyak pelajar luar yang belajar ke kita. Kemarin mahasiswa yang datang, tujuh bulan mereka PKL di sini,” jelas seorang staf Syamsul yang juga ikut menemani kami.

Di sini pula, kami diperlihatkan ribuan anak (bibit) ikan kakap putih yang sudah berukuran 2,5 centi. Artinya sudah siap panen. Tak terbayangkan berapa nilainya jika diuangkan.

Harta Karun di Budi Daya Ikan (3)

Selanjutnya tibalah kami ke tahap akhir, di level 4 tempat kermba ikan. Keramba ini mirip sawah, ukurannya 3 x 3 meter, dan dikelilingi pematang. Cuma bedanya di tengah keramba menjadi tempat pembesarn ikan. Agar tak lari, maka dilapis jaring.


Untuk menuju keramba ini, kami harus melalui dermaga kecil. Di pangkal dermaga, banyak ditanam pohon bakau dan tambak. “Ini saya yang hijaukan,” jelas Syamsul.

Di kiri dermaga teronggok keramba kayu yang sudah lapuk. “Inilah pak kalau (keramba) terbuat dari kayu, baru 3 tahun saja sudah rusak. Makanya saya ubah bahannya dari plastik, seperti itu” jelasnya, menunjuk keramba di ujung dermaga. Menurut Syamsul, keramba plastik ini tahan hingga 18 tahun.

Untuk menuju keramba tersebut, kami masih menuruni tangga kecil di ujung dermaga. Selanjutnya kami masih naik papan terapung, karena antara dermaga dan dermaga dibuat tak menyatu, terpisah laut selebar 2 meter.

Di sini saya melihat langsung keramba plastik tersebut. Bahannya mirip plastik ember antipecah, jenis polytelin. Tak heran bila harganya mahal, permeternya mencapai Rp1,7 juta.

Jumlah keramba di sini sangat banyak, sekitar 50 unit atau 200 kantong. Tiap keramba ada yang diberi atap, ada yang tidak, tergantung jenis ikan.

“Di sinilah penangkaran bawal bintang yang satu-satunya di Indonesia,” jelas Syamsul. Diapun lalu meminta beberapa stafnya menangkap ikan prestis yang harganya mencapai Jutaan rupiah itu.

“Orang Jepang sangat suka ikan ini. Umumnya menjado menu shushi,” terangnya. Di saat bersamaan, Suhartini datang, hak tingginya sudah diganti sandal jepit warna merah.

Selanjutnya, beberapa orang dengan serok berjaring, datang. Perlahan dia mulai mengangkat jaring keramba, hingga ikan tersebut tampak. Lalu, hup, ikan tersebut coba diserok, namun gagal. Larinya sangat cepat. Hingga kali ketiga, baru bisa ditangkap.

Selanjutnya, bawal bintang itu diberikan ke Irwansyah untuk dipegang. Tapi apa yang terjadi? “Aduh, tenaganya sangat kuat,” keluh Irwansyah, tak mengira. Tak lama ikan tersebut dilepas lagi ke keramba.

Dari sini, kami menuju ke keramba beratap. Di sana tempat penangkaran ikan napoleon. Ikan ini teramat mahal, perkilonya dibandrol Rp1 juta.

“Kalau di restoran di Hongkong, yang mesan ikan ini akan diumumkan lewat pengeras suara, sambil memukul gong. ‘Kepada pengunjung meja sekian, silakan menikmati hidangan kami…’ begitu. Karena ikan ini sangat prestisius,” jelas Suhartini panjang lebar.

Di sisi lain, di keramba ini, lagi-lagi saya berjumpa dengan siswa PKL asal Natuna, mereka tengah memotong ikan benggol seukuran dadu, untuk makan ikan kerapu.

Selain itu, di dermaga saya melihat warga setempat menikmati panorama. “Di sini kadang juga menjadi objek wisata Pak. Tiap sore, banyak yang kemari,” terang staf Syamsul.

Setelah melihat-lihat potensi yang ada, Syamsul pun mengajak kami kembali. Karena jalannya menanjak, maka dia memutuskan ke atas naik mobil saja.

Di sepanjang jalan, Syamsul kembali mengherankan soal keengganan masyarakat sekitar menggarap “big money” ini.

“Saya punya impian Pak, suatu saat tiap warga punya backyard itulah amal jariyah kita,” sebutnya.

Biar warga di sini seperti di Situbondo, yang sudah banyak mapan dari mengelola pembiakan ikan ini.

Lalu seperti apakah warga Situbondo menggarap potensi kelautannya? Rabu (17/12) kami menuju ke kabupaten yang berada 200 kilo dari Surabaya itu. Setelah menempuh 4 jam perjalanan, sampailah kami di Desa Kembang Sambi, 5 kilo dari pusat kota Situbondo. Selain Irwansyah, Syamsul dan Suhartini, rombongan kali ini diikuti seorang pengusaha Batam, Budi Bambang Purnama.

Di sini kami melihat banyak masyarakat yang membudidayakan kerapu, baik berbentuk bacakyard (menetaskan telur ke benih hingga ukuran 3 inchi) maupun gelondongan (tempat pembesaran bibit ikan mulai 3 inchi hingga 300 kilo).

Umumnya tempat pembudidayaan ini mereka bangun di tubir pantai, sehingga memudahkan memompa air laut kedalam bak-bak pebiakan.

Bentuknya sangat sederhana, hanya berupa bak-bak kecil, sepintas mirip pemandian umum yang diatasnya tergantung beberapa selang-selang kecil untuk penyalur oksigen.

Semua ini dibangun dalam sebuah rumah yang kadang hanya berdinding gedhek (anyaman bambu). Untuk mejaga suhu, di atasnya ditutup terpal. Maklum, ikan khususnya kerapu, tak tahan dingin.

Kembang Sambi merupakan salah satu desa contoh yang sukses melakukan pembiakan ini. Tak heran ekonomi warganya cukup baik, bahkan banyak juga yang sudah berhaji ke Tanah Suci.

Selain mampu membuka lapangan kerja, desa ini menjadi tujuan praktik kerja lapangan para siswa kelautan, dari seluruh Indonesia, termasuk Kepri. Padahal, kalau diamati, laut di sini masih lebih bersih di Batam.

Harta Karun di Budi Daya Ikan (4)

Usaha budidaya ini tak lepas dari peran Sitorus sebagai perintisnya. Kisah sukses ini dimulai tahun 1997 lalu, saat Sitorus, pindah tugas ke Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo, di Jalan Raya Peceroan.

Selama bertugas, insting usaha Sitorus mulai berjalan. Pada tahun 2000, berbekal ilmu yang dimilikinya, dia mulai membikin keramba di sekitar pantai Gundil, Kecamatan Kendit.

Usahanya ini ternyata berhasil, berkat bimbingan BBAP Situbondo Sitorus mengembangkan usahanya ke backyard dan gelondongan. Semuanya pembudidayaan kerapu, mulai jenis macan, tikus hingga bebek.

Dengan uang yang ada, dia memberanikan diri menyewa sebuah tempat di Blitog, tak jauh dari lokasi wisata Pasir Putih.

Lagi-lagi, usaha Sitorus ini sukses, hingga akhirnya dia memiliki puluhan backyard dan keramba yang tersebar sepanjang pantai Sitobondo hingga Bali. Hingga tahun 2002, Sitorus-pun kian dikenal sebagai pengusaha besar yang omsetnya mencapai Rp1 miliar perbulan!

Wajar saja, satu ekor bibit kerapu bebek sepanjang 1 cm miliknya dibandrol Rp1.500. Kalikan saja jika jumlahnya ribuan, dan panjangnya lebih dari 1 cm!

Kini, bibit kerapu bubidaya Sitorus sudah masyhur. Orderpun deras mengalir dari Batam bahkan Kalimantan. Dari ini, entah berapa pundi-pundi uang yang sudah dikantongi Sitorus. Yang jelas, mobil operasional pengangkut pakannya saja adalah Kijang Innova terbaru seharga Rp150 juta!

”Kuncinya hanya ketekunan saja Mas, dan tentu harus pandai baca situasi. Karena perkembangan ikan ini harus rajin diperiksa,” paparnya membagi kiat sukses.

Berkat keberhasilannya ini, Sitorus mampu mempekerjakan masyarakat sekitar. Bahkan membimbing bagi mereka yang ingin memulai bisnis ini.

Saat saya berkunjung ke backyard kerapunya di Klatakan, pekerjanya sibuk mengangkat benih yang dibantu beberapa siswa magang dari Dumai.

Di sini pulalah saya berbincang dengan salah seorang dari mereka, namanya Dedi Suhaeri. Dia mengaku, gaji yang diterima perbulan hanya Rp350 ribu, tapi makan ditanggung.

Yang menggiurkan, adalah bonus yang dia dapat. Dalam sebulan dia berhasil mengantongi Rp2,5 juta. ”Ini karena harga kerapu lagi turun Mas, kalau tinggi seperti sebelumnya, saya dapat Rp5 juta!” akunya.

Jejak sukses Sitorus ini mendorong warga sekitar mengambil langkah yang sama. Toh mereka hanya mengembangkan saja, sementara teknologi dan benih ditanggung BBAP Situbondo. Jadilah kini Situbondo sebagai sentra industri pembiakan ikan kerapu di Indonesia. Menurut Dedi Sutendi, staf BBAP Situbondo, saat ini ada sekitar 90 backyard yang dikembangkan warga.

”Inilah Mas yang bikin saya gregetan! Kenapa masyarakat di sini berhasil kok di Batam tidak? Padahal laut kita (Batam/Kepri, red) lebih jernih dan teknologi yang kita punya (BBL Batam, red) juga terbaik di Indonesia. Padahal mereka cuma mengambangkan saja, semua teknologi dan benih dari kita!” ujar Syamsul.

”Usaha ini sangat tepat dikembangkan saat ini di Batam, di tengah tingginya angka PKH akibat krisis global saat ini. Karena ternyata Batam memiliki potensi laut yang bagus. Jika digarap maksimal, selain akan menyerap tenaga kerja juga membantu meningkatkan ekonomi masyarakat,” timpal Irwansyah.

Pandangan ini cukup masuk akal. Sebab, selama ini psokan ikan di Batam mengandalkan impor, padahal potensi laut dan sarana pengembangannya, semacam BBL, sangat memadai dibanding daerah lain.

”Coba Anda bayangkan, lele aja, Batam masih impor 13 ton perhari dari Malaysia. Padahal, budidaya lele sangat gampang dilakukan,” tambah Syamsul.

Agar wawasan akan budidaya ini bertambah, selanjutnya kami menuju Tambak Pandu Karawang, Jawa Barat, tepatnya di Kecamatan Cilebar. Lama perjalanan Jakarta – Cilebar, sekitar 4 jam-an.

Bedanya, medannya lebih berat, karena harus membelah pelosok Karawang. Dari mulai kawasan padat dan jalan beraspal, hingga ke pedesaan, melintasi sawah luas, sungai, dan jalan kecil berbatu tajam. Kami sampai di sini sekitar pukul 17.00 WIB.

Di tempat ini juga dibudidayakan beragam jenis ikan, seperti kerapu udang dan semacamnya. Namun yang paling terkenal adalah budidaya sidat atau belut laut.

Sidat, utamanya jenis mammorata (beratnya sekitar 250 gram) ini merupakan makanan elit orang Jepang, harganya sangat mahal sekitar Rp300 ribu perkilo. Sedangkan yang jenis besar (lebih 250 gram), sangat digemari di Hongkong.

Di Tambak Pandu Karawang seluas 450 hektare itu, kami langsung disambut kepalanya, I Made Sutha. Selanjutnya dia membimbing kami menuju tempat pembudidayaan, khususnya sidat.

Bentuk bangunannya tak beda dengan backyard, namun sangat luas. Bedanya, di tengah bak dipasang kincir untuk menimbulkan arus air. Semua bangunan berada di bibir pantai.

Di sini Sutha memperlihatkan sidat yang dibudidayakannya. Bentuknya ini tak beda dengan belut sawah, cuma seluruh tubuhnya berwarna hitam dan dilengkapi sirip untuk berenang. Namun jangan coba ditangkap dengan tangan, karena menurut Sutha, badannya lebih licin dari belut.

“Sidat ini juga mengandung vitamin A, EPA, DHA tertinggi dibanding daging dan ikan lain,” jelas Sutha.

Dia menjelaskan, semula pembudidayaan sidat ini dilakukan di air laut, namun tak berhasil. Karena kesal dia buang ke tambak. Rupanya berhasil. “Lama waktu yang dibutuhkan dari grass eel (bibit) hingga ke berat 100 gram, sekitar 4 bulan,” jelasnya.

Usai melihat-lihat, Sutha membimbing kami untuk menikmati gulai sidat, bersama sajian nasi putih dan sop buntut kambing. Ternyata rasa sidat lebih maknyus dibanding belut. Dagingnya mirip agar-agar, dengan duri lunak.

Dari sini, Irwansyah, Syamsul dan Suhartini bertekad akan fokus dan membuat beberapa program terkait hasil kunjungan ini. Bahkan dijadwalkan, Senin ini akan bertemu Wali Kota Batam Ahmad Dahlan agar hal ini bisa segera diterapkan di masyarakat.

---------------

Laporan menarik selama perjalanan ke Situbondo dan Karawang akan saya tulis di blog ini selanjutnya. Simak terus ya...

Berubah, maka Berubahlah

Kecelakaan hebat menimpa Hsieh Kun Shan. Saat masih duduk di bangku SMP, tubuh pemuda asal Taidong Taiwan ini tersengat listrik yang membuat tangan dan kakinya harus diamputasi.

Tak hanya itu, mata kanannya juga buta. Jadilah Hsieh Kun Shan seorang pemuda yang cacat, lumpuh, dan setengah buta. Untuk aktivitas sehari-hari saja, dia harus dibantu.



Untunglah, Hsieh Kun Shan punya seorang ibu yang sangat baik. Si ibu inilah yang setia melayani kebutuhannya. Mulai dari makan, mandi dan sebagainya.

Hingga suatu hari, tiga tahun setelah musibah itu berlalu, Hsieh Kun Shan terenyuh melihat kebaikan ibunya ini. Pikirannyapun timbul, ”Dari dulu, sejak lahir hingga saat ini saya selalu dibantu oleh ibu. Kapan saya bisa membantu ibu?”

Dari sinilah timbul semangat hidup Hsieh Kun Shan. Selanjutnya dia mulai berpikir, kemampuan apa yang dia miliki. Dalam pencariannya itu, Hsieh Kun Shan ingat bahwa saat di sekolah dasar pernah mendapat pelajaran melukis.

Hal inilah yang dia jadikan modal awal. Tapi bagaimana caranya? Toh kedua tangannya sudah hilang. Hsieh Kun Shan berpikir lagi. ”Aha, saya masih punya mulut...” Maka jadilah Hsieh Kun Shan pelukis menggunakan mulut.

Waktu bergulir. Karya-karya Hsieh Kun Shan banyak digemari, diapun kini menjadi buah bibir. Satu lukisannya saja dibandrol puluhan ribu dolar AS. Dengan penghasilannya, dia mampu membeli kaki dan tangan palsu, sehingga penampilannya lebih baik.

Dengan uangnya juga dia sudah bisa mewujudkan keinginannya untuk ”gantian” membantu ibunda tercinta dan membangun sekolah umum.Bahkan, di akhir kisah, Hsieh Kun Shan berhasil menikahi seorang wanita cantik, anak seorang milioner Taiwan.

Ini adalah sebuah petikan kisah nyata yang saya baca dari majalah internal sebuah maskapai penerbangan. Kisah ini begitu menyentuh, hingga membuat saya ingin membagi kepada Anda, kaum cendekia nan budiman sekalian.

Kisah orang-orang kalah yang kini memetik sukses juga dialami mantan Presiden Amerika Abraham Lincoln.

Tahun 1831 dia mengalami kebangkrutan dalam usahanya, disusul tahun 1832 dia menderita kekalahan dalam pemilihan tingkat lokal. Tahun 1833 dia kembali bangkrut.

Kesedihan terus bergelayut, tahun 1835 istri Abe meninggal dunia. Tahun 1836 dia menderita tekanan mental yang sangat berat dan hampir saja masuk rumah sakit jiwa. Tahun 1837, dia kalah dalam suatu kontes pidato.

Abe terus berjuang, tahun 1840, ia gagal dalam pemilihan anggota senat AS. Tahun 1842, dia menderita kekalahan untuk duduk di dalam kongres AS. Tahun 1848 pun ia masih kalah lagi di kongres.

Tahun 1855, lagi-lagi gagal di senat. Tahun 1856 ia kalah dalam pemilihan untuk menduduki kursi wakil presiden. Tahun 1858 ia kalah lagi di senat. Tahun 1860 akhirnya dia menjadi presiden Amerika Serikat.

Kisah tentang perjuangan ini juga ada di Batam. Andri misalnya, setelah di-PHK dari tampatnya bekrja di Mukakuning, dia langsung bangkit membikin Wartel. Namun gagal. Dia bangkit lagi membuka usaha Warnet. Gagal lagi.

Andri tak menyerah, dia kembali membikin usaha Apotek. Kali ini Andre berhasil, usahanya berkembang pesat hingga saat ini.

Teladan yang bisa dipetik dari kisah ini adalah; pikiran dapat mengubah takdir kita. Pikiran menentukan sikap, kemudian diikuti tindakan. Dari beragam tindakan atau ihtiar ini akan membuahkan hasil. Kumpulan hasil itulah yang disebut takdir.

Semua bermula dari pikiran. Pikiran positif akan berbuah positif, sedangkan pikiran negatif, berbuah negatif. Rekan saya seorang pengusaha pernah berkata seperti ini,

”Kalau saya hanya berpikir negatif (su-ud-dzon) pada anak buah, maka hanya akan menghasilkan keluhan dan rengekan. Waktu akan habis hanya untuk menghitung kejelekan anak buah yang bodoh, sudah aus, 'patah kaki' dan lain-lain.”

”Tapi kalau saya berpikir positif (husnudzon), maka akan membuahkan kegemilangan. Kekurangan anak buah akan mampu saya tutup dengan kelebihan anak buah yang lain. Matlamat pun akan lebih fokus lagi. Big think = big thing, small think = small thing.” bebernya.

Bertolak dari sini, pikiran positif inilah yang di masa krisis seperti saat ini penting dikembangkan. Krisis sudah terjadi, PHK tak terelakkan, lalu apa? Meratapi nasib, atau mengubah pola pikir seperti yang telah dilakukan Hsieh Kun Shan, atau Andri?

Namun untuk membangun semua ini memerlukan peran aktif pemerintah. Tak melulu diserahkan pada para motivator saja.

Didiklah masyarakat dalam mengambangkan pikiran positifnya, sehingga daya kreatifnya akan timbul. Dari sinilah mereka dapat berpikir seperti orang yang bisa bertindak, dan bertindak seperti orang yang bisa berpikir.

Yang paling penting, bagaimana mengubah pradigma mereka bahwa lapangan kerja itu bukan hanya di kantor, orang kerja itu bukan hanya yang pakai kemeja rapi, namun juga ada di sektor-sektor lain, seperti pertanian dan perikanan.

Tentunya hal ini harus dibarengi dengan tindakan pemerintah menggali peluang kerja baru yang bisa dimanfaatkan. Inilah yang namanya ”kail”. Dengan demikian, mereka tak lagi menumpuk lamaran di pintu-pintu pabrik dan kantor, juga akan terdidik menjadi wirausahawan andal.

Jika hal ini sejalan, maka peristiwa apapun yang terjadi, tak akan membuat masyarakat guncang. Pendahulu-pendahulu bangsa ini sudah berhasil keluar dari guncangan hebat, mental survive ini juga akan terus melekat hingga saat ini.

Sebagai uraian penutup, saya akan menyejikan humor segar ala Gus Dur. Ceritanya, saat krisis melanda Indonesia, Presiden Gus Dur mengutus stafnya untuk mempelajari bagaimana Amerika membangun ekonominya.

Setelah kembali, si utusan melapor pada Gus Dur. ”Pak Presiden, kunci sukses ekonomi Amerika karena mereka memiliki Goodyear, Goldsmith dan kawan-kawannya. Jadi akan susah kita tandingi.”

Mendengar ini Gus Dur hanya tersenyum, ”Ah, kalau hanya itu kita tak usah khawatir, karena kita masih memiliki Untung, Slamet dan kawan-kawannya juga!”

Oke deh Gus, toh Batam juga masih punya Andri dan kawan-kawannya juga.

----------
Intinya adalah jangan pernah menyerah dengan berbagai kegagalan yang pernah dialami, bahkan seberat apapun cobaan itu. Coba dan coba lagi!

Foto: Hsieh Kun Shan saat sedang melukis

Sabtu, 13 Desember 2008

Krisis Lagi

Seorang kepala sekolah di sebuah yayasan pendidikan di Batam, kebingungan setengah mati, karena akhir-akhir ini dia kerap mendapat surat lamaran kerja. Apa sebab? Karena semua pelamar itu tak memiliki latar belakang mengajar. Umumnya malah dari staf personalia.

Guna menjaga perasaan, serta siapa tahu mendapatkan “emas terpendam” rekan saya memanggil mereka satu-persatu. Dari hasil tes wawancara, semuanya bagus-bagus. Ada saja kalimat peneguh yang dipakai, “Saya suka mencoba tantangan baru Pak.” begitulah rata-rata.

Lidah bisa saja bohong, namun nurani belum tentu. Untuk itulah, ujian dilanjutkan ke tes psikologi. Hasilnya, ternyata memang tak bisa lagi diutak-utik lagi. Bakat mengajarnya tak ada.

Akhirnya, mereka pun kembali dipanggil. Sembari dijelaskan apa saja hasilnya, rekan saya mencoba mengajak bicara dari hati ke hati. Dari sini akhirnya terkuak sebuah fakta, bahwa memang mereka melamar menjadi guru karena tak lama lagi perusahaannya di Sekupang akan tutup. Lilitan krisis keuangan global, membuat perusahaannya tak mampu berproduksi akibat tak adanya pesanan.

Kisah lain, seorang mandor bangunan bercerita bahwa krisis keungan ini membuat kerjaannya menurun drastis. Banyak proyek perumahan mangkrak. Meskipun ada, kadang dia hanya dibayar cek mundur, dur dur dur.

“Nah, masalahnya untuk bayar karyawan saya kan tak bisa mundur Pak. Belum lagi harus menyumpai makanan sehari-hari,” ujarnya lirih.

Sementara itu, tetangga rekan saya sudah tak kelihatan lagi masuk kantor. Honda CRV terbaru miliknya setiap hari parkir di depan rumah. Padahal, beberapa bulan lalu, mesin mobil ini kerap meraung di pagi hari mengantar sang tuan yang berseragam rapi. Setelah pukul 18.00 mobil ini kembali pulang.

Belakangan juga diketahui, kantor tempatnya bekerja mulai mengurangi produksi. Nasib baik dia tak di PHK, cuma dirumahkan saja, karena dia masih memegang jabatan di perusahaan tersebut. Sementara anak buahnya sudah banyak di-PHK.

Dampak krisis keuangan global sudah menampakkan diri. Analisa dan ramalan akan adanya PHK besar-besaran dan tutupnya beberapa perusahaan besar, lambat laun terbukti.

Hingga bulan Desember ini, sudah 20 ribu tenaga kerja di PHK. Ini adalah angka PHK yang “direstui” Depnaker, di luar itu ada 42 ribu tenaga kerja.

Ini baru pemanasan saja, karena hal ini akan kian memuncak di tahun 2009 nanti, yang menurut Ketua Apindo Sorjan Wanandi pengangguran akan bertambah 1 juta orang.

Hal ini cukup masuk akal. Karena di negara semaju Singpura saja, tak jua lepas dari dampak krisis ini. Perdana Menteri Lee Hsien Loong pun mengakui, di tahun 2008 ini, negaranya menghadapi tahun pertumbuhan terburuk.

Demikianlah. Perlu waktu dan kerja keras tinggi untuk bangkit dari sumua ini. Pemerintah haruslah memiliki skema yang jelas untuk bisa bernapas. Apa antisipasinya? Apa skala prioritasnya?

Pertengahan Desember ini, Pemerintah SBY-JK kembali  mengucurkan uang untuk pelaksanaan kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).

Mulai bulan depan (2009), melalui Departemen Dalam Negeri, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp6,9 T yang akan dibagi ke 57.008 desa yang tersebar di 4.371 kecamatan di 264 kabupaten/kota dan 32 provinsi.

Sementara itu bagi rakyat kecil, khususnya para ter-PHK, memerlukan hati baja agar bisa bangkit. Hati yang teguh. Karena hati akan menjadi milik orang yang ingin dimilikinya. Perlu hati dan semangat baja untuk bangkit menyusun kembali neraca mimpi yang tercabik.

Motivator Mario Teguh pernah mengurai, ada empat semangat dalam diri manusia yang siap meledak. (1) Mimpi, (2) cita-cita, (3) rencana, 4 harapan.

Bermula dari mimpi akan sebuah kesuksesan, semua ini harus segera dituangkan dalam kerangka logis dan membangun kemampuan untuk menujunya. Hal inilah yang dinamakan cita-cita. Setelah cita-cita tergambar, disusunlah perencanaan yang nantinya akan memunculkan harapan.

Yang terpenting dari tingkatan ini adalah perencanaan. Karena mimpi tak akan bisa diwujudkan jika tanpa langkah ini.

Kemudian ada pertanyaan, bagaimana caranya bangkit? Darimana mulanya? Tentunya dari atas bumi yang kita pijak. Bukan di atas bumi yang dipijak orang lain.

Orang kadang sibuk membicarakan emas galian orang, dari pada sibuk menggali emas dari bumi yang dipijaknya.

Bangsa ini berhasil lolos dari tantangan seberat apapun, bangsa ini pula akan mampu bebas dari krisis keuangan ini.

Uraian penutup, rasanya tak lengkap kalau kita tak menertawakan krisis ini, karena memang sifat manusia suka mengetawakan bencana yang baru menimpanya.





Hal inilah yang rupanya mengilhami beberapa orang di dunia maya, memplesetkan logo merek-merek perusahaan terkenal dunia yang megap-megap diterpa krisis ini.

Misalnya saja, gambar bundar di samping logo LG diplesetkan menjadi wajah orang menangis. Bahkan mottonya yang semula berbunnyi Life Good, menjadi “Life Tough”.

Selain itu ada semboyan Nokia Connecting People, menjadi “Disconnecting People”. Citigroup, jadi “Cititrup”, Renault jadi “Default”.

Selanjutnya gambar apel pada Macintosh yang semula teriris rapi, menjadi apel yang hampir habis digerogoti. Logo mahkota yang tegak pada jam tangan Rolex juga dibikin meleleh.

Logo Dell dan Adidas juga dibuat berantakan, akibat ditendang ''krisis''. Belum lagi Chrysler yang diplesetkan menjadi Chrysisler, tulisan di logo Ford jadi “Fail”,

Good-year jadi Bad-year, Yahoo! jadi Yahooooo? Bahkan logo kuda jingkrak dalam Ferrari pun diganti keledai yang sedang berjalan murung.



motivasi motivasi


Kita bisa memilih untuk berdiam diri dan pasrah kepada nasib karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Atau kita mencari terobosan-terobosan baru yang dapat membuat ancaman “musibah” ini menjadi “anugerah”? Membuat “batu sandungan” yang dapat membuat kita terjatuh menjadi “batu loncatan” untuk meloncat dan melejitkan prestasi lebih tinggi?

Ada seekor kutu loncat, ditangkap dan dipelihara di sebuah kotak ukuran 10cm x 10cm x 10cm. Awalnya kutu loncat tersebut tiap meloncat pasti membentur langit-langit yang hanya setinggi 10cm. Lama-kelamaan, hari berganti ke hari, kutu loncat tersebut sudah bisa menyesuaikan dengan kotak setinggi 10cm tersebut. Loncatannya tidak pernah membentur langit-langit kotak lagi.
Setelah itu, kutu loncat tersebut dipindahkan ke kotak ukuran 1m x 1m x 1m. Apa yang terjadi? loncatan kutu loncat tersebut hanya setinggi 10cm walaupun sekarang langit-langitnya setinggi 1m dari dasar kotak.

================================================== =======

Billi PS Lim dalam seminarnya (Berani Gagal) mengatakan, Jikalau kita ingin maju, maka kita harus mencoba sesuatu. Dan untuk melakukan sesuatu itu selalu melibatkan resiko. Perkataan “Peluang” dalam huruf Mandarin sangat menarik, kata “peluang” ( Chi Hui) mengandung dua arti yakni Chi yaitu “Krisis atau masalah” dan Hui yaitu “Perhimpunan atau pertemuan”.

Krisis atau masalah yang berhimpun atau bertemu memberikan anda PELUANG. Arti kata ini mengandung arti yang hampir sama dengan apa yang pernah diucapkan oleh Albert Einstein “Terpuruk dalam masalah merupakan peluang hebat untuk kita”.


Keluar dari kotak! Masalah terkadang bukan seperti yang kita lihat (dengan sudut pandang sekarang). Jika terus mencari solusi dari masalah, mencari peluang dari krisis sekarang tapi tidak dapat-dapat, mungkin yang harus diubah adalah SUDUT PANDANG KITA (kotaknya aja kok )!

Sedikit perubahan di pikiran, bisa membuat perubahan besar di hasil.

Kamis, 11 Desember 2008

Perhatian Kecil

Semua kita pasti ingin menjadi pribadi menyenangkan dan mendapat simpati orang lain. Namun sayang kita kadang tidak paham bagaimana caranya. Atau memang, ego Anda terlalu tebal sehingga mengabaikan hal semacam ini.


Ada kalanya kita terjebak pada kesimpulan, bahwa simpati orang dapat dibeli dengan uang atau materi melimpah lain. Hal ini tak sepenuhnya benar, semua orang tak selalu, sekali lagi, tak selalu membutuhkan perhatian berupa pemberian uang dan materi melimpah tadi. Kadang perhatian kecil saja sudah lebih dari cukup.

Apalah artinya pemberian uang Anda, bagi orang semisal John Travolta? Di ”garasi” rumahnya terparkir tiga jet pribadi yang siap membawa sang artis ke mana saja. Atau, apalah artinya pemberian materi dari Anda, bagi orang semisal Sultan Hasanul Bolqiah yang semua dinding pesawat pribadinya bersepuh emas?

Dari sini muncul pertanyaan, apa sih perhatian kecil itu?

Setiap manusia memiliki pribadi yang unik. Di dalamnya ada hal-hal bersifat pribadi yang bila disentuh akan menimbulkan efek dan sensasi tersendiri yang membangkitkan memori-memori positif, kenangan indahnya, dan simpatinya.

Nah, melalui perhatian kecil ini kita coba menyentuhnya, tentunya sensasi pribadi yang bersifat menyenangkan atau mengharukan. Salah satu contohnya berupa cindramata atau ucapan perayaan, empati, atau hal-hal yang berhubungan dengan cinta dan hobi.
Bisa juga berupa pengakuan dan pujian kecil. Yang lebih sederhana lagi, seringlah mengucapkan terimakasih atau mendahulukan kata “tolong” di setiap kalimat perintah yang Anda ucapkan.

Contoh dekat mungkin dapat kita amati saat musim kampanye ini. Jangan heran, bila tiba-tiba Anda dapat SMS dari para caleg yang mengucapkan selamat hari raya atau semacamnya. Atau ada anggota dewan yang tiba-tiba mengayuh sepeda kumbang saat ngantor, karena saat itu, mereka coba menarik simpati Anda, melalui perhatian kecil ini.

Contoh lain, ada jendral di Jakarta (tak perlu saya sebut namanya) senang bukan kepalang saat seorang memberinya seekor ayam jago. Ada juga seorang menteri yang langsung akrab, ketika diberi ikan hias. Saking senangnya, pak mentri ini akan bersemangat saat ditanya tentang kabar ikan hiasnya dari pada isu politik.

Bahkan betapa seorang Samak Sundaravej, harus terguling setelah 5 bulan menjabat sebagai Perdana Mentri Thailand, akibat lupa daratan menerima “perhatian kecil” dari dua stasiun televisi setempat untuk menjadi host acara kuliner. Memang, Samak selama ini dikenal sangat hobi memasak.

Jika dipikir, seorang jendral berkuasa penuh dan mentri, apa yang kurang? Kekuasaan, hormat, pangkat lambang-lambang, status sosial, semua dia rengkuh. Namun, kenapa hatinya runtuh oleh seeokor ayam, ikan hias atau menjadi host acara kuliner? Inilah kesaktian perhatian kecil tersebut.

Hal inilah yang kadang lolos dari pengamatan kita. Umumnya kita mengira bahwa orang yang di puncak kekuasaan itu sudah mendapatkan segalanya, sehingga tak perlu lagi diberi perhatian. “Buat apa, toh mereka sudah lebih senang dan hebat dari kita.” Begitu?

Padahal mereka juga manusia biasa dengan homoludens dan homo simbollicum-nya. Mereka masih membutuhkan perhatian, pengakuan, bahkan pujian akan eksistensi dan prestasi dari lingkungannya.

Cuma cara dalam mengungkapkannya berbeda. Ada yang tak mampu, ada pula yang mampu mengendalikannya. Namun diakui atau tidak, di balik tingkah “jaim”-nya, hatinya kecilnya menjerit, “Pahami aku, hargai aku, akuilah aku, (atau bahkan) sanjung aku!”

Sayangnya, tak semua dari kita mendengar jeritan ini. Ada yang mendengar, namun tak paham bagaimana cara memberikan perhatian pada mereka, sehingga banyak terjebak pada hal-hal terlalu memuji, asal bapak senang dan sebagainya, sehingga sama saja dengan menjilat.

Jika orang “atas” saja masih memerlukan perhatian kecil semacam ini, apa lagi orang “bawah”, mereka tentu lebih memerlukan lagi. Jika dalam perusahaan, hal ini disebut “esteem” sub kelima piramida Maslow.

Esteem ini tak harus diberikan berupa bonus besar, atau piala-pialaan. Tepukan kecil di pundak saat bawahan bekerja atau senyum sapa, kadang sudah menjadi hal besar bagi mereka. Ini menandakan sebagai dukungan dan rasa hormat Anda.

Langkah semacam ini, tentu akan berdampak baik bagi atmosfir kerja. Jangankan manusia, bunga saja akan lebih mekar indah jika rajin diperhatikan dengan cara disentuh dan diajak berkomunikasi.

Nah, mulai saat ini marilah kita belajar tak pelit memberi parhatian kecil pada sesama. Kecil namun bermakna. Karena tak perlu alat berat untuk membuka pintu rumah, cukup gunakan kunci seukuran kelingking saja.

Namun memberi perhatian juga harus paham caranya. Kalau tidak, akan menjadi bumerang bagi kita. Maksudnya baik, malah berbuah buruk. Maksudnya mau menyuntuh dan berharap simpati, malah bikin kesal.

Misalnya baru-baru ini, pengguna jalan Batam Center bersungut-sungut karena jalan yang dilaluinya macet, gara-gara ada anggota DPRD Batam berangkat kerja mengayuh sepeda kumbang dengan kecepatan 5 km perjam, tapi masih dikawal mobil. Tentu saja macet!

--------------------------------

Berkaca dari semua ini, saya setuju langkah Ketua KPK Antasari Azhar yang menyimpan cindramata hadiah dari kepala daerah yang dia kunjungi, ke dalam museum gratifikasi. Karena kadang hal-hal kecil begini lebih berbahaya dari hal yang besar.

Saya juga sangat menyesalkan komentar pejabat daerah yang ngomong di koran-koran, saat mengetahui pemberiannya masuk museum gratifikasi. “Ah itu kan hanya hadiah kecil. Harganya juga murah.” Komentar ini menandakan, betapa si pejabat kurang memahami sesuatu.

Senin, 08 Desember 2008

Dunia Kekerasan

Agak miris juga menyaksikan betapa manusia Indonesia saat ini dibesarkan dengan cara-cara kekerasan. Kekerasan di mana-mana. Kekerasan sudah masuk ke segala lini.

Di pagi hari, di koran-koran sudah menyuguhkan berita kekerasan. Ledakan bom di mana-mana, penembakan di mana-mana, pembunuhan dengan beragam cara dan model. Mulai memotong-motong, hingga “memaket” lewat sungai dalam travel bag. Tak ada agi kehormatan yang tersisa.

Dengan alasan mengungkap fakta, semua tersaji tuntas dan dimuat secara vulgar. Darah, darah dan darah. Merah, merah dan merah. Masih belum cukup, kadang masih dibeberkan contoh bagaimana teknik membunuh orang dengan baik dan benar, lengkap dengan grafis dan gambar penunjang, berbalut alasan kronologis! Hebat!

Masih belum cukup juga, kata-kata amarah, carut marut, pun tersaji dengan besar dan jelas. Sehingga mudah dibaca dari jarak 10 meter sekalipun. “Ya bagaimana lagi, memang itu fakta yang diomongkan kok!” begitu alasannya.

Ah ya sudah. Nonton tivi sajalah, di sana banyak relaity show yang menyegarkan. Namun apa yang terjadi? Acara relaity show pun berlomba menyajikan ajang tinju amatiran.

Ada saja namanya, Termehek-mehek, Playboy Kabel Bersaudara, Kacau dan lain-lain. Semuanya memperlihatkan orang-orang marah, mereka memaki, mereka menghiujat lalu meninju. Arggghhhh…

Pindah channel ke infotainment, juga sama. Yang disajikan soal artis yang nilep uang, artis yang saling menjelek-jelekkan pasangannya karena mau cerai. Ada juga artis mabok, artis stress hingga bertingkah dan ngomong sembarangan, hingga artis yang kompakan menculik, menyekap, memukul dan melakukan pelecehan seksual terhadap rekan bisnisnya yang dituding menipu.

Ampun… Apa tak ada sih acara infotainmen macam channel E!. Di sana juga mengupas berita artis, namun yang dikupas soal prestasi dan peran sosialnya. Toh tetap juga menarik.

Ya sudah, nonton film kartun saja, Tom & Jerry atau, aha, Spongebob Squarepants, ini kan kartun lucu. Duh duh duh... lucu apanya, di sana tampak Jerry membawa palu besar lalu dipukulkan ke kepala Tom, traaakkkk.... Kepala Tom pecah. Spongebob juga sama. Dengan gunting raksasa yang dia pinjam dari Mermaid Man, dia memotong tubuh Squid Ward jadi dua, hingga otak dan isi perutnya keluar.

Pindah ke jalan raya, orang-orang saling umpat dengan klakson memekak telinga, ketika melihat kendaraan di depannya lambat berjalan, sedangkan lampu sudah hijau. Di sebrang jalan, sesama pengendara turun dari kendaraannya dengan tangan terkepal, karena kendaraannya bersenggolan saat akan menyalip.

Ya sudah lah. Mending ngajak anak nonton bola. Olahraga itu kan bisa membangun sportivitas dan menyehatkan. Tapi apa yang terjadi? Malah kian brutal. Di bangku samping seorang lelaki memaki dan terus memaki dengan kata-kata kotor karena jago yang didukungnya bertingkah tak sesuai yang dia harapkan.

Sementara di dalam lapangan, sesama pemain terlibat adu tendangan. Sasarannya bukan bola, melainkan badan masing-masing. Wasit datang, hendak melerai. Namun, malah dia yang dikejar lalu dilumpuhkan.

Melihat ini, giliran masing-masing suporter ikut turun lapangan, juga ikut menyerang. Tak hanya di dalam, kebrutalan mereka masih dilanjutkan ke jalan. Setiap pengemudi sedan dikompas, pedagang kecil diperas. Terminal dijarah, stasiun kereta juga dirambah. Brutal, brutal, brutal!

Lalu, ke manakah anak bisa lolos dari kekerasan? Ya udah di rumah saja. Tak usah baca koran, tak usah lihat tivi. Main game saja.

Ampun…. Lagi-lagi kekerasan. Lagi-lagi belajar cara membunuh. Di sana mereka menjelma sebagai Ragnarok, Naruto, Assasin Creed dan pasukan pembom Amerika.

Dengan joystik-nya, mereka menghajar, memenggal dan menembak lawan-lawannya dengan sadis. Di otaknya hanya ada perintah, bunuh, bunuh, bunuh atau kamu akan dibunuh!

Lalu mau kemana lagi? Sekolah? Ya sama saja. Di sana bertumbuhan gang-geng, yang mengatas namakan orientasi dan senioritas, siap mengompas dan memeras. Yang membangkang akan dihajar hingga tak tersisa lagi.

Ketika lawan di dalam sudah takluk, maka mereka akan ekspansi menaklukkan jago-jago sekolah lain. Tawuran…. Helm yang semestinya jadi pelindung saat berkendara, kini berubah jadi pelindung saat hujan batu menyerang.

Ikat pinggang yang semestinya melengkapi kerapian, kini berubah menjadi senjata pamungkas mematikan. Bentuknyapun tak lagi dari kulis, melainkan berbahan rantai baja dengan kepala besar berduri tajam, bak gladiator saja.

Aksi kekerasan ini terus mereka bawa ke kampus. Maka kampus yang semestinya menjadi tempat cendekia menggali ilmu dan menebar bakti ke masyarakat, menjelma menjadi benteng pertahanan dari serbuan berbalut alasan otonomi kampus.

Di kantor tak ada bedanya. Penghinaan, penistaan atas nama ketegasan atas nama motivasi (yang salah) terus berulang. Di rumah juga demikian, kekerasan atas nama peiuk nasi kian bertalu. Tak habis-habis.

Lagi-lagi kekerasan. Anytime, anywhere...

Semua sajian kekerasan ini tersaji berulang. Masyarakat mengerti, masyarakat tahu, masyarakat meresapi. Lama-lama terjadilah kognisi (struktur pemikiran) yang menjadi cetak biru saat mereka menghadapi situasi yang sama.

Kognisi ibarat kereta api di atas rel. Tak usah distir-stir, dia akan jalan sendiri, karena sudah tahu arahnya ke mana.

Jika kognisi kekerasan terjadi dalam diri manusia, mereka akan mencontoh apa yang telah dilihat dan rasakan di masyarakat. Misal, jika jalan macet ya harus mengumpat,
Jika di sekolah harus bentuk geng dn pakai sabuk besi, jika nagih pimpinan harus pandai sumpah serapah, belajar sombong dan bentak-bentak, jika mau nagih utang culik orangnya, sekap, siksa dan intimidasi, jika ingin membuhnuh orang, hajar dulu kepalanya lalu potong-potong mayatnya. Begitu?

Jika dulu Kabil anak Adam belajar “membereskan” Habil, saudaranya sendiri, dari seekor burung, manusia saat ini belajar menghabisi saudaranya dari manusia lain. Entah itu medianya lingkungan, televisi, koran dan lain-lain.

Jadi tak usah heran jika ada artis secantik Marcella Zalianty bertingkah brbar. Atau ada orang sekemayu Ryan, sanggup menjagal belasan lelaki di rumahnya, karena mereka telah belajar dari alam. Istilah orang Eropa, “tanah menaklukkan para penakluk.”

Sebab Lain

Beragam contoh di atas ini, merupakan segelintir sebab yang menjadi contoh generasi kita melakukan kekerasan. Selain pengaruh dari contoh di atas, budaya kekerasan ini tak lepas juga dari tradisi yang sudah lama dibangun, bahwa pahlawan itu adalah orang yang mahir bertempur. Bahwa kegagahan itu selalu identik dengan senjata tajam dan lain-lain.

Parahnya, seakan merestui, setiap daerah berlomba memajang senjata tajam sebagai lambang resmi pemerintahannya. Ada badik, rencong, kujang dan lain-lain. Mirip lambang legiun tentara saja. Apa tak ada yang lain, yang lebih indah dan menyejukkan?

Selain beberapa contoh dari pengaruh di atas, kekerasan juga terjadi akibat ketidak adilan. Mereka tak puas, mereka mau melawan, mereka mau bersuara, namun tak berdaya. Tiap ada yang nekat langsung dibungkam. Insting kritis sudah tak tersalur lagi.

Jika ada beda pendapat langsung dihadapi dengan kekerasan, maka lama-kelamaan akan menyuburkan budaya destruktif. Budaya yang akan saling menghilangkan dan menghancurkan. Ujungnya akan menjadikan sebuah tatanan zero sumbeam, negatif sumbeam.

Mestinya kita harus belajar mengatasi masalah dan perbedaan dengan pendekatan berbasis kasih sayang, bukan kebencian dan penistaan. Karena jika seperti itu, secara tak sadar kita telah mengisi peluru amunisi dalam pistol yang akan ditembakkan ke diri kita sendiri. Dipicu sedikit saja langsung meledak. Ibarat gunung berapi, karena terlalu banyak menahan panas lama-kelamaan meledak juga.

---------------------
Semua terikat hukum kausal. Siapa yang menebar angin, dia akan menuai badai.